
Setelah membicarakan tentang bulan madu, mereka lalu makan siang bersama di ruangan Gilang. Makan siang dua pasangan itu pun diwarnai dengan canda tawa riang. Mereka semua nampak sangat berbahaya, setelah musibah yang kemarin sempat menyambangi keluarga kecil Gilang.
Sesekali, Gilang nampak menyuapi istrinya. Hal tersebut membuat Erlan tidak mau ketinggalan, dia pun menyuapi Maida. Kedua pemuda dewasa itu terlihat saling berlomba untuk menunjukkan kasih sayang dan perhatian pada istrinya.
"Bang, perkembangan perusahaan bagaimana?" tanya Gilang, di sela-sela makan.
"Alhamdulillah, sebagian besar sudah mulai aku kendalikan dari sini. Jadi, Mbak Erna sudah agak berkurang bebannya di sana," balas Erlan yang sudah mulai aktif menjalankan perusahaannya beberapa minggu yang lalu.
"Oh ya, Ge. Kakaknya Nesa, si Topan, kemarin dia meneleponku meminta pekerjaan. Bagaimana pendapat kamu?" tanya Erlan setelah menyuapkan setengah sendok nasi miliknya pada sang istri.
"Kalau menurutku, sih, tidak masalah ketika dia sudah menyesali perbuatannya dan benar-benar berubah. Setiap orang pasti pernah berbuat salah, Bang, dan tidak ada buruknya jika kita memberikan kesempatan kedua. Tapi ya, semua itu terserah pada Abang. Kalau misalnya diterima, aku harap Bang Er kudu waspada dan mengawasi Topan dengan benar," balas Gilang, panjang lebar.
"Kamu benar, Ge. Akan aku pertimbangkan," ucap Erlan seraya menatap istrinya dan Maida menganggukkan kepala, setuju.
"Benar, Bang. Sebaiknya, Abang selidiki lagi si Topan itu sekarang seperti apa? Jika memang ada peluang dan sesuai dengan kemampuannya, tidak masalah kita beri dia kepercayaan. Siapa lagi yang akan membantu dia kalau bukan temannya, Bang, seperti kita? Karena menurut cerita Kak Nanik, Topan ingin bisa berubah dan bebas dari jerat Nesa," timpal Maida yang selalu mendukung sang suami.
Obrolan sambil menikmati menu makan siang olahan Ailee, terus berlanjut. Hingga tanpa mereka sadari, semua yang tersaji di atas meja telah tandas tanpa sisa. Ailee dan Maida kemudian membereskan bekas makan lalu mencucinya di wastafel yang ada di ruangan tersebut secara bersama-sama.
Pemandangan indah tersebut membuat kedua pria dewasa yang tumbuh belasan tahun bersama, tersenyum dan kemudian saling pandang. "Nikmatnya jika tiap hari kita ditemani oleh bidadari cantik, ya, Bang," ucap Gilang yang disetujui Erlan dengan anggukan kepala.
Tatapan mereka kembali ke istri masing-masing yang masih asyik mencuci sambil bercanda ria. Kedua wanita itu tidak menyadari tatapan nakal dari suaminya. Hingga Ailee dan Maida menoleh, tatapan Gilang dan Erlan masih terpaku pada mereka berdua.
"Ada apa, sih, Bang? Kok melihat kami seperti itu?" tanya Maida, sembari mendekati sang suami.
"Sayang, balik ke kantor, yuk. Ruangan pribadi kita yang di sana, sudah merindukanmu," ajak Erlan seraya beranjak.
__ADS_1
Suara Erlan yang sengaja tidak dikecilkan, tentu dapat didengar dengan jelas oleh Gilang. Hal itu membuat pimpinan perusahaan GCC menekuk wajah kesal. Sebab, Erlan sepertinya sengaja pamer kemesraan.
"Kenapa wajah kamu kusut gitu, Ge?" ledek Erlan yang sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan Gilang. Pemuda ramah itu sudah melingkarkan tangan di pinggang ramping istrinya.
"Sana-sana, keluar!" usir Gilang, membuat Erlan semakin tertawa senang.
"Abang, ih, suka banget bikin kesel saudaranya," protes Maida seraya mencubit perut rata suaminya.
"Ai, kami pamit dulu, ya. Makasih untuk menu makan siangnya yang lezat," pamit Maida yang kemudian mencium sekilas pipi Ailee. "Kapan-kapan, kamu harus masakin menu itu untuk mommy dan daddy," lanjutnya.
"Siap, Mai." Ailee membalas lambaian tangan Maida yang kemudian keluar dari ruangan Gilang.
Wanita muda itu lalu menoleh ke arah sang suami. Ailee tersenyum melihat kekesalan Gilang. Dia kemudian mendudukkan diri di samping pemuda tampan yang merupakan suaminya.
"Memang sudah cukup lama, Yang. Terakhir kali, sebelum kita datang ke acara grand opening butiknya Aleena. Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti itu, Sayang?" Gilang menatap sang istri, keheranan.
Pemuda tampan itu mulai curiga. Jangan-jangan, ada yang disembunyikan oleh istri tercinta. "Sayang, apa kamu sudah bersih?" Tatapan Gilang lalu tertuju ke bagian bawah tubuh istrinya, hingga membuat wajah sang istri merona.
Pelan, Ailee menganggukkan kepala. "Tadi, sebelum ke sini, Ai sudah mandi suci," balasnya malu-malu, membuat Gilang semakin dibuat gemas dengan sikapnya yang malu tapi mau.
Tanpa banyak bicara, Gilang langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa Ailee ke ruangan pribadi. Ruangan kedap suara dengan ranjang super empuk untuk kenyamanan mereka berdua kala sedang memadu kasih. Perlahan, Gilang merebahkan tubuh Ailee ke atas kasur yang dibungkus sprei satin.
"Tunggu sebentar, Sayang. Aku mau bicara dulu sama Naomi agar tidak ada yang mengganggu kita." Gilang bergegas keluar untuk menemui sang sekretaris.
Setelah berpesan pada sekretarisnya bahwa siang ini dia tidak mau diganggu, pemuda berbadan tinggi tegap itu segera kembali untuk menemui Ailee. Meninggalkan Naomi yang tersenyum malu sendiri. Sebab, sekretaris seksi itu paham betul apa yang dilakukan oleh sang tuan di dalam sama bersama sang istri.
__ADS_1
Di dalam kamar pribadi, Ailee nampak sudah bersiap. Wanita muda itu telah melepaskan hijab yang selalu menutupi kepalanya. Ailee duduk di tepi ranjang dengan memasang wajah full senyuman.
Setelah sekian lama sang suami berpuasa, Ailee tentu mengerti kerinduan suaminya. Dia berjanji pada diri sendiri, akan memberikan servis terbaik untuk sang suami tercinta. Selain sebagai bentuk kepatuhannya pada suami, juga sebagai wujud rasa sayang Ailee pada suami yang selama ini sudah memberinya banyak perhatian dan cinta.
"Sudah bicara sama Naomi, Mas?" tanya Ailee lembut ketika melihat sang suami telah masuk kembali.
"Sudah, Sayang. Aman, tidak akan ada yang berani mengganggu kita," balas Gilang yang kemudian berdiri di hadapan sang istri.
Tanpa ragu, Ailee mulia melepaskan ikat pinggang sang suami yang tepat ada di hadapannya. Hal itu membuat Gilang sangat bahagia. Sebab, sang istri mengerti apa yang dia maui.
Pemuda itu sengaja diam dan membiarkan sang istri melakukan apapun padanya. Gilang juga hanya menatap wajah Ailee yang kini sudah berdiri dan mulai melepaskan kancing bajunya. Napas pemuda tampan itu mulai memburu ketika jemari lentik sang istri, menyentuh kulitnya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Gilang dengan tatapan berkabut gairah ketika tiba-tiba Ailee mengulum bulatan kecil di dadanya yang sudah polos tanpa penghalang.
Tentu saja istrinya itu tidak menjawab karena Ailee sibuk membangkitkan gairah Gilang. Pemuda tampan itu semakin menikmati apa yang dilakukan oleh istrinya, ketika jemari lembut Ailee memelorotkan celana bahan yang dia kenakan, berikut ****** ******** dan kemudian mengusap pelan miliknya yang mulai menegang. "Sayang, kamu semakin pintar," puji Gilang dengan suaranya yang berat menahan hasrat.
Siang itu, panasnya sinar mentari di luar sana, tidak mampu mengalahkan panasnya pergumulan dua anak manusia yang sedang melepas rindu dengan saling mendekap mesra. Kerinduan setelah cukup lama mereka larut dalam kesedihan karena kehilangan calon buah hatinya. Kerinduan akan segera hadirnya kembali buah hati di rahim Ailee yang akan melengkapi kebahagiaan mereka berdua.
"Aku berharap, benihku segera tumbuh kembali di rahim kamu, Sayang," bisik Gilang, setelah beberapa kali mereka berdua mengalami pelepasan.
"Hem ...." Hanya gumaman yang keluar dari bibir tipis Ailee yang kini telah terpejam karena kelelahan.
Gilang tersenyum lalu mencium kening istrinya. "Terima kasih untuk servis istimewa yang kamu berikan, Sayang. Tidurlah yang nyenyak dan pulihkan tenagamu karena nanti malam gantian aku yang akan memberikan servis istimewa untukmu."
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1