
''Bodoh!!!'' kesal Dika yang melihat sosok pria hampir tidak sadar diri tergeletak di pinggir ranjangnya.
Ia membawanya pergi ke rumah sakit. Setelah mendapat perawatan dia akhirnya sadar juga.
''Kau?!!''
''Untuk apa kau datang?!'' tanya pria yang baru saja sadarkan diri itu.
''Kau pandai sekali, bisa menebak kedatanganku membawa suatu niat terselubung,'' Dika tertawa sinis.
''Cih...,'' jawab pria tadi.
''Kau masih menginginkan Syila bukan?'' mendengar nama Syila di sebut, pria itu langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih penasaran.
''Aku akan membantumu mendekatinya, jika perlu rusak kebahagiaan yang ia punya, tarik paksa Syila bersamamu!''
''Apa tujuanmu? bukankah kau juga menyukainya?'' tanya pria tadi.
''Hahaha, benar, hanya rasa sakit hatiku saat ini lebih besar, aku muak melihat dia bahagia bersama suaminya. Aku tidak menginginkan apapun, hanya satu hal, buat mereka bercerai!''
''Kenapa tidak kau lakukan sendiri?'' tanya pria itu lagi.
''Karena aku sudah menikah!'' santai Dika.
''Cihh, alasanmu tidak bermutu. Oke lah berhubung aku juga masih menginginkannya, aku akan melakukannya,'' seringai licik terbit.
****
Semenjak hari itu, Syila selalu mendapatkan teror berupa pesan atau telephone. Hanya berisi kalimat rindu dan cinta, namun itu sangat mengganggunya.
''Sayang, kau kenapa? panggilan dari siapa?'' tanya Kaisar selepas mandi, yang melihat Syila nampak gelisah.
''Entahlah Kai, hanya orang iseng, mungkin fans,'' Syila tertawa.
''Baiklah, jika sangat mengganggu, kau bisa memberitahuku, nanti biar aku yang urus,'' dengan mencium kepala Syila yang sudah terlepas hijabnya.
''Kemarilah!'' Syila mengambil handuk kecil dari tangan Kaisar, ia membantu mengeringkan rambutnya.
Beberapa waktu kemudian, Kaisar mengambil tangan yang berada di kepalanya itu untuk menghentikan aktifitasnya, ia menariknya untuk ikut duduk di sampingnya, ''Apa kau sudah mulai mencintaiku?''
Syila memalingkan wajahnya, ''Kemari, jangan mengalihkan pandanganmu, aku sangat menyukai matamu yang sekarang, sangat meneduhkan,'' kata Kaisar.
__ADS_1
''Cepatlah pakai bajumu, aku akan membantu Bibi menyiapkan makan malam,'' Syila berlalu begitu saja, Kaisar hanya melihatnya.
Ia pegangi jantungnya yang berdebar, ''Duda gila!'' sembari tersenyum.
****
Di tempat kerja, Syila mendapatkan sebuah kiriman, ia membukanya, betapa terkejutnya ketika melihat fotonya dengan Kaisar terbelah menjadi dua, bertaburan kelopak bunga mawar merah yang mulai mengering dan dengan bercak darah, ada sebuah tulisan, 'Aku menginginkamu.'
Sejenak Syila merinding sendiri, siapa yang melakukan ini. Tak ingin berlarut, Syila membuang kiriman tadi, dan berniat membantu yang lain.
Syila membantu di kafe, ia kini tengah menggantikan perkerjaan seorang kasir. Tak jauh dari sana ada sepasang mata yang menatap Syila penuh rindu dan damba.
***
Waktu pulangl sudah tiba, kini Syila sedang menunggu taxi yang entah mengapa terasa sangat lama sekali, Kaisar memberi kabar tidak bisa menjemput karena ada pekerjaan dadakan. Sedangkan vespanya ada di rumah Kaisar.
Syila duduk sendirian, hari sudah mulai petang, ''Kemana orang-orang? mengapa sepi?''
''Syila?!!'' suara bass yang terdengar berat dan serak itu mengagetkan Syila dalam lamunannya.
Syila menyipitkan matanya, menjangkau wajah pria yang sempat memanggil namanya. Ia menggenggam sebotol minuman, mata Syila membola, melihat siapa yang berjalan mendekat, ''Adji?'' tanyanya ragu.
''Hahaha, kau masih mengenalku rupanya? apa kabarmu, sayang? kau terlihat lebih cantik dari beberapa tahun lalu,'' sapa Adji dengan tawa sumbangnya.
Adji mendekat, ia mengamati penampilan Syila dengan seksama, ''Aku masih mencintaimu Syila, mari ikutlah denganku, aku sendiri saat ini, diriku hanya untukmu saja, hahaha,'' tertawa lepas dengan menepuk dadanya sendiri, membuat Syila semakin bergidik ngeri.
''Kau gila Adji!'' teriak Syila, ingin sekali kabur, tapi kenapa kakinya sulit di lgerakan.
''Iya aku gila!!'' teriaknya garang dan lantang.
''Maukah kau menjadi penawar kegilaanku, karena kau juga, aku menjadi gila, atau karena aku sudah tergila-gila denganmu,'' nampak berpikir lalu tertawa semakin menjadi.
Adji mencoba meraih tangan Syila, ''Menjauh!! aku tidak mau kau sentuh!!''
''Heh, sok jual mahal,''
''Syila, lihatlah aku, aku pria yang tersakiti dan menyedihkan, kenapa tidak ada empati darimu?'' benar-benar ngelantur. Dengan langkahnya yang sempoyongan Adji mencoba mendekati Syila, namun Syila mampu mengelak.
Syila mendorong tubuh Adji agar menjauh, entah karena dia mabuk berat atau apa, dorongan Syila terasa kuat untuk Adji sampai dia tersungkur jatuh di jalanan.
''Hahaha, Syilaaaa, kembalilah padaku, aku sungguuhh masiihh mencin, uhuk uhuk uhuk mencintaiii, muuuhh,'' napasnya tersenggal-senggal diiringi batuk, dia benar-benar sudah gila.
__ADS_1
Syila menjauh, dia mencoba berlari, apa selama ini yang menerornya adalah Adji, tapi kenapa?
Syila menemukan pangkalan ojeg, ia menaiki ojeg untuk pulang.
****
Disuatu bar, Dika memasuki tempat yang baru pertama kali ia kenal itu bersama temannya. Otaknya yang stres mengajaknya untuk kesana, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Dika menyesuaikan diri.
Dika meminum minuman beralkohol untuk pertama kalinya, baru sedikit sudah membuat kepalanya pusing, lalu memutuskan untuk pulang.
Di rumahnya, Dika langsung mendobrak pintu kamarnya, dilihatnya Laura sudah berada di dalam selimut, lalu terkejut disangkanya ada seorang pencuri.
''Dika? mengapa kau kasar sekali? aku mengira kau pencuri,'' namun Dika tidak memberi respon apapun. Dia terus berjalan ke arah Laura.
Laura menatap heran dengan Dika, ia mencium bau alkohol, semakin membuatnya heran, ''Kau mabuk?''
''Tadi ada tamu mengajakku minum, hanya untuk menghormatinya saja,'' bohong Dika.
Ia menatap Laura dengan penuh gairah. Dika langsung melancarkan aksinya, Laura yang mendapat perlakuan manis dari Dika tentu sangat senang, memang itu yang ia tunggu beberapa hari ini.
Mereka melakukan penyatuan, yang seharusnya sudah mereka lakukan jauh-jauh hari sebelumnya.
Rasa sakit yang Laura rasakan sudah terganti dengan rasa nikmat, sampai mereka hampir berada di puncak permainan, ''Ahhhh Syilaaa, ini nikmat sekali,'' ucap Dika secara tidak sadar langsung membuat Laura di bawahnya membelalakan matanya. Rasa sakit hati langsung menyusup di hati Laura.
''Lepaskan aku!!'' bentak Laura, hasrat yang menggelora mendadak mati begitu saja, setelah Dika salah menyebut nama.
Dika tak mengindahkan perkataan Laura, ia sedang menikmati sesuatu yang baru saja di kenali oleh tubuhnya.
Laura tak kuasa menahan tangisnya, bisa-bisanya Dika menyebut nama mantan tunangannya saat tengah melakukan hubungan dengan Laura.
Pelepasan sudah dilakukan oleh Dika, ia langsung terkapar memeluk Laura di sampingnya. Tak memperdulikan istrinya yang terasa remuk redam lahir dan batinnya.
Tak kuasa menahan lelahnya, Laura pun terpejam.
Keesokan harinya, Dika menggeliat, kepalanya masih sedikit pusing, ia tersenyum kala mengingat kejadian semalam yang ia kira adalah Syila, namun ia baru menyadari dengan pemikiran bodohnya. Mana mungkin Syila, ia melihat sosok wanita yang masih terpejam di sisinya, Laura.
''Apa yang kulakukan? apa semalam aku menyebut nama Syila saat melakukan dengan Laura?'' Dika mencoba mengingat-ingat ingatannya, namun ia benar-benar lupa detailnya.
''Laura, Laura, bangunlah,'' Dika membangunkan istrinya.
Laura terbangun, ia langsung memasang mode marah, air matanya pun terjatuh kembali.
__ADS_1
''Kenapa kau jahat sekali Dika?!'' Laura menghujam Dika dengan pukulan tangannya.