Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Melakukan Penyatuan Sambil Salto


__ADS_3

Tiba di salah satu hotel yang berada di bawah bendera GCC, hari telah menjelang maghrib, sehingga mereka menunda terlebih dahulu acara akad nikah untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


Ailee menempati kamar yang sama dengan kamarnya dahulu bersama Nenek Amira, ketika acara family gathering perusahaan GCC.


Setibanya di kamar, Ailee yang saat ini ditemani oleh kekasih Erlan segera menunaikan ibadah sholat maghrib karena dia harus dirias kembali sebelum acara akad dimulai.


Maida juga melaksanakan kewajibannya di dalam kamar yang sama dengan Ailee dan setelah keduanya selesai melaksanakan ibadah sholat, kekasih Erlan itu segera keluar untuk memanggil MUA yang telah bersiap.


"Ai, aku tunggu di luar, ya," pamit gadis cantik kekasih Erlan tersebut, setelah Ailee ditangani oleh seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu lihai memainkan alat-alat kecantikan dan menyapukan di wajah mulus sang calon pengantin.


"Iya, Mai. Tolong sekalian panggilkan Mas Ge, ya. Jas-nya masih ada di sini soalnya," pinta Ailee sebelum Maida berlalu.


Tadi begitu turun dari mobil, Gilang yang hendak menunaikan ibadah sholat maghrib di mushola hotel bersama saudara-saudaranya, menitipkan jas-nya pada sang calon istri.


"Oke," balas kekasih Erlan yang bergegas keluar untuk menemui sang pujaan.


Begitu melihat Gilang dan kekasih dewasanya, Maida kemudian menyampaikan pesan Ailee kepada calon mempelai laki-laki dan pemuda tampan itu bergegas menuju kamar sang calon istri.


Setelah mengucap salam, Gilang segera masuk ke dalam kamar tersebut, bertepatan dengan Ailee yang sudah selesai dirias dan sudah mengenakan hijabnya kembali.


Wajah Ailee yang sudah putih dan cantik dari sananya, tidak membutuhkan waktu lama bagi sang MUA untuk membuat calon mempelai wanita itu menjadi lebih cantik dan mempesona.


Gadis belia itu semakin menawan dan terlihat manglingi karena selama ini Ailee tidak pernah berhias diri.


"MasyaAllah, cantiknya istriku," ucap Gilang yang melupakan bahwa mereka berdua belum jadi menikah.


"Calon istri, Mas Ge," ralat sang MUA yang sudah akrab dengan keluarga Gilang, seraya tersenyum.


"Oh iya, Bu. Calon istri." Gilang kemudian berjalan mendekati Ailee.


"Saya permisi dulu ya, Mbak Ai, Mas Ge," pamit wanita paruh baya tersebut setelah merapikan alat make-up nya.


"Jangan ditutup pintunya, Bu!" pinta Gilang yang tidak ingin keberadaan mereka berdua di dalam satu kamar, akan menimbulkan fitnah.

__ADS_1


Kini, di dalam kamar tersebut tinggallah mereka berdua. Keduanya saling pandang melalui pantulan cermin yang ada di hadapan. Tidak ada yang bersuara. Mereka hanya bercengkrama melalui tatapan mata.


Gilang kemudian semakin mendekat. Dia menangkup kedua bahu Ailee dan menurunkan kepalanya. Pemuda tampan itu mencium puncak kepala sang calon istri dengan penuh kasih.


"Terima kasih, sudah bersedia menerima lamaranku," ucap Gilang. "Terima kasih sudah hadir dan merubah hidupku yang tadinya hambar, menjadi lebih indah dan menyenangkan," lanjutnya seraya menatap dalam manik hitam sang calon istri, melalui pantulan cermin besar.


Netra Ailee berkaca-kaca. Dia merasa sangat disayangi, dihargai, dan diharapkan oleh pemuda yang pertama kali hadir dan mengisi penuh hatinya.


"Terima kasih juga karena Mas sudah mau membuka hati untukku. Menerima apa adanya aku, tanpa peduli siapa aku dan darimana asalku," ucap Ailee, kemudian.


Terlintas kembali bagaimana tadi sang papa dengan begitu tega memintanya untuk melepaskan Gilang, demi menutupi aib Aina. 'Aku tidak akan pernah melepasmu, Mas karena kamulah kebahagiaanku.'


Keromantisan itu terurai, ketika kedua kakak Gilang masuk ke dalam kamar.


"Ish, kalian ini, lho. Di luar sudah pada siap, malah masih asyik pacaran," protes Mbak Tia yang kemudian tersenyum pada sang calon adik ipar.


Gilang tersenyum bahagia pada kedua kakaknya dan kedua wanita cantik itu kemudian memeluk adik bungsunya bergantian.


Sementara Mbak Tia mengusap lengan sang adik, dengan penuh rasa sayang. Netra kakak kedua Gilang itupun berkaca-kaca. Mereka berdua merasa sangat terharu setelah sekian lama mencoba membujuk sang adik, agar mau membuka diri dan hati pada wanita, tetapi Gilang tidak mengindahkan nasehat mereka berdua.


Kini, Gilang telah menemukan belahan jiwanya. Gadis sederhana yang memiliki hati tulus dan juga baik budi pekertinya.


"Dik, kamu keluar dulu sana!" titah Mbak Gia kemudian, pada sang adik bungsu.


Pemuda tampan yang saat ini semakin terlihat menawan dengan stelan jas berwarna putih, senada dengan kebaya yang dikenakan oleh sang calon istri, segera meninggalkan kamar tersebut.


"Ayo, Dik Ai! Kita segera keluar," ajak Mbak Tia.


Ailee kemudian dituntun oleh kedua kakak Gilang untuk menuju tempat akad nikah di ballroom hotel. Ruangan besar itu sendiri kini telah disulap menjadi tempat resepsi karena memang bakda isya' nanti acara resepsi pernikahan Gilang dan Ailee akan digelar.


Resepsi yang hanya akan dihadiri oleh petinggi perusahaan dan rekan-rekan bisnis terdekat Gilang. Bos GCC itu memang tidak banyak mengundang tamu karena Ailee menginginkan resepsi pernikahan mereka berdua diadakan secara sederhana saja.


Untuk sementara waktu, di bagian tengah ballroom ditempatkan sebuah meja panjang dan beberapa kursi yang mengelilingi meja tersebut, untuk acara akad nikah.

__ADS_1


"Santai saja, Dik. Jangan grogi!" ucap Mbak Gia ketika merasakan tangan Ailee begitu dingin.


Ailee hanya tersenyum dan kemudian mengangguk.


Dari kejauhan, Ailee sudah dapat melihat kursi-kursi tersebut telah penuh terisi. Sang calon suami juga sudah duduk di tempatnya, berhadapan dengan pak penghulu. Gilang di dampingi oleh sang oma dan kedua orang tua Erlan.


Saudara-saudara Gilang yang lain, kedua kakak ipar serta keponakan-keponakan calon suami Ailee itu juga sudah duduk dengan tertib di sana. Termasuk Erlan dan kekasihnya yang masih belia, seusia dengan Ailee.


'Harusnya, ada papa dan Kak Aira serta Kak Aina di antara mereka,' bisik Ailee dalam hati. Gadis itu sempat bersedih, tetapi dia segera menepis rasa itu yang memang dianggap tidak perlu.


Calon mempelai wanita yang terus menundukkan kepala, kemudian didudukkan tepat di samping Gilang dan setelah semua dipastikan siap, acara sakral akad nikah pun segera dimulai.


Diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sambutan-sambutan yang dalam hal ini disampaikan oleh papanya Erlan selaku pengganti orang tua Gilang dan oleh pak penghulu yang akan menjadi wali hakim bagi Ailee, dan kemudian dilanjutkan khutbah nikah. Semuanya berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan.


"Santai aja, Om. Jangan karena grogi, Om jadi salah mengucapkan nama calon istri. Bisa berabe nanti," bisik Satria yang duduk di belakang omnya, menggoda Gilang.


Ya, setelah serangkaian acara barusan, tibalah kini pada acara yang dinanti dengan berdebar oleh Gilang, yaitu ijab qabul. Calon mempelai laki-laki itu menoleh ke arah sang calon istri dan Ailee memberikan senyuman manis pada Gilang untuk memberikan support pada calon suaminya yang memang terlihat sedikit grogi.


Setelah pak penghulu mengucapkan ijab untuk menikahkan Gilang dan Ailee, dengan suara lantang dan tegas Gilang menerima pernikahan tersebut dengan mengucapkan qabul hanya dalam satu tarikan napas.


"Sah!" Kata tersebut yang diucapkan secara bersamaan oleh kedua saksi, yaitu Erlan dan salah seorang petinggi perusahaan yang diikuti oleh semua hadirin, menjadi kata yang menegaskan bahwa mereka berdua kini telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Gilang bernapas dengan lega, seraya melirik mesra istri belia yang baru dinikahinya.


Usai do'a dilantunkan, Gilang kemudian menyematkan cincin kawin di jari manis sang istri. Ailee kemudian mencium punggung tangan Gilang sebagai bukti penghormatannya pada sang suami.


"Cium, Om! Cium!" seru ketiga keponakan Gilang, sehingga mengundang gelak tawa semua yang hadir di sana. Entah siapa yang memulai kekonyolan tersebut.


Tanpa ragu dan malu, Gilang kemudian mencium kening sang istri dan dilanjutkan dengan mencuri ciuman di bibir. Apa yang dilakukan pengantin laki-laki barusan, membuat semua yang berada di sana geleng-geleng kepala. Sementara sang istri yang merasa malu, langsung mencubit perut rata suaminya.


"Sabar, Ge! Dua jam lagi, kalian bebas melakukan apapun. Mau sambil salto sekalipun, juga bebas," ucap Erlan.


"Memangnya bisa ya, Om? Melakukan penyatuan sambil salto?" tanya Kukuh dengan polosnya, hingga gelak tawa dari semua yang hadir di sana, kembali menggema memenuhi ballroom hotel.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2