
Di tempat lain. Gilang yang langsung pulang ke rumah untuk menjemput sang istri, baru saja tiba di kediamannya yang megah tersebut. Pemuda tampan itu tidak perlu masuk ke dalam rumah karena sang istri telah menyambutnya begitu mengetahui bahwa Gilang sudah dalam perjalanan.
Ailee segera menyambut sang suami dengan mencium punggung tangan Gilang dengan takdzim. Gilang membalas dengan mencium kening sang istri dengan dalam. Bukan hanya mencium kening Ailee karena kali ini pemuda tampan itu memiliki rutinitas lain, yakni mengelus perut rata sang istri lalu menciumnya dengan penuh kasih.
"Mas, mau makan siang dulu atau langsung berangkat ke rumah sakit?" tanya Ailee setelah sang suami puas menciumi perutnya.
"Langsung aja ya, Yang. Nanti kalau makan dulu pasti lama dan enggak bisa langsung jalan karena mama dan oma pasti akan banyak tanya," tolak Gilang dan Ailee mengangguk mengerti.
"Baiklah. Ayo, kita pamit dulu sama oma dan mama." Ailee menggandeng tangan sang suami masuk ke dalam rumah untuk berpamitan.
Setelah pamit pada oma dan mamanya, sepasang suami-istri itu lalu segera berangkat ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan tersebut, Ailee yang lebih banyak mendominasi percakapan. "Jadi, apapun yang terbaik menurut Ai, Mas akan setuju?" tanya Ailee, menegaskan sekali lagi perkataan sang suami yang barusan dia dengar.
Gilang hanya menganggukkan kepala karena mobil yang dia kemudikan sendiri telah memasuki area parkir rumah sakit. Pemuda tampan tersebut segera memarkirkan mobil di tempat kosong. Gilang dan sang istri segera turun. Mereka berdua lalu berjalan dengan bergandengan tangan menuju ke kamar pasien. Kamar rawat dengan fasilitas bagus yang diminta oleh anak buah Gilang untuk wanita itu, seperti pesan sang bos.
Kedatangan Gilang dan Ailee, disambut oleh orang kepercayaan Gilang yang tadi segera kembali meluncur ke rumah sakit. Ya, setelah mengetahui bahwa sang bos akan menemui wanita tua tersebut, Damar kembali ke rumah sakit. Dia hanya ingin memastikan bahwa pertemuan sang bos dengan wanita tua korban keserakahan anaknya itu, berjalan dengan lancar.
"Tuan muda. Kebetulan, Bu Kasih baru selesai makan siang dan minum obat. Jadi, Tuan bisa bebas berbicara dengannya," sambut Damar di depan pintu rumah sakit. Orang kepercayaan Gilang itu lalu membukakan pintu kamar rawat wanita tua yang bernama Kasih.
"Selamat siang, Bu," sapa Gilang, ramah.
Ailee yang berdiri di samping sang suami, tersenyum ramah pada wanita yang kondisi tubuhnya memprihatinkan tersebut. Badan wanita tua itu nampak sangat kurus dan di sekitar wajah serta tangannya banyak terdapat luka. Luka karena penganiayaan yang dilakukan sang anak tiri yang terus memaksa Bu Kasih untuk mencari uang dengan cara yang tidak benar.
__ADS_1
"Siang, Mas. Maaf, Mas ini ...?"
"Beliau Tuan Gilang, Bu," balas Damar, cepat.
"Oh, yang bawa mobil bagus itu, ya," ucap Bu Kasih yang kemudian nampak merasa bersalah.
"Jangan khawatir, Bu. Tuan Gilang sudah tahu kebenarannya bahwa Bu Kasih terpaksa melakukan karena di bawah tekanan," terang Damar, mencoba menenangkan wanita tua yang wajahnya terlihat semakin tua karena beban hidup serta beban pikiran yang harus dia tanggung seorang diri.
"Maafkan saya, Tuan. Saya terpaksa melakukannya," tegas Bu Kasih dan Gilang beserta sang istri menganggukkan kepala, mengerti.
"Maaf, memangnya suami Ibu kemana? Kenapa Ibu yang harus bekerja keras untuk mencari uang hingga rela bertaruh nyawa seperti tadi pagi?" tanya Gilang seraya menatap prihatin pada wanita tua tersebut.
"Nesa selalu mengancam akan mengusir kami atau membunuh anak saya jika saya menolak permintaannya. Sementara anak saya tidak bisa melindungi dirinya sendiri meskipun dia sudah besar karena anak saya mengalami keterbelakangan mental," imbuh Bu Kasih dengan netra berkaca-kaca.
"Mengusir?" tanya Ailee yang sedari tadi diam menyimak.
"Benar, Nyonya, karena rumah itu memang rumah peninggalan almarhumah ibunya Nesa. Rumah kami sudah terjual untuk biaya pengobatan suami saya yang menderita sakit selama beberapa tahun, sebelum akhirnya meninggal," balas Bu Kasih.
Miris mendengar cerita dari Bu Kasih, membuat wanita berhati lembut yang berdiri di samping sang suami lalu duduk di tepi pembaringan Bu Kasih. Dia mengusap-usap punggung tangan wanita tua itu dengan tulus. Apa yang dilakukan oleh wanita cantik yang datang bersama Gilang dan diyakini oleh wanita tua tersebut sebagai istri dari orang yang hendak dia peras, membuat Bu Kasih semakin merasa bersalah pada Gilang.
"Maafkan saya ya, Tuan, Nyonya," pinta Bu Kasih, sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Tidak mengapa, Bu. Semoga ke depannya, Ibu tidak mengulangi perbuatan yang tidak terpuji tersebut. Perbuatan yang bisa merugikan orang lain dan juga bisa membahayakan nyawa ibu sendiri," balas Gilang.
Bu Kasih mengangguk-anggukkan kepala.
"Bu. Kemana rencana Ibu setelah sehat nanti?" tanya Ailee.
"Saya belum tahu, Nyonya," balas Bu Kasih, lemah.
"Jika Ibu sudah sehat nanti dan diperbolehkan untuk pulang, Ibu mau tidak bekerja di rumah orang tua saya?' tawar Ailee, kemudian.
Wanita tua itu langsung tersenyum, tetapi hanya sekilas karena setelah itu, wajahnya kembali mendung.
"Kenapa, Bu? Ibu tidak suka?" Dahi Ailee berkerut dalam.
"Bukan begitu, Nyonya. Saya hanya bingung, bagaimana dengan anak saya nanti jika saya bekerja menjadi asisten rumah tangga. Sudah beberapa kali saya melamar pekerjaan sebagai ART, tetapi selalu ditolak karena saya bermaksud membawa anak saya yang spesial itu, Nyonya," terang Bu Kasih, panjang lebar.
"Ibu jangan khawatir. Jika Ibu bersedia bekerja di rumah orang tua saya, maka Ibu boleh membawa putra Ibu," tegas Ailee membuat wanita tua tersebut, tersenyum lebar.
"Benarkah, Nyonya?" tanya Bu Kasih, memastikan pendengarannya.
🌹🌹🌹 bersambung🌹🌹🌹
__ADS_1