Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Mau Tahu Aja VS Mau Tahu Banget


__ADS_3

Pagi tiba dan ini adalah hari paling bersejarah yang dinanti oleh Gilang, begitu juga dengan calon istrinya.


Pertemuan dan perkenalan singkat, nyatanya tidak menjadi soal ketika mereka berdua memutuskan untuk menyetujui perjodohan yang digagas oleh sang oma dan berlanjut ke pernikahan yang dipersiapkan hanya dalam kurun waktu beberapa hari saja.


Keduanya yang sama-sama baru mengenal apa itu cinta, mulai belajar untuk membuka diri dan hati, serta belajar untuk mengenal satu sama lain.


Debaran indah di hati, kian hari kian bertambah besar seiring kemantapan diri yang juga semakin yakin dengan pilihan atas dasar kesadaran, bukan paksaan.


Kini, di dalam kamar calon mempelai wanita, Ailee sedang menikmati pijatan lembut di wajah yang dilakukan oleh seorang terapis.


"Ai," sapa seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam kamar calon mempelai wanita.


"Oh, masih menjalani perawatan. Ya udah, aku tunggu di luar aja, ya," lanjutnya yang hendak kembali ke luar.


"Mai, di sini aja enggak apa-apa. Temani aku ngobrol biar enggak jenuh," pinta Ailee, menghentikan langkah kekasih Erlan yang baru dijemput oleh kakak sepupu Gilang tersebut.


"Iya, sebentar aku kembali. Aku mau bicara sebentar sama abang," pamit gadis berhijab yang hari ini terlihat sangat anggun, dengan gaun panjang bercorak kalem yang dia kenakan.


Maida segera keluar dari kamar Ailee dan tidak lupa menutupkan kembali pintunya dengan rapat.


Ya, Nenek Amira telah menyiapkan semuanya untuk sang calon cucu menantu. Beliau memanggil terapis handal dari sebuah klinik langganan lama untuk memberikan servis istimewa bagi sang calon mempelai wanita.


Sedari pagi begitu selesai sarapan, Ailee mulai menjalani serangkaian perawatan diri. Mulai dari menicure, pedicure, massage dan lulur, creambath dan mandi susu, hingga perawatan wajah agar gadis itu merasa rileks dan segar ketika acara berlangsung nanti sore hingga malam hari.


"Kamu sama Rara, Mai?" tanya Ailee, ketika kekasih Erlan tersebut kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Enggak, Ai. Dia minta maaf karena tidak bisa hadir di hari bahagiamu ini," balas gadis seumuran dengan Ailee tersebut yang tiba-tiba wajahnya menjadi sendu.


Kekasih Erlan tersebut kepikiran dengan teman dekat saudari kembarnya yang masuk rumah sakit karena kecelakaan motor dan hingga siang ini, Maida belum mengetahui bagaimana kabarnya.


"Kenapa?" tanya Ailee seraya mengerutkan dahi, melihat perubahan wajah tamunya.


"Rara harus ke rumah sakit karena cowoknya kecelakaan," balas Maida.


"Innalillahi ... semoga teman Rara tidak mengalami cidera yang serius," do'a Ailee.

__ADS_1


"Aamiin." Maida mengaminkan dan memang itulah yang selalu dia lantunkan dalam hati sedari tadi.


Meskipun raganya tidak dapat membersamai sang adik kembar, tetapi do'a gadis itu tidak pernah putus untuk kebaikan teman dekat adiknya tersebut.


"Nah, udah selesai Non. Sebaiknya, Non istirahat dulu. Nanti bakda ashar baru dirias oleh teman saya." Terapis yang ramah itu segera membereskan barang-barangnya.


"Iya, Mbak. Terima kasih banyak, ya. Badan saya jadi rileks dan enakan," ucap Ailee, jujur.


"Alhamdulillah kalau Non senang. Semoga di lain kesempatan, Non bersedia menggunakan jasa kami kembali," balas terapis tersebut seraya tersenyum dan dibalas Ailee dengan anggukan kepala serta senyuman pula.


"Kalau begitu, saya permisi, Non," pamitnya yang segera keluar dari kamar Ailee.


"Ai, ashar masih satu jam lebih. Sebaiknya, kamu gunakan waktu dengan baik untuk tidur siang barang sebentar. Aku akan keluar untuk membantu oma, barangkali ada yang bisa aku lakukan," pamit Maida kemudian yang tidak ingin mengganggu gadis yang baru kemarin dikenalnya.


Gadis cantik kekasih Erlan itu cukup memahami, bahwa Ailee pastilah butuh energi prima untuk menghadapi acara sore nanti hingga malam ketika resepsi dan butuh energi yang lebih ekstra, saat menjalani malam pertamanya.


"Baiklah, Mai. Aku akan mencoba untuk tidur meskipun aku tidak yakin dapat terlelap," balas Ailee.


"Apa kamu tahu, Mai, bagaimana perasaanku saat ini? Jujur, aku sangat grogi sekali. Apalagi, kami berdua baru beberapa hari saling mengenal," lanjutnya, jujur.


Maida yang sudah mendengar kisah Ailee dan adik sepupu dari sang kekasih, mengangguk mengerti.


"Semangat, Ai. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Apalagi, calon suami kamu kelihatan kalau sangat menyayangi kamu. Bang Ge pasti tidak akan memaksakan kehendak, jika memang kamu belum siap untuk nanti malam," hibur kekasih Erlan.


Ailee mengangguk dan obrolan mereka terhenti ketika pintu kamar dibuka dari luar. Sang oma kemudian masuk ke dalam kamar calon istri cucunya.


"Nak Mai. Minum dulu, yuk!" ajak sang oma. "Sedari datang tadi, Nak Mai belum minum apa-apa, kan?" Wanita tua bersahaja itu menatap hangat kekasih Erlan.


Gadis berhidung mancung yang memiliki wajah mempesona, perpaduan antara daddy dan mommy-nya itu mengangguk.


"Ai. Aku keluar dulu, ya," pamitnya kembali yang disambut anggukan kepala oleh calon mempelai wanita.


"Nak Ai. Nanti bibi akan ke sini membawakan jamu untukmu. Kamu harus meminumnya hingga habis. Jamu itu oma sendiri yang meraciknya," pesan sang oma, sebelum berlalu dari kamar Ailee.


Calon pengantin itu mengerutkan dahi. "Jamu? Untuk apa, Oma?" tanya Ailee yang dijawab sang oma hanya dengan senyuman.

__ADS_1


Sementara kekasih Erlan yang sudah paham tentang perjamuan karena tradisi di keluarganya pun seperti itu, masih menggunakan minuman tradisional untuk menambah stamina dan menjaga kebugaran tubuh, mengerlingkan mata menggoda Ailee.


"Siap-siap untuk lembur nanti malam, Ai!" seru Maida dan gadis cantik itu langsung menutup pintu kamar Ailee sebelum calon istri Gilang tersebut menyadari maksud dari ucapannya.


"Kok, senyum-senyum sendiri. Ada apa, Dik?" tanya Erlan begitu Maida membalikkan badan. Rupanya, pemuda itu hendak menyusul sang kekasih ke kamar Ailee.


"Enggak ada apa-apa, kok, Bang. Barusan, cuma becandain Ailee," balas Maida, jujur.


"Oma duluan, ya," pamit sang oma yang kemudian berjalan sedikit cepat menuju arah dapur.


"Iya, Oma," balas kedua sejoli yang berbeda usia cukup jauh tersebut, kompak.


"Apa kamu juga pengin cepat-cepat menyusul seperti Ailee, Dik?" tanya Erlan kemudian sambil menggandeng tangan sang kekasih, untuk menuju taman di halaman belakang karena di sana semua keluarga sedang berkumpul.


"Memangnya, Abang udah memiliki keberanian untuk melamar adik?" tantang Maida.


"Dari dulu juga Abang berani, Dik. Hanya saja, saat itu kamu 'kan masih sekolah. Kalau sekarang Dik Mai siap, abang akan ajak papa dan mama untuk ke rumah kamu besok. Mumpung sekarang mereka ada di sini," balas Erlan yang tidak mau dianggap tidak gentle oleh sang kekasih.


"Eh jangan, Bang!" tolak Maida, panik.


Membuat Erlan langsung menghentikan langkah. Dahi pemuda tampan tersebut, berkerut dalam.


"Kenapa, Dik? Apa kamu enggak serius dengan hubungan kita?" tanya Erlan, mulai was-was.


Wajar jika pemuda yang berusia matang tersebut merasa khawatir, sebab gadis yang dipacarinya itu masih sangat muda dan mungkin saja masih labil.


Apalagi, menurut informasi yang didapatkan Erlan dari mata-matanya yang satu kampus dengan sang kekasih mengatakan bahwa banyak pemuda di kampus yang menaruh hati pada Maida, termasuk salah satu dosen muda di sana.


"Bukan begitu, Abang. Adik serius, kok, dengan hubungan kita," balas Maida seraya menatap dalam netra Erlan, untuk meyakinkan sang kekasih yang usianya terpaut sekitar sepuluh tahun dengannya itu bahwa dia benar-benar sayang.


"Lantas?" desak Erlan, tidak sabar.


"Mau tahu aja, apa mau tahu banget, Abang?" ledek Satria yang tiba-tiba muncul di belakang mereka berdua.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1



__ADS_2