
Beberapa saat setelah kepergian sang suami ke kantor, Ailee tiba-tiba merasa tidak enak perasaannya. Dia lalu meminta ijin pada sang mama mertua yang menemaninya ngobrol di taman samping dengan alasan ingin beristirahat. Padahal yang sebenarnya, dia hendak menghubungi sang suami.
Setibanya di kamar, Ailee segera mengambil ponsel dan hampir saja mendial nomor sang suami. Namun buru-buru dia urungkan karena dia teringat bahwa sang suami sedang ada rapat penting dengan klien. Ailee akhirnya mengirimkan pesan kepada Gilang.
"Mas. Apa semuanya baik-baik saja? Perasaanku tiba-tiba menjadi cemas dan teringat Mas Gilang terus," tulis Ailee, jujur.
Dia simpan kembali ponselnya di atas nakas lalu mengambil air wudhu hendak membaca Al-Qur'an. Dulu bibi yang merawatnya selalu mengatakan jika gundah maka ambillah air wudhu dan kemudian sholat lalu mengajilah. Ajaran baik dari bibi dahulu itu, masih dia pegang dan amalkan hingga sekarang.
Ailee kemudian mengambil kitab suci Al-Qur'an dan mulai membacanya dengan pelan dan tartil. Dia pahami maknanya dengan membaca terjemah dari ayat yang dia baca. Beberapa menit berlalu dan pikiran Ailee menjadi sedikit lebih tenang.
Dia lanjutkan mengajinya ketika barusan dia cek pesan sekilas dan masih belum dibaca. Itu artinya sang suami belum selesai rapat dengan rekan bisnisnya. Ailee kembali membaca hingga beberapa halaman.
"Kok belum dibalas juga, ya," gumam Ailee setelah menutup Al-Qur'an lalu menyimpan kembali di tempatnya semula.
Ailee kembali meraih ponsel dan dia buka lagi chat-nya. Centang dua tersebut belum berubah warna menjadi biru. Wanita hamil itu menghela napas panjang.
"Aku enggak boleh berpikiran negatif. Mas Gilang pasti enggak kenapa-napa dan enggak sedang dalam masalah. Kalau dia kenapa-napa, Mas Gilang pasti akan menelepon rumah karena Bang Er ada di rumah," hibur Ailee pada diri sendiri.
Wanita cantik itu lalu merebahkan diri di atas pembaringan. Raganya butuh istirahat karena dari kemarin istirahatnya kurang. Berkumpul bersama keluarga besar, sayang jika dilewatkan hanya dengan tidur. Karena itulah, Ailee sempat ikut begadang kemarin setelah prosesi akad nikah Erlan dan istrinya dilaksanakan.
Lambat laun, mata Ailee terpejam. Dengkuran halus pun mulai terdengar yang menandakan bahwa wanita cantik itu telah benar-benar terlelap. Ailee bahkan tidak mendengar ketika ponselnya berdering beberapa kali.
Di seberang sana, Gilang tersenyum menatap layar ponsel pintarnya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Sayang. Baiklah, aku akan pulang sekarang," gumam Gilang setelah beberapa kali mencoba menghubungi sang istri, tetapi tidak ada jawaban.
Gilang pun tidak ingin membuat sang istri menjadi kepikiran. Dia harus pulang segera dan mengatakan pada istrinya bahwa dia baik-baik saja. Lagipula, pekerjaan pentingnya sudah selesai dan yang lain bisa di handle oleh Sindu dan sekretarisnya.
__ADS_1
Tepat di saat Gilang membuka pintu ruangan, orang kepercayaan yang tadi mengurus kasus wanita tua yang sepertinya sengaja menjatuhkan diri tepat di hadapan mobil Gilang datang hendak melapor. Bos GCC itu lalu kembali masuk ke dalam ruangan dan mempersilakan anak buahnya untuk duduk di sofa.
"Bagaimana urusan yang tadi, Dam? Sudah beres?" tanya Gilang setelah dia duduk di hadapan Damar, orang kepercayaannya yang merupakan kepala security di kantor GCC.
"Dugaan Anda benar, Tuan Muda. Wanita tua itu memang sengaja menabrakkan diri dan jatuh tepat di depan mobil agar wanita muda yang ternyata adalah anak tiri dari korban, bisa memeras Anda. Mirisnya, wanita tua itu melakukan semua di bawah paksaan sang anak tiri. Dia sempat menolak, itu makanya di sekujur tubuhnya ada luka baru bekas penganiayaan," terang Damar dan Gilang geleng-geleng kepala.
"Sungguh tidak memiliki hati anak tirinya itu!" geram Gilang.
"Wanita muda itu mengancam akan membuang adik tirinya yang mengalami keterbelakangan mental, ke jalanan jika sang ibu tidak mau menuruti perintahnya," lanjut Damar, prihatin.
Gilang menghela napas panjang. "Lalu, bagaimana kondisi ibu itu sekarang, Dam?" tanya Gilang, turut bersimpati atas nasib yang dialami oleh wanita tua tersebut.
"Dia harus dirawat hingga beberapa hari sampai kondisinya pulih, Tuan, dan untuk si wanita muda, dia di tahan di polres atas dugaan penganiayaan dan percobaan pemerasan," balas Damar dan Gilang menganggukkan kepala.
"Baik.Terima kasih atas laporannya, Dam," ucap Gilang seraya beranjak.
"Kalau begitu, saya permisi, Tuan Muda," pamit Damar yang mengerti bahwa Tuan Mudanya hendak segera pergi.
Orang kepercayaan Gilang itupun segera berlalu yang kemudian diikuti oleh bos GCC. Gilang menyempatkan untuk ke ruangan Sindu yang berada tepat di samping lift. Suami Ailee itu lalu masuk sambil mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum, Mas."
"Wa'alaikumsalam, Dik Gilang. Silakan masuk," jawab dan sapa Sindu ramah. Kakak ipar Ailee itu memang memanggil Gilang dengan sebutan Dik seperti ketika berada di rumah, sesuai permintaan Gilang sendiri jika mereka hanya berdua saja.
"Apa ada tugas tambahan untukku hari ini, Dik?" tanya Sindu seraya mengerutkan dahi, pasalnya mereka tadi sudah bertemu dan Gilang juga sudah menjelaskan semua apa yang harus dia kerjakan.
Ya, sejak kejadian yang menimpanya dan keluarga besar, Sindu benar-benar menyesal dan berjanji pada diri sendiri akan berubah menjadi lebih baik lagi. Dia sangat bersyukur karena sang istri masih mau menerima meski awalnya hanya demi sang putra. Namun, dia sangat yakin cepet atau lambat Aira pasti akan dapat menerima dia sebagai suami yang seutuhnya meski dengan segala keterbatasan yang ada padanya saat ini.
__ADS_1
Sindu semakin bersyukur ketika Gilang mempercayainya untuk ikut bekerja di perusahaan milik suami dari adik iparnya itu, di saat dia juga sudah tidak nyaman bekerja di kantornya yang lama karena kasus perselingkuhan dirinya dan putri pemilik kantin, menyebar serta menjadi trending topic di kantor. Dia akan mendedikasikan diri secara penuh untuk membalas kebaikan Gilang dan sang istri.
"Iya, Mas. Tolong, nanti berkas yang harus aku tandatangani, Mas Sindu suruh sopir untuk mengantar ke rumah karena aku harus pulang sekarang," pinta Gilang dan Sindu mengangguk, patuh.
Setelah mengatakan pesannya, Gilang segera berlalu meninggalkan ruang kerja Sindu. Keluar dari kotak besi yang membawanya turun, Gilang berjalan dengan cepat melintasi lobi dengan tatapan lurus ke depan. Bos GCC yang melupakan maskernya itu menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sana.
Gilang tidak peduli dan terus berjalan. Dia hanya ingin segera pulang dan bertemu dengan sang istri yang tiba-tiba saja, sangat dia rindukan. Ponsel di dalam saku jasnya berdering dan Gilang segera mengambil ponsel tersebut.
Senyum Gilang mengembang sempurna kala wanita cantik yang dia rindukan, wajahnya memenuhi layar ponsel. Gilang menepi ke dinding di dekat pintu keluar lalu menerima panggilan istrinya.
"Halo, Sayang," sapa Gilang dengan volume suara yang tidak dipelankan.
Suara maskulin Gilang dan sapaan sayang tersebut, membuat para wanita yang mendengar menjadi baper lalu senyum-senyum sendiri. Apalagi melihat wajah tampan Gilang yang dulu senantiasa dingin, kini dihiasi senyuman yang merekah dan menambah pesona ketampanannya, membuat para karyawan wanita lupa akan tugas yang hendak mereka kerjakan.
"Duh, Pak Gilang! Anda sukses buat saya gagal fokus," ucap seorang wanita cantik yang membawa map. Wanita cantik tersebut tiba-tiba berhenti dan nge-blank, lupa tujuannya mau kemana?
Teman laki-lakinya yang menyusul di belakang, terkekeh kemudian. "Woy! Jangan bengong! Ntar kesambet!" tegurnya sambil memukul pelan pundak sang wanita dengan map yang dia bawa.
"Ayo, kita ke ruang pertemuan!" ajak laki-laki tersebut dan sang wanita lalu menepuk jidatnya sendiri, begitu tersadar kemana tujuannya.
Sementara di tempatnya berdiri, Gilang masih asyik menerima telepon dari sang istri, tanpa mempedulikan suasana di sekitar. Tersenyum seraya mengumbar kata-kata mesra lalu tertawa bahagia. Hingga suara seseorang mengagetkan Gilang lalu mengakhiri panggilan telepon tersebut.
"Dunia serasa milik berdua, ya, Ge," ledek Erlan yang tiba-tiba muncul di lobi bersama sang istri.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1