
Hampir saja malam pertama Erlan dan Maida gagal jika saja sang keponakan tidak dapat dicegah dan benar-benar meminta bantuan pada orang-orang yang berada di hall. Bisa dipastikan kedua pengantin baru itu akan malu setengah mati karena ulah Kukuh. Beruntung, remaja tersebut mau mendengarkan teriakan dan penjelasan Erlan.
"Oh, jadi ceritanya, Om Er lagi bikin adegan romantis kayak di film. Kukuh pikir Kak Mai sakit," ucap Kukuh tanpa dosa, seraya tersenyum nyengir.
Erlan menghela napas panjang dan kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Sementara Maida yang masih berada dalam gendongan sang suami, menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya. Istri Erlan itu merasa malu pada kedua keponakan sang suami yang usianya tidak jauh beda dengan dirinya.
"Kak Mai capek, Kuh, makanya om gendong," kilah Erlan yang segera melanjutkan langkah dan meninggalkan kedua keponakannya.
Mereka berdua dapat bernapas dengan lega setibanya di villa. Erlan segera menurunkan sang istri. Keduanya sama-sama melirik ke villa sebelah yang sudah gelap gulita, mereka berdua lalu tersenyum.
"Kalau tadi tidak ada gangguan di jalan, villa kita pasti juga sudah gelap seperti villa saudari kembarmu itu, Sayang," ucap Erlan seraya menarik tubuh sang istri agar merapat ke tubuhnya.
Pemuda matang itu lalu memeluk mesra pinggang istrinya. Mereka berdua segera masuk ke dalam villa yang berukuran lebih kecil dari villa keluarga dan villa tamu di deretan depan. Di Villa kecil ini hanya terdapat satu kamar utama dan dua kamar tidur yang ukurannya lebih kecil.
Di deretan belakang ini, villanya dibuat lebih kecil karena memang diperuntukkan untuk anak-anak keturunan Alamsyah Antonio beserta keluarga kecil mereka. Ada beberapa villa yang berjajar di sana dan sebagian besar sudah ditempati, seperti villa milik kakak-kakaknya Maida. Erlan lalu mematikan lampu utama dan segera menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam kamar.
"Bang. Bang Er 'kan belum makan malam. Apa Bang Er enggak mau makan dulu? Kalau mau, biar Mai minta sama bibi agar mengantarkan makanan kemari," tawar Maida setelah Erlan mendudukkan dirinya di depan meja rias.
"Tidak perlu, Sayang. Nanti saja kalau aku lapar, aku bisa keluar untuk mencarinya," tolak. Erlan seraya melepaskan aksesoris yang menempel di hijab sang istri satu per satu.
Setelah semua aksesoris berpindah tempat ke dalam kotak kecil yang ada di meja rias, Erlan lalu melepaskan hijab sang istri dan segera menarik pelan ikat rambut Maida. Rambut hitam panjang nan indah langsung tergerai dan aroma wangi yang menguar dari rambut sang istri, membuat gairah pemuda tampan itu semakin bangkit. Erlan kemudian mencium puncak kepala istrinya dengan dalam.
__ADS_1
"Apa kamu sudah siap untuk menjadi istriku yang seutuhnya, Sayang?" tanya Erlan seraya menatap sang istri melalui pantulan cermin besar di hadapan.
Maida tersenyum lalu mengangguk, pasti.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu dan aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia." Erlan mendekap erat tubuh sang istri dari belakang lalu menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
Dada wanita muda itu berdebar, merasakan kehangatan pelukan pemuda tampan yang sudah lama bersemayam di hatinya. Maida yang cenderung lebih pemalu dibanding saudari kembarnya, menoleh dan kemudian memberanikan diri mencium pipi Erlan. Sang suami tersenyum lalu menahan kepala Maida ketika dia hendak kembali menatap ke arah cermin.
"Kenapa hanya pipi, hem? Aku maunya lebih dari itu, Sayang," pinta Erlan dengan tatapannya yang langsung menembus ke jantung Maida.
"Mai mau bersih-bersih dulu dan berganti pakaian, Bang," kilah Maida yang merasa grogi ketika sang suami terang-terangan meminta lebih.
Erlan tersenyum dan kemudian mengangguk. "Depe dulu ya, dikit." Tanpa menunggu persetujuan sang istri, Erlan menyatukan bibir mereka lalu ********** dengan lembut.
Erlan menjauhkan wajah ketika sang istri mulai tersengal dan hampir kehabisan napas. Pemuda tampan itu tersenyum lalu mengusap bibir istrinya dari sisa saliva dengan ibu jari. "Rasanya lembut dan manis. Aku sangat suka dan sepertinya setiap pagi aku harus sarapan ini, Sayang," ucap Erlan masih dengan mengulas senyuman.
"Ayo, kita bersih-bersih bareng," ajak Erlan yang segera membuka jasnya lalu melempar dengan asal ke sofa. Pemuda tampan itu segera menuntun sang istri masuk ke dalam kamar mandi yang cukup luas. Kamar mandi yang dilengkapi dengan bathup berukuran besar, muat untuk dua orang.
"Bang. Mandinya gantian aja, ya," tolak Maida yang tiba-tiba menghentikan langkah di ambang pintu kamar mandi. Dia merasa malu pada sang suami karena selama ini belum pernah membuka aurat di hadapan Erlan.
"Hemat waktu, Sayang. Lagian ini sudah semakin malam. Kalau kamu malu, oke, kita bisa saling membelakangi," paksa Erlan dan mau tidak mau, Maida hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Maida juga pasrah saja ketika Erlan kekeuh membantunya melepaskan kebaya pengantin lalu melemparkan ke bathup yang kering dan belum terisi air. Satu per satu, apa yang melekat di tubuh wanita cantik itu terlepas. Erlan menelan saliva menatap keindahan maha karya Sang Pencipta di hadapan.
Erlan hendak memeluk istrinya, tetapi wanita muda itu segera menghindar. "Bang. Tadi Abang bilang, kita mandinya saling membelakangi, kan?"
Wajah sang istri yang nampak malu-malu dan kedua tangannya menutupi kedua asset indah dan montok miliknya, membuat Erlan semakin gemas dan tidak ingin membuang waktu lagi. "Iya, benar. Ayo, kita cepat mandi!"
Erlan segera melepaskan pakaian dan kemudian mandi dengan sangat cepat. Dia harus buru-buru agar bisa segera menikmati hidangan di malam pertama. Hidangan yang sangat lezat dan pasti bikin ketagihan.
Tidak butuh waktu lama, keduannya sudah selesai mandi. Maida lalu ijin untuk melakukan sholat isya' terlebih dahulu karena tadi belum sholat. Erlan yang sudah memakai sarung dan baju koko menanti dengan setia, untuk melaksanakan sholat sunnah berjama'ah.
Usai sholat sunnah untuk malam pertama mereka dan berdo'a, Erlan mengambil mukena dari tangan sang istri yang hendak dirapikan. Dia simpan mukena itu dengan asal di sofa lalu Erlan mempopong tubuh istrinya dan dibaringkan di atas ranjang yang empuk. Rupanya, pemuda matang tersebut sudah sangat tidak sabar untuk bisa segera menikmati indahnya malam pertama.
"Aku akan membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini, Sayang," bisik Erlan di telinga sang istri, membuat Maida meremang dan berdebar. Erlan lalu beranjak.
Pemuda tampan itu mengganti lampu utama dengan lampu tidur yang remang-remang. Melepaskan baju koko lalu mulai naik ke atas ranjang. Erlan membaca do'a di ubun-ubun istrinya lalu mulai mencumbui istri belianya, membuat sang istri menggelinjang dengan ******* yang mulai keluar dari bibir tipisnya.
Erlan melakukannya dengan sangat lembut dan dengan segenap perasaan. Pemuda tampan itu tidak mau buru-buru pada intinya karena ingin menikmati setiap inci tubuh sang istri. Dia juga tidak ingin sang istri melupakan momen indah ini.
"Apa kamu menyukainya, Sayang?" tanya Erlan yang kembali merangkak naik ke bagian atas tubuh sang istri ketika tadi hampir saja mencapai lembah yang sudah mulai basah.
Maida hanya mampu menganggukkan kepala dengan tatapan yang telah berkabut gairah. "Mai suka, Bang. Ayo, lakukanlahlakukanlah!" pintanya dengan malu-malu, membuat Erlan tersenyum dikulum dan kemudian kembali melabuhkan ciuman di bibir sang istri.
__ADS_1
Malam ini, sepasang pengantin baru itu meluapkan seluruh rasa dan melebur bersama menjadi satu dalam keindahan malam pertama yang panjang dan memabukkan.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕