
Setelah kepergian Ailee dan pemuda tampan yang bersama sang putri, pemuda yang mengaku sebagai pemilik perusahaan besar sekelas GCC, papanya Ailee langsung marah-marah pada putri tertuanya.
"Aira! Usul kamu tadi benar-benar telah membuat kita kehilangan tambang emas!" hardiknya.
"Tadi Papa juga menyetujuinya, kan?" Sang putri pertama, tidak rela disalahkan.
"Sudah-sudah. Sekarang, kita pikirkan bagaimana caranya agar Ailee tetap menganggap kita sebagai keluarga dan Papa bisa tetap menjadi wali nikahnya," lerai Aina.
"Aina benar, Pa. Kita harus mengambil hati Ailee dan juga pemuda bernama Gilang itu, Pa," timpal Aira.
"Memangnya, kamu tidak tertarik dengan pemuda tadi, Na?" tanya sang papa, seraya menatap putri kedua.
"Tertarik, sih, Pa, tetapi itu gampang, lah. Kalau dia sudah menikahi Ailee, Aina pastikan akan merebutnya!" Calon dokter itu tersenyum seringai.
Aina sangat percaya diri, bahwa merebut Gilang dari Ailee adalah perkara yang sangat mudah.
"Hem, baiklah. Besok, papa akan menemui pemuda itu di kantornya dan mengatakan kalau papa merestui hubungan mereka berdua, serta bersedia menjadi wali bagi Ailee," pungkas laki-laki berkumis tebal tersebut seraya tersenyum penuh arti.
'Kalau benar dia adalah pemilik GCC, maka pamorku sebagai pengacara akan semakin melejit karena memiliki menantu pengusaha sukses seperti Gilang Chandra.'
'Dan satu lagi, aku akan memanfaatkan dia untuk mendapatkan klien orang-orang hebat jajaran pengusaha yang berkantong tebal.'
\=\=\=\=\=
Gilang yang masih fokus dengan laju kendaraannya, tiba-tiba menghentikan laju mobil mewah tersebut di depan sebuah ruko yang menjual ponsel pintar.
"Mas, kenapa berhenti?" tanya Ailee, tak mengerti.
Gadis berhijab itu mengedarkan pandangan, tetapi tidak menemukan apa yang dia cari.
"Tadi Mas bilang, kita mau makan. Kok berhentinya di sini? Di mana warungnya, Mas?" tanya Ailee kembali, setelah tidak menemukan adanya warung di deretan ruko tersebut.
"Kita makan nanti, ya. Setelah dari sini," balas Gilang seraya tersenyum.
"Memangnya, kamu sudah lapar banget ya, Sayang?" lanjutnya, bertanya.
Ailee menggeleng. "Enggak juga, sih, Mas. Cuma heran aja, tadi 'kan Mas bilang mau ngajakin Ai makan malam dulu sebelum pulang, tapi kok tiba-tiba berhenti di sini. Makanya Ai tanya," balas Ailee.
"Iya, Ai. Maaf, ya, enggak bilang dulu kalau mau mampir ke sini. Dadakan juga soalnya. Tadi dari jauh lihat ada papan nama itu, terus aku ingat kalau kamu enggak punya ponsel. Ya udah, langsung berhenti saja," ucap Gilang.
Pemuda tampan itu kemudian segera turun. Gilang berlari kecil untuk membukakan pintu bagi sang calon istri.
"Enggak perlu repot beliin Ai ponsel kali, Mas. Enggak dipakai juga," tolak Ailee, ketika Gilang sudah membukakan pintu untuknya.
"Enggak dipakai gimana? Kamu 'kan punya teman. Pakai, lah, untuk berkomunikasi sama teman-teman kamu," balas Gilang.
__ADS_1
"Teman dekat Ai cuma si Etik, Mas, dan dia juga enggak punya ponsel. Lantas, buat apa coba? Enggak usah aja, deh, daripada mubadzir," kekeuh Ailee, menolak.
Gadis itu pun enggan untuk turun dari tempatnya duduk yang nyaman.
"Enggak bakalan mubadzir, Sayang. Kamu 'kan bisa komunikasi sama aku?"
"Kita 'kan selalu deketan, Mas. Satu rumah pula. Buat apa coba, komunikasi pakai ponsel? Biar kayak anak-anak jaman sekarang, deketan tapi chat-an?" Ailee terkekeh pelan, mengingat kelakuan teman-temannya ketika di sekolah dulu.
Mereka bisa ghibah bersama di group chat, padahal tempat duduk mereka saling berdekatan.
"Kalau pas lagi di rumah ya enggak perlu, lah, Sayang. Kita gunakan itu ketika aku sedang tidak berada di rumah," balas Gilang.
"Mau, ya?" bujuknya, kemudian.
Ailee menggeleng.
"Gimana coba kalau pas lagi kerja, tiba-tiba aku kangen? Kalau kamu punya ponsel 'kan, aku bisa VC kamu, Sayang," bujuk Gilang kembali, membuat Ailee kemudian menganggukkan kepala.
"Ya udahlah, terserah Mas Gilang saja, tapi ada syaratnya." Ailee tersenyum penuh rencana seraya menatap Gilang.
"Orang yang mau beliin aku, kenapa jadi kamu yang mengajukan syarat?" protes Gilang, tetapi pemuda tampan itu mengangguk juga menyetujui syarat dari Ailee.
"Dah, katakan cepat!" pinta Gilang, dengan tidak sabar.
"Nanti makan malamnya, Ai yang nentuin tempatnya. Gimana?"
"No protes, no debat?" Ailee menatap Gilang, untuk meyakinkan.
Presiden direktur perusahaan besar tersebut mengangguk, pasti. Gilang segera memegang tangan Ailee dan membantu sang calon istri untuk turun dari mobil mewahnya.
Mereka berdua kemudian berjalan bersisihan, menuju counter yang menjual aneka merk ponsel pintar.
\=\=\=\=\=
Setelah melalui diskusi yang cukup alot karena Ailee maunya ponsel yang biasa-biasa saja, sementara Gilang ingin memberikan yang terbaik, ponsel untuk Ailee pun telah didapatkan, lengkap dengan nomornya yang cantik.
Gilang kemudian segera melajukan mobilnya kembali, membelah jalanan beraspal ibukota untuk menuju tempat yang ditunjukkan oleh Ailee.
Tempat makan tersebut satu arah dengan jalan mereka pulang dan daerahnya Gilang hafal betul karena cukup dekat dengan mess para karyawan berada.
Sepanjang mengendarai mobilnya, Gilang terus mengerutkan dahi. Dia mengingat-ingat adakah cafe atau restoran di daerah sana, tetapi memori pemuda tampan tersebut tidak dapat menemukan tempat yang dimaksud.
"Di sebelah mana, sih, Ai? Di sebelah kanan atau kiri jalan?" tanya Gilang, memastikan.
"Di kanan dan kiri jalan ada semua, kok, Mas," balas Ailee dengan santainya.
__ADS_1
Gadis berhijab itu senyum-senyum sendiri, membayangkan apa yang bakal terjadi jika dirinya menyebutkan secara detail ciri-ciri tempat makan yang dia maksudkan.
"Di sepanjang jalan sana, seingatku enggak ada resto atau rumah makan besar, Sayang," ucap Gilang.
"Memang bukan restoran besar, Mas, tapi cafe," balas Ailee.
"Cafe-cafe," gumam Gilang, seraya mengingat-ingat.
Sedetik kemudian pemuda tampan tersebut menggeleng-gelengkan kepala. "Enggak ada, Ai. Aku belum pernah lihat, di daerah sana ada cafe," ucap Gilang, kemudian.
"Sabar, nanti Mas juga bakalan lihat, kok," balas Ailee seraya menoleh ke arah jendela kaca, untuk menyembunyikan senyumnya.
"Mas, nanti di depan, ambil jalan kecil yang ke kiri, ya," pinta Ailee.
"Yang mana?" Gilang mengamati jalan di depannya.
"Itu, yang depan." Ailee menunjuk arah depan sisi kiri.
Gilang yang sudah memelankan laju mobilnya, melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ailee dan dahi pemuda tersebut semakin berkerut dalam begitu melihat ada banyak warung tenda di sana.
"Warung tenda?" tanya Gilang, seraya menoleh ke arah sang calon istri yang selalu tersenyum itu.
Ailee menggeleng. "Di antara deretan warung tenda, Mas, tapi bukan warung tenda," balas Ailee.
"Dah, jalan terus aja," pinta Ailee.
Terpaksa, Gilang menjalankan mobilnya dengan sangat pelan karena melintasi jalan kecil di mana banyak motor dari pelanggan warung tenda yang parkir sembarangan.
"Mas, mobilnya parkirkan di sebelah sana aja. Kayaknya, pedagangnya libur, jadi tempat itu kosong." Ailee menunjuk salah satu lapak yang kosong.
Gadis itu memang sangat hafal tempat ini karena Ailee biasa mencari makan malam di sekitar jalan ini, jalan yang dekat dengan mess karyawan.
Gilang hanya bisa pasrah, mengikuti saja apa kata sang calon istri.
"Lantas, kafenya di sebelah mana, Sayang?" tanya Gilang, setelah mereka berdua turun dari mobil.
Hampir semua pengunjung yang kebanyakan makan di tempat lesehan dan beratapkan langit, melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan tak percaya.
"Tuh, di depan."
"Mana?" Meskipun Gilang sudah mengikuti arah jari telunjuk Ailee, tetapi netranya tetap tidak menemukan kafe yang dia maksud.
"Itu, Mas. Kafe meong," ucap Ailee. "Mas pikir kafe apa?" Ailee terkikik geli. Sementara Gilang, semakin tak mengerti.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1