Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Menjadi Dewa Penolong


__ADS_3

Di sebuah pusat perbelanjaan. Ailee terlihat sangat bersemangat memilihkan barang-barang untuk seorang wanita yang istimewa dalam hidup suaminya. Beberapa pakaian sudah masuk ke dalam tas belanjaan dan istri belia Gilang itu masih memilih-milih yang lain.


"Kayaknya udah cukup, Sayang," ucap Gilang setelah melihat tas plastik transparan tersebut telah penuh.


"Mas, kita beli skincare juga, ya," pinta Ailee dan Gilang mengangguk, setuju.


Setelah mendapatkan semua yang disarankan Ailee, Gilang kemudian mengajak istrinya ke toko mainan. Ada mainan baru yang akan pemuda tampan itu beli untuk keponakan sang istri. Keponakan yang saat ini tengah menjalani terapi, akibat over dosis pemberian obat tidur yang dilakukan oleh baby sitter Deka.


"Mas, itu udah banyak. Cukup kali, Mas," cegah Ailee ketika Gilang hendak mengambil yang lain.


"Tambah satu lagi, Sayang. Mobil-mobilan yang seperti ini, Deka belum punya, kan?" Kekeuh Gilang seraya menunjukkan mobil remot yang dia pilihkan untuk Deka, pada istrinya.


Istri belia Gilang itu hanya mengangguk, pasrah. Percuma juga melarang jika suaminya sudah memiliki keinginan karena Gilang akan tetap memaksa. Mereka kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar barang belanjaan.


"Papa dan kakak-kakakmu enggak dibeliin sesuatu, Sayang?" tanya Gilang dengan pelan, di telinga sang istri ketika mereka berdua sedang mengantri di kasir.


"Tidak perlu, Mas. Kita sudah sering membelikan mereka barang dan Mas ingat 'kan, pesan papa waktu itu? Cukup kita sering berkunjung, mereka sudah sangat senang, Mas," balas Ailee yang ikut memelankan suara, seraya menoleh ke arah sang suami yang berdiri di belakangnya.


"Lagian, Mas sudah menanggung semua kehidupan keluarga Ai. Papa pasti enggak enak, lah, Mas, kalau Mas juga sering membelikan barang pada mereka," lanjutnya, membuat Gilang kemudian memeluk istrinya dari belakang.


"Bukankah aku bukan orang lain, Sayang. Aku suami kamu. Kenapa harus ada rasa enggak enak?" protes Gilang, berbisik.


Ailee tersenyum dan kemudian mengelus pipi sang suami. Pemandangan indah tersebut membuat orang-orang yang berada di sana menjadi iri. Terutama, pengunjung lain yang mengantri di belakang mereka berdua.


"Terima kasih banyak ya, Mas. Memang benar apa yang Mas katakan, tapi mungkin papa memiliki pemikiran lain. Mungkin karena selama ini papa enggak pernah sayang pada Ai dan sekarang, justru suami Ai yang menjadi penolong mereka. Entahlah, Mas. Kita turuti aja permintaan papa untuk menjaga perasaannya," pungkas Ailee karena sekarang tiba gilirannya untuk membayar dan Gilang mengangguk, setuju.

__ADS_1


Usai membayar tagihan, mereka segera keluar dari pusat perbelanjaan tersebut untuk segera menuju kediaman orang tua Ailee. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, sampailah mereka berdua di kediaman pak pengacara yang terpaksa pensiun dini karena komplikasi penyakit yang diderita. Gilang segera menuntun sang istri untuk masuk ke dalam.


Kehadiran mereka berdua disambut dengan senang oleh Aira. Ya, kakak pertama Ailee itu selalu saja merasa lega jika adik bungsunya datang. Aira jadi bisa beristirahat meski sejenak dari kerepotan menjaga Aina, adik kedua yang masih belum pulih dari depresi yang dialami.


"Deka di mana, Mbak?," tanya Gilang yang kini juga sudah bersikap biasa pada kakak pertama Ailee. "Ini ada mainan untuk Deka," lanjutnya seraya menunjukkan satu kantong besar yang berisi mainan untuk keponakan sang istri.


"Om Ge enggak perlu repot-repot seperti itu, Om. Kalian sudah main ke sini saja, Deka udah seneng banget, kok," ucap Aira, terharu.


"Deka lagi main sama papanya di halaman belakang, Om," lanjutnya seraya menunjuk arah belakang.


"Yang, ke belakang, yuk," ajak Gilang pada sang istri. "Mumpung papa masih tidur," lanjutnya karena jika papanya Ailee sudah bangun maka fokus sang istri pasti akan tertuju pada sang papa. Ailee akan langsung mengambil peran suster yang merawat mantan pengacara angkuh yang sekarang tidak berdaya di atas kursi roda itu.


"Mas ke sana duluan, nanti Ai nyusul, ya. Ai mau lihat Kak Aina sebentar," ijin Ailee seraya menunjuk kamar Aina yang tertutup rapat.


Gilang menganggukkan kepala, tanda setuju. Pemuda tampan itu tidak pernah diajak untuk mengunjungi Aina di kamarnya karena kakak kedua Ailee tersebut akan histeris jika melihat seorang pemuda. Aina selalu menyangka siapa saja pemuda yang mendekat sebagai Ringgo, kekasih yang ternyata telah mengkhianatinya.


Toh, semua sudah terjadi dan setelah diselidiki, memang putra merekalah yang bersalah. Ringgo sudah memiliki tunangan, tetapi masih saja mencari gadis lain. Pemuda itu juga membuat Aina hamil, di saat sang tunangan juga mengandung anaknya.


"Kak Aina, ini Ai, Kak," sapa Ailee dan Aina yang sedang duduk di ranjangnya hanya sekilas melirik. Gadis itu kemudian kembali dengan lamunannya.


Meskipun Aina tidak pernah merespon kehadiran Ailee, tetapi adik bungsu itu akan tetap mengajak sang kakak mengobrol seolah Aina mengerti apa yang dia bicarakan. Ailee hanya mengikuti saran dari dokter ahli kejiwaan yang menangani sang kakak agar Aina sering diajak untuk berbicara, terutama mengenai kenangan indah masa dulu. Sayangnya, Ailee tidak memiliki kenangan indah sama sekali bersama Aina.


Cukup lama berbicara seorang diri, Ailee kemudian memutuskan untuk menyusul sang suami ke halaman belakang. Istri cantik Gilang itu pamit terlebih dahulu pada Aina. Baru saja Ailee hendak beranjak, tangannya tiba-tiba ditarik oleh Aina perlahan.


"Terima kasih." Kata singkat yang diucapkan oleh Aina barusan, membuat Ailee menitikkan air mata.

__ADS_1


"Kak, Kak Aina mengenali Ai?" tanya Ailee dengan netra berkaca-kaca.


Aian sempat tersenyum samar, tetapi ekspresinya kembali seperti semula. Dingin dan tatapannya kosong menatap keluar jendela. Ailee menghela napas panjang kemudian dan segera berlalu meninggalkan kamar sang kakak.


"Alhamdulillah, sepertinya Kak Aina sedikit ada perkembangan," gumam Ailee sambil berjalan menuju arah halaman belakang.


Di sana, Ailee melihat sang suami nampak tengah asyik ngobrol bersama Sindu, suami Aira. Istri cantik Gilang itu kemudian mendekat dan menyalami kakak iparnya. Ailee tersenyum ramah dan kemudian duduk di samping sang suami.


"Sayang, aku barusan bilang sama Mas Sindu. Bagaimana kalau seandainya dia minta pensiun dini dan kemudian bekerja di perusahaan kita? Kamu setuju 'kan, Yang?" Gilang menatap sang istri.


"Ai, sih, terserah Mas saja. Terus Mas Sindunya gimana?" Wanita belia berhijab pasmina itu menatap sang kakak ipar.


"Mas ragu, Dik, apa Mas bisa? Mas takut mengecewakan kalian, terutama suami kamu Ai yang selama ini sudah banyak membantu kami," balas Sindu, jujur.


"Mas Sindu pasti bisa, Mas. Kalau Om Ge memang meminta Mas untuk bekerja di perusahaannya, aku setuju, Mas. Kebutuhan kita makin banyak, Mas, dan kita tentu enggak mau kalau bergantung terus pada mereka berdua," sahut Aira yang sedang menemani Deka, bermain dengan mainan barunya.


"Kalau tentang bantuan, itu enggak masalah bagi kami, Mbak. Kita 'kan keluarga. Jadi ya, apa yang bisa kami lakukan pasti akan kami lakukan untuk meringankan beban kalian," balas Gilang tulus, membuat Ailee semakin jatuh cinta pada suami dewasanya itu.


"Bagaimana, Mas Sindu?" tanya Gilang, memastikan.


Jujur, dia juga butuh orang yang bisa dipercaya karena Erlan tidak selamanya bisa bersama Gilang. Erlan sebentar lagi menikah dan kakak sepupunya itu harus memikirkan masa depan bersama sang istri. Sementara Satria, belum bisa diajak bergabung karena masih harus menyelesaikan studi.


"Baiklah, Dik, akan aku pikirkan. Terima kasih banyak atas kepercayaan Dik Gilang pada mas," balas Sindu penuh rasa haru.


Dari balik pintu yang menuju arah halaman belakang, papanya Ailee menitikkan air mata mendengar pembicaraan tersebut. 'Aku malu, malu sekali pada anak itu. Dia yang dulu aku sia-siakan, kini justru menjadi dewa penolong bagiku dan kedua kakaknya.'

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2