
Mereka berdua terbangun ketika hari beranjak siang. Gilang dan Ailee kemudian segera keluar untuk menuju ke kamarnya. Saat hendak melintasi ruang keluarga, Ailee menghentikan langkah karena melihat ada Mama Irna dan sang oma di sana.
"Mas, kita gabung kesana dulu, yuk," ajak Ailee.
"Ke kamar dulu, Yang. Kita harus mandi, kan?" tolak Gilang yang sepertinya belum siap untuk bertemu sang mama sekarang.
Ailee menganggukkan kepala. Mendengar ucapan sang suami tadi, sudah cukup baginya mengerti bahwa sang suami sudah bisa memaafkan mamanya. Hanya saja, mungkin suaminya masih butuh sedikit waktu lagi dan Ailee tidak akan memaksa.
"Ai ke sana bentar, ya. Nanti Ai segera menyusul Mas," ijin Ailee dan suaminya itu mengangguk, mengijinkan.
Gilang melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke arah sofa. Sementara Ailee langsung menghampiri kedua wanita yang berarti dalam hidup sang suami. Wanita cantik itu kemudian duduk di antara oma dan mama mertuanya.
"Oma, kok sepi? Budhe Ris sama Mbak Erna pada kemana?" tanya Ailee seraya menoleh ke arah sang oma.
"Er dan keluarganya keluar mau belanja untuk keperluan tunangan besok," balas sang oma.
"Oma enggak jadi ikut?" tanya Ailee kembali.
"Sudah ada mamanya Er dan juga kakaknya. Lagian oma 'kan harus menemani mama Irna, Nak," terang sang oma seraya menatap ke arah Mama Irna.
"Kalau tadi Oma mau ikut 'kan, Oma bisa panggil Ai dan Mama biar Ai yang menemani," protes Ailee.
"Tidak apa-apa, Ai. Lagipula, oma sudah tua. Capek kalau harus jalan muter-muter cari keperluan untuk seserahan. Biar saja yang muda-muda yang menemani Er," balas sang oma dan Ailee mengangguk, mengerti.
"Ge kenapa buru-buru ke kamar?" tanya sang oma kemudian.
Mendengar pertanyaan mama mertuanya, Mama Irna melirik ke arah pintu kamar utama yang kini ditempati oleh sang putra. 'Kamu benar-benar tidak bisa memaafkan mama, Ge?' batin Mama Irna, sedih.
Melihat perubahan wajah Mama Irna, Nenek Amira kembali membuka suara. "Sabar, Irna. Putramu butuh waktu. Yakinlah, menantumu ini pasti bisa membujuk suaminya untuk bisa menerimamu kembali."
Ailee tersenyum dan kemudian buru-buru beranjak karena teringat dengan janjinya pada sang suami. "Oh ya, Oma, Mama. Maaf, ya. Ai harus ke kamar dulu. Ada misi yang belum selesai," pamitnya.
"Misi apa, Nak?" tanya sang oma, bingung.
__ADS_1
"Misi menyenangkan suami, Oma, agar Mas Ge mau menuruti keinginan Ai," balas Ailee seraya terkekeh dan kemudian segera berlalu menuju ke kamarnya.
Sang oma yang ikut tertawa, hanya bisa geleng-geleng kepala. "Ada-ada saja anak itu," gumamnya
Mama Irna yang tidak tahu apa-apa, ikut tersenyum. "Ge kenal di mana sama istrinya itu, Ma? Sepertinya, dia masih sangat muda. Pasti usianya terpaut cukup jauh sama Ge," tanya dan tebak Mama Irna.
"Kamu benar, Irna. Dia memang masih belia. Adik kelas Satria sewaktu sekolah dulu. Aku yang mengenalkannya pada putramu," terang Nenek Amira.
"Mama?" Mama Irna mengerutkan dahi.
Omanya Gilang mengangguk dan kemudian mulai bercerita bagaimana awal mulanya beliau mengenal Ailee. "Aku sama Er sengaja merencanakan untuk mencarikan Ge calon istri."
Nenek Amira terus bercerita dan Mama Irna nampak mendengarkan dengan seksama. Wanita ringkih itu terlihat mulai berkaca-kaca ketika mendengar cerita bahwa putranya sempat mengalami trauma karena perselingkuhannya. 'Maafkan mama, Ge. Kini mama tahu, kenapa kamu begitu sulit memaafkan mama,' batinnya, sedih.
"Awalnya, putramu menolak Ailee, Irna. Namun, ketulusan hati wanita itu serta kelembutannya, akhirnya mampu meluluhkan hati putramu. Dan kamu bisa melihat sendiri 'kan, bagaimana sekarang Ge memperlakukan istrinya?" pungkas Nenek Amira seraya menatap ke arah kamar Gilang dan Ailee.
Mama Irna mengangguk-angguk. "Ge sangat manis, persis seperti papanya," gumam Mama Irna dengan air mata bercucuran.
'Putraku memang penuh kasih dan berhati lembut, Irna. Dia tidak akan pernah tega menyakiti hati wanita. Sayangnya, ketulusan cintanya kepadamu kalah dengan kemewahan yang ditawarkan oleh pria lain untukmu dan kamu terlena dengan kemewahan itu,' batin Nenek Amira sendu, mengingat kisah tragis sang putra.
"Irna, ayo kita ke dapur biar tidak jenuh!" ajak wanita tua yang bersahaja tersebut pada mamanya Gilang, mencoba mengusir rasa sakit hatinya pada sang mantan menantu.
Nenek Amira tidak mau hatinya dikuasai oleh amarah. Semua sudah berlalu. Sang putra sudah tenang di sana dan cucunya pun kini sudah bahagia. Kesalahan Mama Irna, biar saja wanita itu yang menanggungnya sendiri.
Kedua wanita itu kemudian segera beranjak untuk menuju dapur.
\=\=\=\=\=
Di sebuah pusat perbelanjaan. Budhe Ris dan Mbak Erna, dibuat bingung dengan permintaan Erlan. Kedua wanita berbeda generasi yang hampir memiliki garis kecantikan sama itu, sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Om, ini udah bagus, lho," protes sang kakak ketika lagi-lagi, Erlan menolak pilihan Mbak Erna.
"Kakakmu betul, Er. Itu modelnya memang sederhana, tetapi elegan," timpal sang mama.
__ADS_1
Erlan menggeleng. "Kurang bagus, Ma," tolak Erlan.
"Coba, carikan model lain yang limited edition, Mbak," pinta Erlan pada pegawai toko perhiasan tersebut.
"Kalau mau enggak ada yang nyamain modelnya, harusnya pesan jauh-jauh hari, Om. Bisa diukir nama juga sesuai request," terang Mbak Erna.
"Dadakan juga, sih, Mbak. Jadi enggak kepikiran sampai sana," balas Erlan.
"Yang limited edition, tinggal empat model ini, Mas. Mau yang mana? Batu ruby, berlian, atau yang ini, Mas? Ini batu safir," terang pegawai tersebut.
"Yang paling mahal, yang mana, Mbak?" tanya Erlan.
Pegawai toko perhiasan itu menunjuk salah satu cincin dengan batu mulia yang sangat indah, seraya menyebutkan harganya. Tanpa ragu, Erlan mengangguk setuju. Membuat sang kakak hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum.
"Belum jadi suaminya Dik Mai, udah bucin kayaknya, nih, si Om," cibir Mbak Erna melihat sang adik rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membeli cincin tunangan.
Erlan hanya mengedikkan bahu.
Sementara sang mama tersenyum. "Untuk gadis spesial, memang harus yang spesial ya, Er," tuturnya penuh pengertian.
Erlan yang berdiri di samping tempat duduk sang mama, kemudian memeluk mamanya itu. "Mama Er yang cantik ini, memang the best. Paling tahu apa yang putranya mau," puji Erlan yang kemudian melabuhkan ciuman hangat di pipi sang mama.
"Er, dia istri papa," protes sang papa yang sedari tadi memperhatikan putranya memilih cincin untuk sang calon tunangan.
Papanya Erlan jadi teringat masa muda dulu ketika hendak meminang sang istri. Dia juga mencarikan yang terbaik dan tidak mau jika ada yang menyamai modelnya. Persis seperti sang putra sekarang dan laki-laki berwibawa tersebut, tersenyum lebar.
"Ck... Papa, tuh, udah tua! Masih suka cemburu saja pada, Er," protes Erlan. "Pantas saja ya, Ma. Papa senang kalau Er tinggal jauh sama Mama dan Papa. Pasti karena Papa takut tidak bakal kebagian kasih sayang Mama karena sudah habis buat Er semua," ledek Erlan.
"Betul banget, Om. Bahkan, sama kedua cucunya saja, Papa cemburu, lho, Om," timpal sang kakak.
"Papa, tuh, kakek-kakek bucin kata Arkan dan Nando," lanjut Mbak Erna. Membuat sang mama tertawa, begitu juga dengan sang papa.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1