
Keesokan harinya, Gilang di bully habis-habisan oleh sang keponakan sulung dan juga abang sepupunya, begitu mereka berdua mendengar cerita dari Ailee ketika gadis belia itu ditanyai oleh sang oma kemana saja mereka berdua semalam, hingga pulang agak larut malam.
"Wah, benar-benar kemajuan pesat. Seorang presiden direktur, kencan makan malam pertamanya di warung angkringan yang remang-remang," ledek Satria terkekeh, seraya melirik Gilang yang pagi ini wajahnya nampak bersinar terang, dengan tatapan mata penuh pendar cinta.
"Bukan lagi kemajuan pesat, tapi bisa jadi trending topic di seluruh jagat dunia bisnis di ibukota ini," timpal Erlan yang juga terkekeh senang.
"Awas saja kalau sampai semua karyawan tahu, aku makan di warung kucing itu sama Ailee. Pasti Abang yang sudah ember membocorkannya!" ancam Gilang dengan tatapan mengintimidasi sang asisten pribadi.
Apakah Erlan takut dengan ancaman tersebut? Tentu saja tidak karena asisten pribadi Gilang itu tahu pasti, bahwa sang atasan hanya main-main saja dengan ancamannya.
"Kenapa malah menyalahkan aku? Kalian 'kan makan di dekat mess, banyak kali karyawan yang berlalu-lalang di sana dan pastinya mengenali mobil kamu," protes Erlan yang tidak mau disalahkan jika nantinya kencan makan malam pertama bos GCC tersebut menjadi bahan perbincangan hangat bagi para karyawan Gilang.
Gilang lupa, kalau semalam kehadiran dirinya dan Ailee di warung angkringan, dilihat oleh banyak karyawannya. Mereka berdua bahkan sempat makan di waktu yang bersamaan dengan beberapa karyawan, di warung angkringan yang menjual nasi kucing.
"Benar, Mas Gilang. Semalam, kan, kita juga bertemu dengan beberapa teman-teman di mess." Ailee menimpali perkataan Erlan.
"Kamu manggil dia apa barusan, Ai? Mas? Wow ... benar-benar kemajuan!" Erlan bertepuk tangan.
"Berisik, ah!" protes Gilang, membuat semua orang tertawa senang melihat wajah keki bos dingin yang sekarang sudah mulai menghangat tersebut.
Melihat tawa sang calon istri dan juga keluarganya, Gilang pun ikut tertawa. Tawa, yang baru pertama kali dilihat oleh sang oma, setelah puluhan purnama tawa itu menghilang entah kemana.
Wanita tua bersahaja itu tersenyum bahagia, seiring dengan netranya yang menatap sang cucu dengan berkaca-kaca.
Ailee yang melihat perubahan air muka sang oma, mengusap punggung tangan keriput Nenek Amira dan tersenyum manis pada omanya Gilang tersebut.
"Terimakasih ya, Nak Ai. Berkat kamu, cucu oma kini telah kembali," tuturnya pelan, tetapi masih dapat didengar oleh Gilang yang duduk seperti biasa, di samping sang calon istri.
"Ge 'kan, tidak pernah pergi kemana-mana, Oma," protes Gilang, bercanda. Mencoba mencairkan keharuan sang oma.
"Raga kamu memang tidak pernah kemana-mana, Ge, tapi jiwa kamu yang sempat tidak dapat oma raih," balas Sang oma, membuat Gilang merasa bersalah pada wanita tua yang telah menemaninya selama ini.
"Maafkan Ge, Oma," pinta Gilang, tulus.
__ADS_1
Sang oma menggeleng dan kemudian tersenyum hangat. "Tidak perlu minta maaf, Nak. Kamu tidak salah apa-apa. Keadaan yang memaksamu dan merubah sikapmu," tutur sang oma dengan bijak.
"Sudah, malah jadi melo gini pagi-pagi. Ayo, kita sarapan!" ajak Erlan, menyudahi percakapan yang mengharu biru barusan.
Mereka pun segera menikmati sarapan buatan asisten rumah tangga keluarga Gilang, tentu masakan yang resepnya berasal dari sang oma yang memang jago masak.
Semua terlihat sarapan dengan lahap, begitu pula dengan Ailee yang pagi ini wajahnya nampak sangat berseri.
"Sayang, kamu mulai hari ini enggak usah bekerja lagi di perusahaan," ucap Gilang, di sela menikmati sarapannya.
Keputusan Gilang yang tiba-tiba, membuat Ailee reflek melepaskan sendok dan menghentikan menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Mas, enggak bisa seenaknya gitu, dong. Ai 'kan belum mengundurkan diri secara resmi sama atasan Ai. Enggak enaklah, kalau tiba-tiba main mundur tanpa pamitan," tolak Ailee yang masih ingin bekerja.
"Atasan kamu 'kan aku, Sayang. Udah, enggak perlu surat resmi pengunduran diri segala. Pokoknya aku enggak mau kalau kamu masih bekerja. Aku enggak mau lagi mendengar kamu dihina oleh orang-orang yang enggak mengerti apa-apa itu, tetapi asal bicara," tegas Gilang.
"Mas, tapi Ai masih pengin bekerja," rajuk Ailee, memaksa.
"Itu karena Oma sangat sayang sama kamu, Nak Ai. Biar saja, para asisten yang mengerjakan pekerjaan rumah," tutur sang oma.
"Kalau kamu bosan di rumah terus, bagaimana kalau kita ke salon untuk perawatan," bujuk sang oma, memberikan solusi.
"Benar apa kata Oma, Sayang. Lakukan perawatan terbaik untukku karena sebentar lagi kita akan segera menikah," sahut Gilang, antusias.
Ailee terdiam, gadis belia itu nampak menimbang.
"Bagaimana kalau perawatannya kapan-kapan saja, Oma. Hari ini, Ai pengin tetap berangkat untuk berpamitan pada teman-teman Ai," tawar Ailee, menatap sang oma dan sang calon suami secara bergantian.
"Beneran, cuma pamitan, ya?" tanya Gilang, memastikan.
Ailee mengangguk, pasti.
"Ya, boleh. Ayo, lanjutkan sarapannya!" Gilang menunjuk sendok Ailee yang tergeletak di atas piring, dengan dagunya.
__ADS_1
"Atau mau disuapin?" tawar Gilang, berbisik.
Ailee langsung menggeleng, tegas.
Tentu saja gadis cantik itu menolak karena mereka sedang makan bersama keluarga. Lagipula, ada Reno dan Kukuh juga di sana dan tentu hal tersebut tidak etis jika dilakukan di hadapan kedua remaja tersebut.
Sarapan yang penuh dengan kehangatan itu pun usai. Satria, Kukuh dan Reno, segera berpamitan untuk meluncur ke tempat belajar.
Ailee pun segera masuk ke dalam kamarnya, untuk bersiap. Sementara Erlan dan Gilang yang sudah ready, menunggu di ruang keluarga bersama sang oma.
"Ge, lantas apa rencanamu sekarang?" tanya sang oma setelah mendengar cerita dari sang cucu, bahwa papa kandung Ailee tidak merestui dan menolak menjadi wali nikah bagi Ailee.
"Bang Erlan yang akan urus semua untuk mengajukan perwalian hakim, Oma," balas Gilang dan Erlan menganggukkan kepala, mengiyakan.
Sang oma mengangguk-angguk. "Kasihan sekali ya, calon istrimu itu, Ge. Kelahirannya seperti tidak diharapkan, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa kasih sayang, bahkan ketika hendak menikah pun masih saja diabaikan!"
Netra tuanya yang berwarna keabuan tersebut, terlihat sangat marah dengan perlakuan keluarga Ailee terhadap gadis periang yang sebentar lagi akan menjadi cucu menantunya, istri dari Gilang.
"Tapi feeling Ge mengatakan, papanya Ai pasti akan mencari kami untuk memberikan restu dan kesediannya menjadi wali nikah bagi putrinya setelah dia mengetahui dengan siapa Ai akan menikah, Oma," ucap Gilang, yakin.
"Memangnya, kamu mengatakan siapa kamu, Ge?" tanya Erlan.
Gilang mengangguk. "Benar, Bang. Aku terpaksa mengatakan karena dia terlalu naif!"
Gilang kemudian menceritakan bagaimana papanya Ailee itu dengan begitu sombong mengatakan, hendak membuat pernyataan bahwa Ailee dan Gilang tidak pernah meminta restunya.
Erlan geleng-geleng kepala, tidak mengerti dengan sikap seorang ayah terhadap putri kandungnya yang begitu tega dan kejam, seperti papanya Ailee.
"Aku rasa, calon mertuamu itu sudah tidak waras, Ge. Hatinya pasti sudah mati!" rutuk Erlan, geram.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1