
Ailee mengerutkan dahi, mendengar pertanyaan dari pria dingin yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Gadis itu tak langsung menjawab, tapi pikirannya justru berkelana kemana-mana.
'Benarkah Om Ge, cemburu?' Duh, senengnya aku kalau beneran dia cemburu padaku,' monolog Ailee, dalam diam.
Tentu saja gadis berhijab yang sudah mulai memiliki rasa pada Gilang tersebut sangat senang, jika benar apa yang dia pikirkan.
"Ai!" Malah melamun!" protes Gilang seraya mengibaskan tangan di depan wajah Ailee.
"Eh ... iya, Om. Om Ge tanya apa, tadi?" Ailee menoleh ke arah Gilang, hingga kedua netra mereka saling bertemu.
Ailee terpukau menatap netra elang Gilang, gadis belia itu sampai lupa cara untuk bernapas. Sementara Gilang pun sama. Pemuda tersebut sampai lupa cara untuk berkedip.
"Ehem." Suara dehaman Erlan, membuyarkan semuanya.
Gilang langsung membetulkan duduknya, kembali menjauh dari Ailee. Sedangkan Ailee membuang pandangan ke luar jendela kaca. Melihat lalu lalang kendaraan yang berebut ingin menjadi yang terdepan.
Hening, menyapa kabin mewah mobil tersebut. Tak ada yang bersuara, termasuk Erlan yang biasanya suka bercanda.
"Ai, Gilang tadi tanya. Sedekat apa hubungan kamu sama Satria?" Pertanyaan Erlan, mengurai keheningan.
Gilang mengerutkan dahi, menatap sang kakak sepupu melalui pantulan rear vision mirror.
"Kenapa, Ge? Terkejut mengetahui kalau aku bisa dengar pertanyaan kamu, padahal kamu sudah berbisik?" Erlan terkekeh pelan.
"Ck! Nguping aja kamu, Bang!" Gilang berdecak kesal.
"Buruan jawab, Ai. Jangan buat Ge mati penasaran!" saran Erlan.
Gilang semakin dibuat kesal dengan candaan kakak sepupunya tersebut.
"Garing!" olok Gilang, membuat Erlan semakin terkekeh senang.
Ailee kemudian kembali menoleh ke arah Gilang. "Beneran, Om Ge pengin tahu?" tanya Ailee, seraya tersenyum menggoda.
Semalam, ketika ngobrol bersama sang oma di taman samping, omanya Gilang kembali memohon pada gadis belia tersebut agar mulai merayu sang cucu yang dingin pada wanita karena trauma dengan pernikahan kedua orang tuanya.
Pernikahan yang berakhir tragis, tepat di depan mata Gilang dan menyisakan kesedihan, kekecewaan serta dendam yang tak berkesudahan.
Ailee pun menyanggupi dan berjanji pada dirinya sendiri untuk mulai membuka hati. Dia juga berjanji pada sang oma, akan berusaha membuka hati pemuda dingin sedingin salju tersebut agar bisa menerima kehadirannya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak keberatan," balas Gilang seraya menyipitkan mata. Pemuda itu terlihat kesal pada Ailee karena gadis belia di sampingnya itu seolah sengaja mempermainkan dirinya.
Ailee tersenyum. "Sangat dekat, sih, Om. Kalau dibilang sedekat sahabat, enggak juga karena kami tidak bersahabat. Kalau di bilang lebih, Om Ge bisa tanya langsung sama Bang Sat, deh. Ai bingung jawabnya," balas Ailee, kemudian.
Jawaban tersebut membuat Gilang menghela napas panjang, merasa tidak puas dengan jawaban Ailee.
Tadinya Gilang berharap, gadis belia itu bakalan mengatakan seperti semalam ketika berada di hadapan sang oma, bahwa yang didekati Gilang adalah teman sebangkunya dan bukan dirinya.
Sejenak, bangku belakang kembali sepi.
Ailee kembali menoleh ke arah jendela kaca. Gilang pun melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba Ailee menggeser duduknya, sedikit lebih mendekat ke arah Gilang. Membuat Gilang langsung menoleh ke arah gadis berhijab tersebut dengan dahi berkerut.
"Om Ge cemburu ya, sama Bang Satria?" bisik Ailee, bertanya dengan polosnya.
Tanpa Ailee duga, Gilang tergelak mendengar pertanyaannya.
"Pede sekali kamu, Nona," cibir Gilang, mencoba menutupi perasaan yang sesungguhnya.
"Harus pede, dong," balas Ailee penuh percaya diri.
"Apa menurut kamu, aku cemburu?" tanya Gilang yang kembali dingin.
"Maaf, Om. Ai bukan dukun yang bisa menebak isi hati seseorang." Ailee membalas tatapan mata Gilang, tak kalah tajam.
"Terserah, Om Ge cemburu atau tidak pada Ailee. Hanya saja karena Ai sudah menyetujui perjodohan kita dan berjanji pada oma, maka Ai akan berusaha ...."
"Ai, kamu turun di sini saja, ya." Ucapan Erlan, menghentikan perkataan Ailee.
Rupanya, mobil mewah yang dikendarai Erlan telah tiba di area gedung perkantoran milik Gilang dan pemuda tersebut bermaksud menurunkan Ailee di dekat pintu gerbang, agar gadis tersebut tidak mengetahui siapa sejatinya Gilang.
Ya, Erlan dan sang oma masih ingin merahasiakan semua ini dari Ailee. Hal ini semata untuk membuka mata Gilang, bahwa Ailee benar-benar gadis yang berhati tulus.
Bukannya gadis yang ambisius, yang menerima perjodohan karena tahu bahwa Gilang adalah seorang CEO dari perusahaan besar seperti GCC.
"Iya, Bang. Kebetulan, itu ada teman Ai," ucap Ailee yang kemudian membuka pintu mobil.
Ailee yang sudah hendak turun, mengurungkan niat dan kemudian menoleh ke arah Gilang dan Erlan, bergantian.
__ADS_1
"Terimakasih Om, terimakasih Bang, atas tumpangannya," ucap Ailee.
"Maaf, nanti pulangnya Ai bareng kalian lagi atau gimana?" tanya Ailee, memastikan.
"Kita bareng lagi, Ai. Nanti aku telepon, ya," balas Erlan. "Kasih saja nomor ponsel kamu pada Ge," lanjut pemuda yang duduk di bangku pengemudi tersebut.
"Ai enggak punya ponsel, Bang," balas Ailee seraya menatap Erlan melalui pantulan kaca spion. Gadis belia tersebut mengatakan yang sejujurnya.
Gilang mengerutkan dahi, tak percaya dengan perkataan Ailee. Begitu pula dengan Erlan.
"Kalau memang enggak mau kasih nomornya, oke, enggak masalah. Nanti, tunggu saja kami di tempat ini," ucap Gilang.
"Bukan enggak mau, Om, tapi Ai beneran enggak punya ponsel," balas Ailee, meyakinkan.
"Ya, sudah. Nanti Ai akan tunggu kalian di sini," lanjut Ailee yang kemudian segera turun tanpa berkata-kata lagi.
Meninggalkan Gilang dan Erlan yang menatap kepergian Ailee, hingga punggung gadis belia yang pembawaannya selalu ceria tersebut, menjauh.
"Bang, nanti kita pulang lebih awal dan mampir ke counter ponsel untuk membeli ponsel," pinta Gilang.
Perkataan Gilang membuat Erlan tersenyum lebar. "Akhirnya, kamu sudah menemukan seseorang yang dapat membuka gembok hatimu, Ge," ledek Erlan, terkekeh pelan.
"Siapa? Dia maksud Abang?" tanya Gilang, pura-pura tak mengerti.
"Enggak banget! Masak aku sama gadis kecil itu!" sangkal Gilang.
"Sampai kapan kamu akan terus membohongi perasaan kamu, Ge?" tanya Erlan yang sudah dapat menebak isi hati Gilang untuk Ailee.
"Jangan bohongi perasaan kamu, Ge. Sudah saatnya, kamu membuka diri dan mengikuti apa kata hati kamu," sarannya kemudian.
Asisten pribadi Gilang tersebut mulai melajukan kembali mobilnya, untuk menuju area parkir khusus.
Sementara di bangku belakang, Gilang bersiap-siap. Pemilik perusahaan besar Gilang Chandra Corps tersebut memasang dasi di leher, mengenakan jas dan kemudian menutup wajah dengan masker.
Pemuda yang senantiasa bersikap dingin pada wanita itu kemudian menghela napas panjang. Mencoba mencerna perkataan sang abang.
Benarkah bahwa selama ini, dia tidak jujur pada diri sendiri?
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1