Karma Cinta

Karma Cinta
Eksekusi Adnan


__ADS_3

Setelah sambungan singkat dari telepon terputus, dari masing-masing tempat terdengar suara ledakan bom, bom bunuh diri tepatnya.


Terjadi bersamaan ke tiga tempat, namun yang paling parah adalah kafe Syila, di kantor Kaisar juga rumahnya berhasil di gagalkan. Sosok mencurigakan langsung di bekukan oleh para bodyguard yang berjaga.


Kaisar kalang kabut mendengar kafe istrinya terkena ledakan, tersangka langsung tewas di tempat. Ia langsung pergi ke kafe. Begitu pula dengan Rana dan juga Jack.


''Sial!!'' umpat Kaisar berkali-kali. Rasa takut langsung menyelimutinya.


Beberapa saat kemudian.


''Di mana istriku?!!'' tanya Kaisar kepada orang-orang di sana. Bukannya mendapat jawaban orang-orang malah sibuk menangis dan saling memeluk. Di sana juga sudah terpasang garis polisi. Matanya menangkap sosok wanita yang dikhawatirkannya. Mereka bertiga langsung berlari mendekat di bawah pohon.


''Syila,'' Kaisar.


Dia langsung pergi dalam pelukan suaminya, rasa takut yang teramat, melihat para pengunjungnya banyak yang menjadi korban, korban cidera bahkan ada beberapa korban jiwa. Termasuk anak kecil berumur 7 tahunan yang sedang dalam pangkuannya. Tadi ia terkena ampas ledakan berupa pecahan kaca yang menghunus tubuhnya. Membuat Syila yang berada tak jauh darinya langsung membawanya menjauh, berharap lukanya tak parah. Ia terpisah dari Ibunya, Ibunya sudah tewas terlebih dulu ketika dia di parkiran motor, dan anaknya berlari menuju kolam ikan yang tak jauh berada di sana.


Syila menangis sejadi-jadinya, tubuhnya juga terkena goresan kaca yang pecah, serta puing-puing bangunan yang hancur. Tangannya berlumuran darah dari anak kecil itu. Rasa sakitnya tak ia hiraukan. Pikirannya bercabang dengan para pengunjung yang menjadi korban. Untung dirinya tadi berada jauh dari kejadian, hanya terkena imbasnya yang tidak terlalu parah.


''Maafkan aku Syila, maafkan aku sayang, aku tidak bisa menjagamu,'' di sela-sela pelukannya.


''Kai, mereka menjadi korban, dan anak ini tewas di pangkuanku, sebelumnya ia mencari Ibunya, ia ingin mengejar Ibunya yang sudah tewas,'' sesegukan ia dalam pelukan Kaisar.


Tenaga medis di datangkan begitu banyak untuk mengevaluasi para korban, sementara toko dan kafe Syila di tutup untuk sementara.


Kaisar juga membawa Syila ke rumah sakit karena pecahan kaca yang masih menancap di kulit tangan Syila butuh penanganan.


Semenjak kejadian itu, Syila menjadi enggan kemana-mana. Rasa takutnya begitu mendominasi. Walau dalangnya sudah di tangkap.


****

__ADS_1


Kaisar membuka pintu kamarnya, ia melihat istrinya duduk merenung di sofa menatap jendela kamarnya. Ia sentuh bahu wanita yang baru saja membalas cintanya itu.


''Semua baik-baik saja,'' lalu di kecup ujung kepala Syila.


''Mereka tewas di kafeku Kai,'' tatapannya kosong.


''Jeritan mereka, darah, tangisan, mereka bahkan tak mengenalku, tapi harus menjadi imbas karena dendam seseorang kepadaku,'' tutur Syila tanpa mengalihkan pandangannya.


''Kau tahu, Adnan akan di beri hukuman mati.''


Syila langsung menoleh menghadap Kaisar, ''Itu terlalu mudah untuknya, seharusnya hukumannya di buat sulit, seperti hidup enggan mati tak mau, banyak yang menjadi korbannya.''


''Aku tahu, tapi kita bukan mafia atau phsyco yang tega melakukan penyiksaan seperti itu. Kita serahkan saja pada hukum di negara, setelahnya biar Tuhan yang mengatur,'' hibur Kaisar.


***


Beberapa hari kemudian, Syila sudah siap dia menunggu Kaisar di ruang tamu. Sesaat ia terpana dengan penampilan Kaisar yang seperti itu.


Syila tersenyum, ''Sangat tampan, aku bahkan sedikit tidak rela kau keluar dengan pakaian seperti ini,'' Kaisar langsung merengkuh pinggang Syila dan mencium sesaat bibir yang kini terasa lebih sering memuji dan membuatnya berbunga.


Penampilan Kaisar yang memakai busana muslim lengkap membuat pesonanya semakin terpancar. Siapa sangka dia adalah suami yang begitu menyebalkan dulunya, namun sekarang itu berbanding balik.


Syila dan Kaisar akan menghadiri acara di sekolahan yang merangkap menjadi pondok. Mereka tamu utama dalam acara itu. Banyak orang tua dari murid yang langsung ingin mengucapkan rasa terimakasihnya. Bertema agama, maka ia memakai busana muslim lengkap. Setelah itu ia akan mengunjungi para korban ledakan bom. Memberikan sedikit bantuan, ganti rugi, dan memastikan pengobatan para korban sampai mereka pulih. Setelah itu mereka akan ke tempat eksekusinya Adnan.


Ya, hari ini juga adalah jadwal hukuman mati Adnan.


***


"Kau tak perlu ikut masuk, aku tak mau kau terus terbayang, ini sedikit mengerikan," Kaisar mencoba mengingatkan Syila. Di sana Rana, Lewis, dan Jack sudah menunggu.

__ADS_1


"Kan ada suamiku, jadi aku tidak perlu takut," hiburnya untuk Kaisar juga.


Mereka datang sebagai regu pendukung eksekusi hukuman mati Adnan. Sudah terhitung dua jam mereka di tempat yang akan menjadi tempat terakhir Adnan hidup. Regu penembak mengatur posisi dan meletakan 12 pucuk senjata api laras panjang di depan posisi tiang pidana mati dengan jarak 5-10 meter.


Adnan datang dengan di dampingi seorang rohanian, ia memakai baju baru berwarna putih, tatapan mereka bertemu, masih dengan tatapan kebencian. Jaksa Eksekutor memeriksa kembali pidana dan juga senjata yang akan digunakan.


Serangkaian tahap-tahap eksekusi dilakukan. Kini tangan Adnan dan kakinya di tali pada masing-masing tiang penyangga, matanya ditutup dengan kain hitam, lalu baju putihnya di beri tanda hitam tepat pada jantungnya. Yang mengartikan jika juru penembak harus menembak bagian itu.


Setelah beberapa saat, eksekusi mati dilakukan. Juru tembak, menembak tepat di jantung Adnan, membuat Adnan berteriak kesakitan.


"Syila!!!" teriak Adnan memanggil nama Syila seakan mengajaknya untuk mati bersama. Syila memejamkan matanya dalam pelukan Kaisar. Tim dokter memastikan ada tanda kehidupan atau tidak, jika masih maka akan dilakukan tembakan ke dua pada pelipisnya, sasarannya adalah otak.


Eksekusi selesai. Adnan tewas dalam hukum negara. Syila memang sangat takut, namun juga sangat lega. Setidaknya nyawa terbayar dengan nyawa. Walau bagi Syila itu seperti terlalu mudah untuk Adnan.


Tapi mengingat jiwa itu juga ada jiwa Adji, pria yang pernah begitu baik kepadanya, Syila menjadi sedih.


"Huftt, aku gemas, seharusnya yang menembak tadi aku saja, walau masih tahap pembelajaran dalam menembak, jika hanya untuk memusnahkan aku mampu," celetuk Jack yang sedari tadi diam.


"Sudah, jangan mengandai-andai, skill-mu dengan IT bukan dengan peluru. Kau pulang sana, tugasmu sudah selesai di sini," kata Rana.


"Kau mengusirku begitu saja? teman macam apa kau ini?!" sungut-sungut Jack.


"Iya, kau pulang saja sana," imbuh Kaisar.


"Hei kakak beradik yang sangat kompak, bagaimana denganmu Nona?" Jack mencoba mencari dukungan.


"Jangan bicara dengan istriku!" setelahnya Kaisar membawa Syila pergi menjauh. Jack diam di tempat. Dengan tersenyum bodoh, "Budak cinta!!"


"Bung! kau sangat posesif!" teriak Jack tanpa mendapat balasan dari Kaisar.

__ADS_1


Rana dan Lewis membawa Jack ke apartement Kaisar.


***


__ADS_2