Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Rujak Buah Nestapa


__ADS_3

Gilang turut bahagia dengan kabar yang baru saja dia dengar tentang sang abang sepupu. Pemuda tampan itupun segera kembali ke villa setelah pertemuan singkat bersama kedua orang tua Erlan dan orang tua calon tunangannya. Gilang langsung menuju kamar untuk menemui sang istri dan menyampaikan apa yang sudah dia dengar, baik dari Erlan yang menyatakan bahwa sang abang sepupu akan tetap tinggal di sana dan juga tentang rencana dadakan dari para orang tua.


Ailee yang tengah berbaring mengistirahatkan tubuh, turut merasa lega mendengarnya kabar dari suaminya. Tentu Ibu hamil muda itu sangat senang karena akan memiliki teman yang seusia untuk berbagi cerita. "Alhamdulillah ya, Mas. Ai turut senang mendengarnya," ucap Ailee dengan netra berbinar. Istri belia Gilang itu kemudian beringsut dan duduk sambil bersandar pada sandaran ranjang.


Gilang mengangguk. "Kamu tidak akan pernah kesepian jika aku bekerja, Sayang," timpal Gilang yang kemudian ikut duduk di samping sang istri.


"Benar, Mas. Ai punya teman ngobrol banyak sekarang. Ada oma, mama, dan sebentar lagi tambah Mai." Wanita cantik itu tersenyum dan kemudian menyandarkan kepala di bahu kokoh sang suami.


Keheningan sejenak menyapa kamar yang ditempati sepasang suami-istri yang tengah berbahagia tersebut. "Acara pertunangan Bang Er masih satu jam lagi. Mau tidur dulu atau mau jalan-jalan di sekitar sini?" tawar Gilang dan Ailee menggelengkan kepala.


"Ai enggak pengin kemana-mana. Penginnya seperti ini aja, dimanja sama Mas," balas Ailee dengan suaranya yang merajuk.


Gilang tersenyum. Pria tampan itu kemudian mencium puncak kepala sang istri. "Dengan senang hati aku akan melakukan apapun yang kamu mau, Sayang," ucap Gilang.


"Benarkah?" tanya Ailee seraya menegakkan punggung. "Kalau gitu, Ai mau, dong, dibuatkan rujak buah sama Mas," pintanya kemudian.


Gilang mengerutkan dahi. "Ya jangan yang aneh-aneh juga, Yang. Ini 'kan bukan di rumah kita sendiri. Ya kalau persediaan buahnya ada, kalau enggak 'kan harus keluar pulau dahulu untuk membeli," tolak Gilang, mencoba memberikan pengertian.


"Tadi katanya mau melakukan apapun untuk Ai." Wanita yang tengah hamil muda itu merajuk dengan bibir mengerucut.


"Ya maksudku, melakukan hal lain, Yang. Misalnya, memijat kaki, mengelus perut kamu atau menengok anak kita," balas Gilang seraya terkekeh kecil, mencoba bercanda dan mencairkan suasana.


"Itu 'kan maunya, Mas. Ai enggak mau. Ai pokoknya mau makan rujak sekarang!" rajuk Ailee dengan netra berkaca-kaca, membuat Gilang menjadi tidak tega.

__ADS_1


"Oke-oke. Mas akan buatkan rujak untukmu," sanggup Gilang. "Kamu tunggu di sini saja, ya," lanjutnya.


"Enggak mau! Ai mau ikut. Kalau Ai nunggu di sini, yang ada Mas nyuruh orang lain untuk membuatkan," tolak Ailee yang segera beranjak hendak ikut keluar.


Gilang hanya bisa menghela napas panjang. Pemuda tampan itu kemudian menggandeng tangan sang istri keluar dari kamar. Gilang mengedarkan pandangan, mencari-cari barangkali ada yang bisa menolongnya.


Ruang tengah nampak lengang. Tidak ada siapa-siapa di sana. Barangkali semua anggota keluarga sedang beristirahat di kamar masing-masing untuk persiapan acara nanti sore hingga malam.


Gilang kemudian mengajak istrinya untuk keluar dari villa tamu yang besar tersebut. Villa dua lantai yang terdapat banyak kamar di sana. Baru saja keluar dari pintu, sekelebat bayangan Satria bersama seorang gadis melintas.


"Sat!" seru Gilang, menghentikan langkah sang keponakan.


Satria kemudian menoleh ke arah sumber suara. "Ada apa, Om? Apa Om mau ikut kami ke taman samping? Di sana tidak terlalu panas meskipun matahari masih tinggi karena pohonnya besar-besar," tawar Satria, menjelaskan.


Gadis remaja itu menganggukkan kepala seraya tersenyum manis pada Ailee. "Benar, Kak. Ayo, kita ke sana. Mau bikin es kelapa muda," timpal gadis remaja yang bernama Jelita, adik sepupu dari calon tunangan Erlan.


"Boleh-boleh," sambut Gilang, senang. "Kalau sambil rujakan, lebih enak kali, Dik. Ya 'kan, Sat?" Gilang memberikan kode pada sang keponakan, setelah menatap Jelita.


"Bener banget itu, Om," sahut Satria yang mengerti bahwa istrinya sang om pasti sedang menginginkan makan rujak buah. "Jeje cantik mau enggak, makan rujak?" Satria lalu menatap sang gadis seraya tersenyum manis, membuat gadis remaja itu, tersipu malu.


"Oke, Jeje akan ambilkan buah dan bahan-bahan yang diperlukan. Bang Sat bantuin Jeje, ya," pinta Jelita dengan suaranya yang manja.


Satria dan Jelita kemudian kembali ke villa keluarga remaja cantik tersebut. Sementara Ailee menyikut sang suami. Gilang tersenyum kemudian begitu mendapati tatapan protes sang istri.

__ADS_1


"Mereka 'kan hanya menyiapkan bahan-bahannya, Sayang. Aku janji, nanti aku yang akan membuat bumbunya. Apa, sih, yang enggak buat kamu dan calon buah hati kita." Gilang mengusap lembut perut rata sang istri, membuat Ailee ikut tersenyum kemudian.


Setelah beberapa saat menunggu sambil duduk di ayunan yang berada di bawah pohon besar, Satria dan Jelita nampak mendekat. Jelita membawa sekeranjang buah-buahan segar. Sementara Satria membawa peralatan lain yang disimpan di dalam baskom, lengkap dengan sebotol besar air untuk mencuci buah.


Mereka berempat kemudian menuju ke taman yang berada di sisi timur dari deretan bangunan villa. Di sana, sudah ada beberapa remaja yang merupakan adik-adik Satria dan juga saudara-saudara Jelita. Termasuk abangnya Jelita yang tidak membiarkan sang adik lepas dari pengawasannya dan digoda oleh Satria.


Mereka nampak sudah sibuk mempersiapkan membuat es kelapa muda. Ada yang menyerut daging kelapa, ada pula yang menyerut gula merah sebagai pemanis. Para remaja yang nampak sudah akrab itu, melakukannya dengan bercanda ria.


Satria lalu memperkenalkan Om dan istrinya itu pada saudara-saudara Jelita. Setelah perkenalan singkat, masing-masing kembali sibuk untuk membuat es kelapa muda. Sementara Satria dan Jelita mulai membongkar apa yang dia bawa.


"Mau bikin apa, sih, Bang?" tanya Kukuh.


"Tuh, bumil. Lagi pengin rujak buah," balas Satria tanpa menoleh ke arah Ailee karena takut kena semprot sang om. Lagipula, ada hati yang kini ingin dijaga Satria dan sedang dalam tahap pendekatan.


Ailee kemudian mengambil peran. Dia memilih mengupas buah-buahan karena sang suami sudah berjanji yang akan membuatkan bumbunya. Gilang pun mulai meracik bumbu.


"Om, takaran garamnya kebanyakan kalau segitu!" protes Reno ketika melihat omnya menyendok setengah sendok teh garam halus dan dimasukkan ke dalam cobek yang terbuat dari kayu.


"Gula merahnya 'kan banyak, Ren, biar imbang garamnya juga harus banyak, kan?" kekeuh Gilang yang tidak pernah tahu bagaimana cara membuat sambal rujak buah. "Ini, tuh, bumbu rujak buah cinta, Ren. Jadi beda sama yang lain," lanjutnya berkilah karena tidak mau disalahkan oleh sang keponakan.


Satria tertawa mendengar perkataan sang om yang diucapkan tanpa rasa bersalah tersebut. Begitu pula dengan abangnya Jelita. Pemuda yang terkenal jahil di keluarganya itu lalu memberikan komentar.


"Bukan rujak buah cinta, Bang, tapi rujak buah nestapa. Kalau garamnya segitu, nanti yang ada Bang Gilang dan Kak Ailee jadi beser. Dikit-dikit pipis, dikit-dikit pipis. Pipis, kok, dikit-dikit. Yang banyak sekalian napa, biar enggak bolak-balik kamar mandi," celoteh pemuda tersebut, membuat yang lain ikut tertawa.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2