
''Sebelum Ayahmu sampai di rumah sakit, beliau sempat sadarkan diri, dan memintaku untuk melanjutkan perjodohan antara kau dan Kaisar, yang sebelumnya sudah kami bahas melalui telepon. Ayahmu sempat melihat Kaisar ketika ia menemuiku usai mengantarkanmu pergi kuliah untuk pertama kalinya waktu itu. Dan aku melihatmu dari foto-foto yang Ayahmu kirimkan. Jadi, ada tidaknya kecelakaan tersebut, Paman yakin kalian juga akan tetap menikah.'' Lanjut Tuan Mahendra.
''Apa ?!! Perjodohan ?!! Apa anak paman itu tidak ada yang mau ?!!'' Syila memandang remeh dan juga tak percaya, Ayahnya sudah menjodohkannya.
''Tentu banyak sekali yang mau. Hanya dia yang menolak. Kau tahu, dia hampir gila karena seorang wanita.'' Tuan Mahendra mengatai anaknya sendiri.
Sedangkan Kaisar masih tetap diam, mendengarkan apa yang ingin Ayahnya adukan kepada istrinya.
''Iya, Paman benar, anak Paman ini memang gila.'' Sahut Syila kemudian saat mengingat kejadian makannya.
Kaisar mengulum senyum lagi, mengerti alasan istrinya bicara begitu.
''Lihat Paman, dia gilakan ? Senyum-senyum sendiri.'' Tuan Mahendra terkekeh.
''Kaisar itu duda nak.''
Hah ? Syila tak percaya, dia dijodohkan dengan duda ? Apa dia mempunyai anak ? Syila perang batin.
''Kaisar juga menikah muda, namun baru setahun menikah, istrinya meninggal membawa calon anaknya yang berusia dua bulan karena suatu penyakit. Semenjak saat itu dia menjadi dingin kepada wanita, sudah banyak wanita yang kami kenalkan, namun tetap sama, dia menolaknya.''
''Sampai dia tidak sengaja bertemu gadis didaerah sini juga, di sebuah pantai ceritanya. Dia langsung jatuh cinta pada gadis itu. Namun sayang gadis itu sudah memiliki tunangan, Kaisarpun kembali terpuruk bahkan lebih buruk lagi. Dia sudah setengah gila.''
''Ayah cukup, Ibu memanggilmu !'' Malas Kaisar yang pasti akan menceritakan sisi buruknya.
Tuan Mahendrapun tertawa. Ia rindu sekali dengan putra bungsunya. Dia menjadi seperti orang lain saat kehilangan istri pertamanya. Tuan Mahendra berharap banyak pada Syila. Berharap dia bisa menerima putranya dan mampu mengembalikan Kaisarnya seperti dulu.
''Nak, bisakah kau merubah panggilanmu kepadaku, panggil aku seperti Kaisar memanggilku.'' Teriak Tuan Mahendra sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Syila.
Syila diam tidak menjawabnya. Masih terasa aneh memanggil orang lain 'Ayah'. Bahkan statusnya sebagai seorang istri masih terasa tabu bagi Syila.
''Ehemmm.'' Kaisar berdehem dengan keras, membuat Syila meliriknya.
''Haus.'' Kata Kaisar dengan mengelus lehernya.
Syila bergegas meninggalkan ruang tamu, Kaisar pikir ia pergi mengambilkan minum di dapur, tapi Syila pergi ke kamarnya.
'Sabar Kai sabar...' Ucapnya sembari mengelus dada namun juga dengan tersenyum.
__ADS_1
''Sayang ?'' Kaisar ikut masuk dalam kamar Syila. Namun tidak ada jawaban. Terdengar gemricik air dari kamar mandi. Kaisarpun menunggu sembari menelusuri isi kamar wanita muda itu.
Rapi, tujuannya pada rak buku yang ada disamping meja belajar Syila. Kaisar melihat-lihatnya. Lalu ia tertarik dengan figura yang bertengker manis didinding. Banyak sekali foto Syila dan para temannya. Matanya menatap tidak suka saat melihat foto Syila dengan seorang pria hanya berdua. Baru juga ingin menyentuhnya, suara Syila mengagetkan Kaisar, ''Jangan lancang Tuan, itu barang-barangku !''
Syila mendekat, ditatapnya dengan garang wajah yang terbilang tampan dan tubuh yang gagah dan tinggi itu, sehingga Syila harus mendongakkan kepalanya.
''Siapa yang mengijinkanmu masuk kamarku ?'' Dengan bersedekap dada.
Kaisar mendekatkan wajahnya ke wajah Syila, Syila semakin menunjukkan rasa tidak sukanya.
''Aku suamimu Nona, jika kau lupa. Apapun yang kau miliki itu juga menjadi milikku, termasuk kamar ini.''
Mata Syila membola mendengar ucapan Kaisar. Lalu Kaisar dengan sengaja meniup wajah Syila, membuat mata yang nyaris keluar tadi terpejam, sembunyi dalam ruangnya.
Kaisar merebahkan dirinya diranjang Syila. Dia menguap, ''Aku mengantuk, sini kita tidur bersama.'' Ucapannya terdengar vulgar ditelinga Syila.
''Kau...'' Tunjuk Syila mendekati Kaisar namun terhenti kata-katanya saat Kaisar bicara.
''Semalam aku tertidur di lantai, badanku sedikit sakit. Kau tidak kasihan dengan suamimu ini ?'' Wajah yang dibuat memelas.
''Pergi.'' Jawab Syila ketus.
Kaisar melompat dari ranjang, menuju pintu, ia kunci pintu kamarnya dan ia kantongi kuncinya. Kaisar tersenyum penuh kemenangan.
''Apa yang kau lakukan ? Berikan kuncinya aku mau keluar.'' Pinta Syila.
Kaisar lagi-lagi hanya berlalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
''Temani aku !" Ia menepuk sisi ranjang, bermaksud agar Syila ikut tidur dengannya.
Syila sangat geram, duda gila !! Duda pemaksa !! Duda tua !! Umpatnya dalam hati sembari memejamkan matanya karena kesal.
''Kau sedang mengumpat suamimu ?'' Goda Kaisar.
Syila mendekat, ''Kau jangan berharap terlalu berlebih, pernikahan kita ini terjadi atas dasar paksaan dan tanpa melibatkan perasaan. Aku tidak ingin mempunyai hubungan apapun pada pria manapun. Termasuk pria sepertimu !'' Ucap Syila penuh penekanan.
Ada yang teriris dan sakit disisi dadanya, namun Kaisar hanya diam menahan. Tanpa dasar perasaan bagaimana, dia mencintai Syila sangat mencintainya. Namun belum saatnya ia mengatakan semua. Ia akan berusaha mengambil hati gadisnya itu dulu.
__ADS_1
Kaisar memejamkan matanya, acuh kepada Syila yang terus meminta kunci kamar. Syila tidak mau menyebut namanya, bahkan untuk menyentuh pakaiannya pun enggan saat meminta kunci. Apa hatinya sebegitu bekunya. Rasa sakit yang bagaimana yang para pria itu berikan kepada Syila hingga dia menjadi gadis yang introvert.
Syila menyerah. Dia duduk dimeja belajarnya, meraih ponselnya, bermain dengan benda canggih itu.
Lama-lama bosan dan mengantuk juga. Syila tertidur dimeja belajarnya.
Kaisar terbangun, mendekati Syila, 'Aku pasti bisa mendapatkan hatimu. Jangan berharap bisa lepas dariku Arsyila Putri. Aku hanya perlu bersabar dan berusaha untuk mengikis jarak juga untuk mengobati hatimu.'
Kaisar mencoba memindahkan Syila ke ranjang dengan sangat pelan takut membangunkannya. 'Tidurlah, mulai saat ini aku yang akan menjadi perisaimu. Seperti yang kujanjikan pada Ayah dan Ibumu.'
Kaisar mengecup singkat kening Syila dan berlalu keluar kamar.
''Ayah !!'' Kaisar terkejut mendapati Ayahnya didepan pintu kamar Syila. Ia memicingkan matanya.
''Apa ? Kau mencurigai Ayahmu sendiri hah ?!!'' Tahu dengan arah pemikiran putranya.
''Ayah dan Ibu harus pulang besok.''
''Kenapa mendadak sekali ?'' Tanya Kaisar, mereka sembari berjalan menuju sofa ruang tamu.
''Klien Ayah mendadak memajukan pertemuannya, Ayah harus hadir, ini tender besar, kakakmu sedang ada pekerjaan lainnya.'' Jelas sang Ayah.
''Ibu juga ikut ?'' Tanya Kaisar.
''Pertanyaan apa itu ? Jelas ikut, jika tetap disini dia akan kesepian.''
''Bukankah Ayah yang kesepian.'' Sarkas anak bungsunya. Yang mendapati tatapan tajam dari sang Ayah.
''Dimana istrimu Kai ?'' Ibu Lulu bertanya.
''Dia tidur Bu,'' jawab Kaisar.
''Ibu rasa dia anak yang baik dan manis, kau harus berjuang lebih kuat lagi untuk mendapatkan hatinya. Dia pasti masih sangat marah padamu, yang secara tidak langsung ikut serta membuat orangtuanya kecelakaan.''
''Doakan saja Bu.''
Setelah itu kedua orangtua Kaisar berbenah barang-barang mereka yang memang tidak banyak.
__ADS_1