Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Memeluk Wanita Ketiga


__ADS_3

Mamanya Erlan menatap sang adik, dengan tatapan penuh keingintahuan. Namun, Mama Irna malah menggelengkan kepala. Dia urungkan niat untuk memberitahukan pada keluarga tentang penyakit yang sudah cukup lama dia derita.


Mama Irna tidak mau menggunakan sakitnya sebagai alat untuk membuat sang putra agar bisa menerimanya. Biarlah jika Gilang mau memaafkan itu karena murni sang putra memang mau menerimanya. Wanita yang terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya tersebut kemudian beranjak.


"Maaf, Mbak. Aku lelah, boleh 'kan aku istirahat dulu," pamit Mama Irna.


Terpaksa, Budhe Ris mengangguk, mengiyakan. Di saat yang sama, bibi asisten yang sudah selesai menyiapkan kamar untuk mamanya Gilang tersebut, mendekat. "Nyonya. Kamar Nyonya sudah siap," ucapnya seraya membungkukkan sedikit badan.


"Baik, Bi. Terima kasih," balas Mama Irna yang kemudian segera berlalu menuju ke kamar yang telah disiapkan untuknya.


Meninggalkan sang kakak dan keluarganya yang menatap kepergian Mama Irna dengan rasa penasaran. Terutama mamanya Erlan yang nampak sangat khawatir. Sebagai saudara kandung, tentu Budhe Ris bisa merasakan bahwa ada sesuatu hal serius yang disembunyikan oleh sang adik.


"Er, cobalah kamu bujuk adikmu agar mau menerima mamanya. Sepertinya, Tante Irna sedang tidak baik-baik saja," suruh Budhe Ris pada putranya.


"Ma, Ge sedang sama istrinya. Ai pasti bisalah membujuk suaminya," tolak Erlan yang percaya sepenuhnya pada Ailee dalam menaklukkan hati keras batu Gilang.


"Er benar, Ris. Biar istrinya yang membujuk anak itu. Ai pasti bisa meluluhkan hati suaminya," timpal sang oma yang kembali ke ruang keluarga.


Budhe Ris mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Ma. Ris juga salut sama istri Ge. Dia begitu baik dan juga lembut," pujinya kemudian.


"Er, katanya kamu mau belanja untuk acara tunangan besok. Sudah sana, Siap-siap," titah sang oma, teringat dengan rencana Erlan semalam.


"Oma ikut, kan?"


Nenek Amira menggeleng. "Tidak, Er. Sudah ada mama dan juga kakak kamu. Biar oma menemani tantemu di rumah," tolaknya seraya tersenyum.


"Baiklah, Oma. Kami mau siap-siap dulu," pamit Erlan yang segera beranjak.

__ADS_1


Sang mama dan kakaknya pun ikut beranjak. Menyisakan sang oma dan papa serta kakak ipar Erlan yang pendiam, yang tidak perlu berganti pakaian. Kedua keponakan Erlan yang belum bersuara sedari tadi karena sepertinya masih sangat mengantuk ikut beranjak untuk pindah tidur ke kamar.


Nenek Amira selanjutnya terlibat obrolan dengan kedua pria yang berbeda pembawaan tersebut. Papanya Erlan yang ramah dan murah senyum seperti Erlan. Sementara kakak iparnya, sangat kalem dan jika tersenyum hanya menarik bibir sedikit.


Sementara di ruang kerja Gilang, Ailee menempel terus sama suaminya. Membuat pemuda tampan itu mengerutkan dahi. Mulai curiga bahwa sang istri ada maunya.


"Sayang, aku tahu kamu pasti mau membicarakan tentang dia, kan?" tanya Gilang setelah menyimpan dokumen yang tidak benar-benar dia baca.


Ya, Gilang hanya membuka-buka dokumen tersebut sedari tadi karena memang dia tidak punya niatan untuk mengecek pekerjaan. Itu hanya alasannya saja untuk menjauh dari Mama Irna. Namun, sang istri malah mengekor langkahnya dan terus menempel seperti hendak merayunya.


"Enggak, tuh," balas Ailee seraya menjatuhkan kepalanya di bahu kokoh sang suami.


"Memangnya, enggak boleh ya kalau Ai menemani Mas di sini? Ai 'kan pengin juga sesekali berduaan sama Mas pagi-pagi seperti ini, mumpung Mas enggak ke kantor," lanjutnya merajuk manja.


Gilang tersenyum dan kemudian mencium puncak kepala sang istri. "Boleh, Sayang. Mau tiap pagi berduaan juga boleh, kok," balasnya kemudian.


"Tentu ada, dong?" balas Ailee dengan senyum menggoda. "Ai pengin, dong, disayang sama Mas di sini," pinta Ailee seraya menatap manja suaminya.


Tanpa Gilang duga, Ailee tiba-tiba melabuhkan ciuman di bibirnya. Membuat pemuda tampan itu senang bukan alang kepalang. Suami Ailee tersebut langsung membalasnya dengan lebih agresif.


"Sayang, pintunya belum dikunci," ucap Ailee di sela-sela permainan bibir mereka berdua.


Gilang terpaksa melepaskan pagutan dan dengan cepat mengunci ruangan tersebut. Sepasang suami-istri itu kemudian hanyut dalam penyatuan yang penuh kasih dan sayang. Bersama-sama mereka berpacu untuk saling memberikan kenikmatan pada pasangan.


Setelah lelah menyatu dan mendapatkan pelepasan, keduanya terkulai di sofa dengan saling memeluk mesra. Mereka berdua sama-sama terpejam meskipun tidak benar-benar tertidur. Tidak lama kemudian Ailee membuka mata dan kemudian beringsut, berpindah posisi dengan tidur di lengan sang suami sambil menatap ke arah suaminya.


"Mas tahu 'kan, sejak Ai lahir Ai tidak pernah melihat wajah mama," ucapnya pelan, mengawali pembicaraan.

__ADS_1


"Ai pengin banget, bisa merasakan bagaimana memiliki mama. Ai dulu bahkan suka iri sama teman-teman saat mereka cerita tentang mamanya. Curhat sama mama, masak bareng, berkebun bareng, beli pakaian dan semuanya bareng sama mama mereka." Sejenak Ailee terdiam, seraya memperhatikan wajah sang suami yang nampak begitu damai dengan mata terpejam.


"Andai mama Ai masih ada, Ai pasti akan menjadi anak yang sangat beruntung karena memiliki teman yang bisa diajak untuk bercerita banyak hal, tapi sayangnya ...."


"Apa belum cukup memiliki aku, Sayang? Aku juga bisa menjadi teman yang baik untuk bercerita, bukan? Aku juga bisa menemanimu kemanapun kamu mau," sergah Gilang yang kemudian membuka mata, memotong ucapan istrinya.


Gilang yang rupanya mengetahui kemana arah pembicaraan sang istri, menatap Ailee dengan dalam. "Bukankah aku sudah membebaskan kamu untuk melakukan apapun yang kamu mau, Sayang? Aku hanya minta satu hal, bukan? Tolong jangan paksa aku untuk menerimanya," lanjutnya, mengingatkan.


Ailee tersenyum dan kemudian menyembunyikan wajah di ceruk leher suaminya. "Ai hanya tidak ingin, Mas akan menyesal nantinya jika Mama Irna kembali pergi dari sini," ucap Ailee.


"Ai tahu, Mas Ge sebenarnya memiliki hati yang lembut." Ailee kembali menatap sang suami. "Mas saja mau membantu keluarga Ai yang tidak ada hubungan darah sama Mas. Padahal mereka juga sudah sangat jahat pada Ai, bahkan sejak Ai lahir sudah mereka abaikan. Sementara Mama Irna, beliau mama kandung Mas dan Mama Irna juga memberikan kasih sayang pada Mas hingga Mas Ge besar." Ailee sejenak terdiam.


"Hanya saja, Mama Irna sempat berbuat khilaf dan menuruti egonya. Mama Irna lebih memilih laki-laki lain ketimbang almarhum papanya Mas dan juga Mas Ge. Lalu setelah Mama Irna menyesal dan mengakui kesalahannya serta meminta maaf, apa kesalahan Mama Irna tidak bisa untuk dimaafkan, Mas?" lanjutnya bertanya.


Gilang menghela napas panjang. Pemuda itu kembali memeluk erat tubuh sang istri yang hanya tertutup kain hijab segi empat yang tadi dikenakan oleh Ailee. Gilang kemudian memejamkan mata.


"Biarkan aku tidur sebentar sambil memelukmu seperti ini, Sayang. Sebelum aku memeluk wanita ketiga yang tiba-tiba hadir di antara kita," pinta Gilang, membuat Ailee tersenyum bahagia.


"Beliau wanita pertamamu, Mas. Akulah wanita ketiga itu karena setelah Mama Irna, ada oma yang sangat menyayangi Mas," ralat Ailee yang kemudian ikut memejamkan mata dalam dekapan hangat suaminya.


Keduanya tertidur dengan menyunggingkan senyuman di bibir, senyuman yang penuh kelegaan dan kebahagiaan.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


Yang belum mampir di novel terbaruku, yuk mlipir 🥰🙏


__ADS_1


__ADS_2