
Minggu berlalu, bulan pun terus berganti. Tanpa terasa hampir sembilan bulan telah terlewati. Selama itu pula, kehamilan Maida maupun Ailee, tidak ada masalah yang berarti.
Kini, Gilang dan sang istri tengah disibukkan dengan persiapan menyambut kelahiran buah hatinya. Sepanjang mencari keperluan untuk sang buah hati, Ailee hanya duduk di kursi roda sambil menunjuk barang-barang yang dia inginkan untuk bayi-bayinya. Janin yang berjumlah tiga dalam rahim, membuat perut wanita muda itu sangat besar hingga Ailee sedikit kesulitan menjalankan aktifitasnya.
Sebenarnya, Gilang sudah melarang sang istri untuk ikut berbelanja. Dia juga sudah menawarkan agar sang istri berbelanja online saja, tetapi Ailee bersikeras ingin belanja sendiri keperluan untuk anak-anaknya. Dengan telaten, ketiga keponakan Gilang mengikuti om dan istrinya itu memilih-milih popok untuk ketiga janin yang akan segera hadir di tengah-tengah mereka.
"Kak Ai, stroller untuk baby A yang warna biru aja, ya." Kukuh yang sudah siap untuk mengasuh salah satu anak Ailee dan Gilang, sudah memberikan nama panggilan untuk bayi yang masih bersemayam dalam kandungan Ailee. Remaja itu bahkan sudah memilihkan warna khusus untuk calon keponakannya.
Bukan hanya Kukuh, Satria dan Reno juga sudah menyiapkan nama panggilan untuk masing-masing keponakan yang akan mereka asuh. Baby B dan baby C. Gilang dan Ailee tidak keberatan dengan nama panggilan singkat tersebut.
"Sat, itu buat apa?" tanya Gilang ketika Satria yang cukup lama menghilang, tahu-tahu datang sambil membawa peralatan makan untuk bayi berwarna kuning.
"Untuk baby C, Om," balas Satria seraya menunjuk ke arah perut Ailee.
"Ya ampun, Sat, itu masih lama. Setidaknya, enam bulan setelah mereka lahir baru boleh dikasih makanan tambahan. Simpan lagi, sana!" titah Gilang.
"Kalau enggak dikasih bubur bayi, apa mereka enggak akan kelaparan, Om?" sahut Kukuh, bertanya.
"Kan dikasih asi, Kuh."
"Asinya 'kan cuma dua, sedangkan bayinya ada tiga. Terus, yang satu gimana, Om?" kejar Kukuh.
__ADS_1
Gilang menghela napas panjang, tidak habis pikir dengan pertanyaan sang keponakan. Sementara di tempatnya duduk, Ailee tersenyum geli sendiri. Sedangkan Kukuh garuk-garuk kepala, setelah menyadari pertanyaan konyolnya.
"Udah semua belum, Yang? Kalau udah, pulang yuk. Aku enggak mau kamu kecapekan, Yang," ajak Gilang kemudian.
"Sepertinya sudah, Mas. Gampanglah nanti kalau masih ada yang kurang, bisa minta tolong mama atau oma untuk membelikan," balas Ailee.
Mereka berlima kemudian pulang dengan membawa banyak barang belanjaan. Setibanya di rumah, Satria memanggil tiga baby sitter yang sudah disiapkan oleh Gilang untuk membantu sang istri mengasuh bayi-bayinya nanti. Ketiga baby sitter tersebut segera menyusun dengan rapi barang-barang belanjaan di kamar yang sangat luas, kamar khusus untuk calon anak-anak Gilang dan Ailee.
Sementara Gilang membimbing sang istri untuk beristirahat di kamar. Penuh kasih, pemuda dewasa itu memijat pelan kaki sang istri yang sedikit membengkak. "Sakit enggak, Yang?" tanya Gilang, lembut.
Ailee menggeleng dengan mata yang telah terpejam. Gilang tersenyum melihat wajah putih bersih sang istri. "Kalau ngantuk, tidur aja, Yang. Nanti kalau udah ashar aku bangunkan."
Gilang menggeleng. "Jangan dipikirkan, Sayang. Aku sanggup berpuasa dari sekarang. Aku enggak tega melihat kamu kesulitan melakukannya," balas Gilang penuh pengertian.
"Ai bantu dengan cara lain, ya," tawar Ailee kembali dan Gilang lagi-lagi menggelengkan kepala.
"Nanti kalau aku pengin, aku yang akan meminta padamu, Yang. Udah, sekarang tidurlah agar stamina kamu pulih." Dengan telaten, Gilang membetulkan letak bantal untuk ibu hamil agar sang istri tidur dengan nyaman.
Ailee tersenyum. "Makasih, ya, Mas. Kiss dulu, dong," pintanya manja.
Gilang terkekeh pelan. Pemuda tampan itu lalu menghujani sang istri dengan ciuman bertubi-tubi di wajah, leher, hingga bukit kembar istrinya yang semakin membesar. Hal itu membuat pemuda tampan itu bangkit gairahnya dan ingin melakukan lebih pada sang istri.
__ADS_1
"Sayang, aku mau," pintanya dengan tatapan berkabut dan Ailee mengangguk, setuju.
"Beneran, enggak apa-apa 'kan, Yang?" tanya Gilang, ragu. Tatapan Gilang lalu tertuju ke perut sang istri yang membuncit seperti gunung berapi yang siap meletus.
Ailee kembali mengangguk. "Dokter bilang 'kan, di trimester akhir itu bagus untuk memudahkan jalan lahir bayi, Mas."
Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, Gilang semakin bersemangat untuk memuluskan jalan bagi ketiga bayinya nanti. Cuaca yang panas di luar sana pada siang hari ini, tidak sepanas kamar Gilang dan Ailee. Mereka berdua berbagi peluh dan kenikmatan hingga kemudian sama-sama terlelap karena kelelahan.
Gilang terbangun ketika mendengar suara sang istri merintih kesakitan di tepi ranjang. "Sayang, kenapa?" tanya Gilang yang kemudian segera beringsut mendekati istrinya.
"Enggak tahu, Mas. Dari tadi rasanya mulas banget. Apa Ai udah mau melahirkan ya, Mas?"
"Belum genap sembilan bulan 'kan, Yang?" tanya Gilang dengan dahi berkerut dalam. Raut wajah pemuda tampan itu nampak mulai tegang.
"Kalau bayi kembar, kata dokter 'kan memang beresiko lahir kurang bulan, Mas. Apalagi di dalam, ada tiga. Pasti mereka berdesakan pengin segera keluar," canda Ailee mencoba mengurai ketegangan mereka berdua.
☕☕☕ bersambung .. ☕☕☕
Kuy, karya baru... mampir, yah 🥰🙏
__ADS_1