
Kehidupan bahagia Gilang dan Ailee memang belum sepenuhnya kembali seperti semula. Mereka berdua masih berharap agar segera diberikan gantinya oleh Yang Maha Kuasa. Keluarga terdekat juga terus mendukung dan memberikan supportnya.
Tidak jarang ketiga keponakan sengaja membuat joke-joke segar untuk menghibur istri omnya. Terutama Satria yang tidak suka melihat wajah cantik Ailee bermuram durja. Wajah yang dulu sangat dia kagumi ketika masih duduk di bangku SMA.
"Li, kapan kalian berangkat bulan madu?" tanya Satria pada suatu sore ketika mereka tengah berbincang dengan hangat di taman samping.
"Kenapa Bang Sat tanya seperti itu? Mau ikut?" sahut Reno, bertanya.
"Kalau Bang Sat ikut, kita juga harus ikut, Ren," timpal Kukuh.
"Ish, kalian ini selalu saja ngintil kemanapun aku pergi," balas Satria, membuat Maida tertawa.
Ailee tersenyum. "Nanti kalau kami sudah pulang dari umroh, kita piknik bareng lagi, ya. Aku akan bilang sama Mas Gilang agar meluangkan waktu untuk kita semua."
"Aku setuju sama Ai. Nanti kita sama-sama," timpal Maida.
"Asyik!" seru Reno dan Kukuh, serempak.
"Seneng banget kalian, ada apa?" tanya Gilang yang baru saja datang, bersama dengan Erlan.
"Seneng dong, Om. Kami mau diajak Kak Ai dan Kak Mai camping, tanpa Om berdua," balas Kukuh seraya terkekeh.
Gilang langsung menyentil kening keponakannya. Pemuda tampan itu lalu duduk di samping istrinya. Ailee kemudian menyalami sang suami dan dibalas Gilang dengan mencium kening seperti biasa. Maida dan Erlan pun melakukan hal yang sama.
Satria berdeham. "Ada anak di bawah umur, Om. Jangan mengumbar kemesraan!" Tatapan Satria, tertuju pada Gilang dan istrinya.
__ADS_1
"Bukan mengumbar kemesraan, Sat, karena yang aku cium kening istriku, bukan yang lain. Aku hanya memberi contoh baik pada kalian," sanggah Gilang, membela diri.
"Lagian, kenapa hanya kami berdua yang kamu protes? Bang Er, kenapa enggak? Kayaknya, kamu masih sentimen, deh, Sat, sama kami berdua," lanjut Gilang seraya menatap sang keponakan, membuat Satria salah tingkah.
"Sebentar lagi maghrib. Kalian masih mau ngobrol di sana?" Suara sang oma dari ambang pintu yang menuju ke taman, membubarkan mereka semua.
"Sat, besok kamu ada jam kuliah, enggak?" tanya Gilang sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Enggak ada, Om. Kenapa? Butuh bantuan?"
Gilang mengangguk. "Besok, kamu temani oma dan ombu ke bandara. Beliau berdua, mau ikut mengantarkan keberangkatan kami katanya. Padahal, om sudah melarang," pinta Gilang seraya menatap sang keponakan.
"Siap, Om," balas Satria penuh semangat.
Gilang menggeleng. "Kalian harus tetap sekolah! Kalau kalian bolos, om enggak mau ngajak kalian jalan-jalan lagi!" Penolakan Gilang membuat Kukuh dan Reno menekuk wajah kesal, tetapi Gilang tidak peduli.
Malam harinya, seperti biasa mereka berkumpul di meja makan. Sang oma memberikan ceramah panjang lebar agar Gilang dan Erlan menjaga istri mereka. "Jangan buat mereka kelelahan!" pesannya seraya menatap Gilang dan Erlan.
"Kalau lelahnya lelah enak, enggak apa-apa kali, Oma?" sahut Gilang seraya tersenyum menggoda sang oma.
"Kamu ini, kalau dibilangin orang tua malah ngeledek!" Sang oma pura-pura kesal, padahal dalam hati wanita tua itu bersyukur karena sang cucu memperlakukan sang istri dengan sangat baik.
Mama Irna tersenyum, mendengar candaan sang putra. Sementara Kukuh mengerutkan dahi, mencoba menerka perkataan omnya. Satria yang melihat ekspresi sang adik, langsung menoyor pelan kepala adiknya.
"Jangan menyimpulkan macam-macam perkataan Om Ge tadi!"
__ADS_1
"Ish, Bang Sat! Kukuh 'kan lagi konsentrasi!" protes Kukuh.
"Kalau masalah orang dewasa aja, kamu cepat tanggap dan langsung mode konsentrasi tingkat tinggi. Tapi kalau pelajaran di sekolah, kenapa ogah-ogahan?"
"Siapa yang ogah-ogahan, Bang?", tanya Kukuh.
"Ya kamulah, Dik! Siapa lagi? Kamu 'kan enggak pernah mau belajar?" Satria bersungut kesal karena sang adik memang susah kalau dibilangin untuk belajar. Kukuh memang masuk ke dalam kamar, tetapi kemudian sibuk dengan game-nya, bukan untuk belajar.
"Di sekolah 'kan udah belajar, Bang. Ngapain juga di rumah masih harus belajar? Enggak usah belajar juga, Kukuh udah paham, kok," balas Kukuh. "Lagian ya, Bang. Kalau orang itu belajar terus, nanti cepat tua, loh. Tahu-tahu aja, masa mudanya ilang karena sibuk belajar," lanjut Kukuh seraya terkekeh.
Sontak, remaja itu mendapatkan hadiah sentilan dari abang dan omnya. "Kamu memang sudah cerdas dari sananya, Dik, dan kami tahu itu," ucap. Satria.
"Tapi enggak benar juga kalau kamu lantas berkata seperti itu, Kuh. Belajar itu tetap penting. Belajar apa saja, enggak harus baca buku pelajaran sekolah. Kamu bisa baca buku-buku pengetahuan lain untuk memperkaya ilmu pengetahuan, Kuh. Jangan kebanyakan main game!" timpal Gilang, menasehati sang keponakan.
Kukuh mengangguk, paham. "Iya, Om. Kukuh juga sering, kok, baca buku-buku punya Bang Sat."
"Buku apa, Sat?" tanya Erlan, curiga.
"Eh, enggak, Om. Itu, buku ... buku panduan anu, Om. Panduan masuk Perguruan Tinggi. Benar 'kan, Dik?" Satria nampak sangat khawatir jika sang adik membuka suara.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
Mampir, yah.. udah bab. 5
__ADS_1