
Nelly mengeratkan pelukan pada tubuh Sindu. Dia nampak sangat khawatir jika laki-laki yang telah mengambil sesuatu berharga dan menebar benih di rahimnya itu, pergi meninggalkan dirinya. Wanita muda yang berprofesi sebagai baby sitter putra Sindu tersebut, terus saja menangis hingga membuat laki-laki yang baru saja menikmati tubuh Nelly, bingung sendiri.
"Kamu kenapa, Nel?" tanya Sindu. Ayah satu anak itu mencoba melepaskan jerat tangan Nelly, dari tubuhnya.
Wanita muda berseragam khusus tersebut kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku baju dan menunjukkan pada Sindu. "Aku hamil," ucap Nelly masih sambil terisak.
Ya, Nelly sudah membeli alat tes kehamilan mandiri beberapa waktu yang lalu ketika dirinya menyadari bahwa sudah dua minggu telat datang bulan. Wanita muda itu tidak langsung mengetes urinnya tetapi sengaja menunggu ketika Sindu sudah pulang dari berdinas di luar kota agar Nelly bisa langsung menunjukkan hasilnya.
Nelly sempat mengurungkan niat untuk mengetes urin ketika mendapati wajah masam Sindu saat dia menagih janji laki-laki itu untuk menikahinya tadi. Namun, perasaan takut jika benar dia hamil dan Sindu memutuskan hubungan secara sepihak sebelum laki-laki tersebut mengetahui bahwa ada janin yang kini tumbuh di rahimnya, membulatkan tekad Nelly untuk melakukan tes urin saat ini juga.
Wanita muda itu segera ke kamar mandi, begitu Sindu keluar dari kamarnya. Dan setelah mengetahui hasil tes urin, Nelly segera membawa benda pipih yang menunjukkan dua garis merah kepada Sindu yang tengah berada di ruang keluarga.
"Ini tidak benar 'kan, Nel?" Tangan Sindu gemetaran ketika menerima benda pipih tersebut dari tangan Nelly.
"Kamu tidak sedang menjebakku 'kan?" Laki-laki itu menatap wanita muda di hadapannya, dengan tatapan menuduh.
Nelly menggelengkan kepala, tegas. Sorot matanya memancarkan kemarahan, mendengar tuduhan dari sang kekasih gelap. Wanita muda itu tidak menyangka, laki-laki yang dia cintai tega menuduhnya tanpa perasaan.
"Ini anakmu, Mas! Aku hanya melakukannya denganmu!" Air mata wanita muda tersebut semakin deras mengalir.
Sindu terdiam. Tatapannya masih tertuju pada benda pipih di tangan. Pegawai di kantor perpajakan tersebut kebingungan harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini.
Hening menyapa ruang keluarga yang cukup luas di kediaman Sindu. Hanya sesekali terdengar isakan kecil Nelly yang terus membuang muka, tidak mau menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya. Wanita muda itu sangat kecewa dengan sang kekasih yang ternyata hanya memanfaatkan keluguannya semata.
"Aku pasti akan bertanggungjawab, Nel."
Ucapan Sindu mengurai keheningan dan terdengar begitu merdu di telinga Nelly. Wanita muda itu langsung menoleh ke arah sang kekasih dan senyuman manis terbit di bibir tipis baby sitter tersebut.
"Benarkah, Mas? Kapan, kapan Mas akan menikahi Nelly?" Binar bahagia terlihat jelas di netra wanita muda itu.
__ADS_1
Sayang, kebahagiaan yang Nelly rasakan ternyata semu. Harapannya untuk bisa menikah dengan sang kekasih, rupanya hanya angan Nelly semata yang tidak akan pernah diwujudkan oleh Sindu. Kekasihnya itu menggelengkan kepala dengan cepat, ketika dirinya menanyakan pernikahan.
"Maaf, Nel. Aku memang akan bertanggungjawab, tetapi tidak dengan menikahimu," tegas Sindu, membuat wajah Nelly kembali mendung.
Wanita muda tersebut menghela napas berat. "Lalu, jika tidak dengan menikahiku, bagaimana cara Mas bertanggungjawab?" tanya Nelly dengan suara bergetar.
"Aku akan mencari seseorang agar menikahimu dan aku akan membiayai semua kebutuhan kalian. Kamu bisa ...."
"Tidak, Mas!" sergah Nelly, memotong perkataan Sindu.
"Dengarkan dulu penjelasanku, Sayang," pinta Sindu dengan melembutkan suara, seraya menatap dalam netra Nelly. Tangan Sindu kemudian bergerak perlahan, menggenggam tangan kekasih gelapnya itu.
Nelly terhipnotis dan wanita itu mengangguk, patuh.
Sindu kemudian memeluk sang kekasih dan melabuhkan ciuman di kening Nelly. Laki-laki itu mencoba mengambil kembali hati Nelly dengan sikap romantisnya. Berusaha meyakinkan sang kekasih agar wanita muda yang merupakan selingkuhannya tersebut, setuju dengan rencana Sindu.
Benar saja, Nelly terbuai dengan sikap manis sang kekasih dan perlakuannya yang lembut. Nelly tidak menolak ketika Sindu kembali menggerayangi tubuhnya. Baby sitter tersebut bahkan membalas dengan segenap perasaan.
\=\=\=\=\=
Di rumah sakit. Aira dan sang papa nampak gelisah menunggu di depan ruang operasi. Sudah hampir dua jam berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda operasi akan berakhir.
Aira kemudian beranjak. "Pa, Aira mau telepon Mas Sindu dulu," pamitnya pada sang papa.
"Ada apa, Ra? Bukannya, tadi kamu sudah menelepon suami kamu?"
Pengacara itu menatap curiga pada sang putri. Sebab, tidak biasanya sang putri sulung menghubungi suaminya berkali-kali dalam satu waktu.
"Tadi ponsel Mas Sindu tidak bisa Aira hubungi, Pa," jawab Aira. Ibu satu anak itu kemudian segera berlalu dari hadapan sang papa.
__ADS_1
"Halo, Mas. Mas Sindu sudah sampai rumah belum, sih? Kenapa enggak menelepon aku?" cecar Aira begitu sang suami menerima panggilannya.
"Sudah, Ma. Belum lama, kok. Tadi pesawatnya delay," kilah Sindu, beralasan.
"Mas bisa ke rumah sakit sekarang enggak? Aina masuk rumah sakit dan saat ini masih di ruang operasi," pinta Aira, menjelaskan.
"Aina sakit apa, Ma?" tanya Sindu yang terdengar penasaran. "Bukannya beberapa hari yang lalu, dia sehat-sehat aja, ya?" lanjutnya, bertanya.
"Nanti aku jelaskan di sini, Mas," balas Aira.
"Maaf, Ma. Aku lagi kurang enak badan. Besok aja, ya, aku ke sana," tolak Sindu yang sedang pusing memikirkan cara bagaimana menghadapi masalahnya dengan Nelly.
"Ya udah, deh, enggak apa-apa. Mas istirahat aja dulu. Kalau butuh apa-apa, minta tolong sama Nelly dulu ya, Mas. Soalnya, aku belum tahu kapan bisa pulang. Operasinya belum selesai dan aku enggak tega jika ninggalin papa sendiri di sini." Aira nampak sangat khawatir
"Iya, Sayang. Udah, kamu fokus aja dulu sama adik kamu. Aku enggak apa-apa, kok. Paling cuma kecapekan," ucap Sindu, menenangkan sang istri.
Aira tersenyum mendengarkan perkataan suaminya yang penuh pengertian. "Oke, Mas. I miss you, bye," pungkas Aira yang kemudian menutup teleponnya.
"Apa suami kamu bisa ke sini?" tanya sang papa, mengejutkan Aira.
"Papa! Bikin kaget Aira aja!" protes Aira seraya memegang dadanya. "Sejak kapan, papa ada di sini?" tanya Aira kemudian, mengabaikan pertanyaan sang papa.
"Sejak pertama kali kamu bicara sama suami kamu," balas laki-laki berkumis tebal tersebut.
Laki-laki paruh baya itu kemudian menatap sang putri dengan dalam. Membuat Aira sedikit gugup karena khawatir sang papa mencium keterlibatannya dalam kasus sang adik meskipun dirinya tidak terlibat secara langsung, tetapi Aira adalah saksi kunci dari tragedi semalam.
"Kenapa suami kamu tidak bisa datang kemari?" tanya sang papa yang nampak menyimpan kecurigaan.
"Mas Sindu sedang tidak enak badan, Pa," balas Aira.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu pulang sana! Temani suami kamu!" titah sang papa yang tidak ingin dibantah.
☕☕☕ bersambung ☕☕☕