Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Membuat Api Unggun di Kamar


__ADS_3

Hari berganti, waktu pun terus berlalu. Semua kembali berjalan seperti biasanya. Hanya satu yang mampak berbeda, tidak ada lagi hal aneh yang Ailee minta. Permintaan ibu hamil yang sedang ngidam, yang terkadang membuat sang suami pusing tunjuk keliling, tetapi Gilang tetap menikmati perannya sebagai suami siaga.


Meskipun telah mengikhlaskan dan menerima semua takdir-Nya dengan lapang dada, terkadang rasa kehilangan itu kembali muncul dan membuat Ailee kembali berduka. Seperti pagi ini, ketika dia hendak mengambilkan pakaian kerja untuk Gilang, Ailee dibuat tertegun di depan almari pakaian suaminya. Wanita muda itu masih saja berdiri di sana sambil melamun hingga Gilang selesai membersihkan diri dan mencari keberadaannya.


"Sayang, kamu di mana? Mana pakaian gantiku?" Suara Gilang yang baru saja keluar dari kamar mandi menggema, memenuhi ruang kamar. Namun, suara bariton yang sangat disukai Ailee itu tidak mampu membuat istri belia Gilang tersebut tersadar dari lamunan.


Gilang yang melihat pintu menuju ruang ganti terbuka, kemudian berjalan menuju ke sana. Pemuda tampan itu tersenyum kala melihat sang istri ada di ruangan tersebut. Gilang terus mendekat dan kemudian memeluk sang istri dari belakang dengan erat.


"Mas, udah selesai mandinya?" tanya Ailee yang merasa terkejut karena tiba-tiba ada tubuh yang menguarkan aroma wangi sabun mandi, memeluknya tubuhnya.


"Kamu kenapa bengong di sini, Yang? Katanya, mau mengambilkan pakaian ganti untukku?" Gilang bukannya menjawab pertanyaan sang istri, tetapi malah melemparkan pertanyaan.


"Ai teringat anak kita, Mas." Ailee tertunduk dan tangannya reflek mengusap perutnya yang rata dan sudah tidak ada lagi janin di dalam sana.


Gilang tertegun mendengar perkataan sang istri. Dia pun ikut merasa sedih melihat kesedihan Ailee. Gilang lalu membalikkan tubuh istrinya dan mendekap wanita belia itu di dada.


"Aku pun merindukannya, Yang, tapi kita enggak boleh larut dalam kesedihan," ucap Gilang yang kemudian melabuhkan ciuman di puncak kepala sang istri dengan dalam. Ciuman yang lama karena pemuda itu pun sungguh merasa sangat kehilangan.


"Kenapa tiba-tiba mengingatnya lagi, hem?" Setelah cukup lama saling memeluk, Gilang sedikit memberi jarak dan kemudian menangkup kedua sisi pipi sang istri.


Ailee menjawab dengan menunjuk arah dalam almari. Pandangan mata Gilang mengikuti arah jemari telunjuk Ailee. Nampak deretan pakaian yang tergatung rapi, yang kala itu dipilihkan oleh sang istri.


"Baju pelangi itu?" tanya Gilang dan Ailee menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Dulu, Ai yang maksa Mas agar memakai baju-baju aneh itu kalau hendak bekerja." Suara Ailee terdengar tercekat di tenggorokan.


Menyadari bahwa saat ini sang istri benar-benar sedang dalam kesedihan yang mendalam, Gilang kembali mendekap erat Ailee. Rupanya, melihat baju-baju bermotif dengan warna yang mencolok tersebut telah membuat Ailee teringat akan kehamilannya kembali. Gilang berjanji dalam hati, akan menyumbangkan semua benda yang dapat mengingatkan sang istri dengan kehamilan dulu pada orang lain yang membutuhkan, termasuk parfum aroma aneh dan juga sepatu kekinian yang tidak sesuai dengan seleranya.


"Apa kamu sudah bersih, Sayang? Bagaimana kalau kita mewujudkan bulan madu kita yang tertunda?" Setelah beberapa saat saling terdiam, Gilang mengalihkan pembicaraan agar sang istri tidak larut dalam kesedihan.


"Mungkin nanti sore Ai mandi besar, Mas. Masih ada kecoklatan sedikit," balas Ailee seraya tersenyum, tersipu.


Mendengar sang suami bertanya seperti itu, membuat jantung Ailee berdebar. Dia seperti merasa baru saja akan menghadapi malam pertama yang panjang. Perasaan gugup pun menderanya sekarang.


Perasaan Ailee semakin tidak karuan, ketika sang suami menatap dirinya dengan tatapan menggoda. Ailee semakin salah tingkah dibuatnya. Wanita belia itu lalu menundukkan kepala. "Jangan menatap Ai seperti itu, Mas."


Gilang semakin gemas, melihat istrinya yang malu-malu seperti dulu. Pemuda tampan itu lalu mengikis jarak di antara keduanya. Tanpa ragu karena nanti malam dia akan mendapatkan kenikmatan dari penyatuan bersama sang istri tercinta setelah sekian lama, Gilang kemudian menyatukan wajahnya.


"Cukup, Mas! Kita 'kan belum bisa melakukannya sekarang," cegah Ailee sambil mendorong pelan dada bidang sang suami, ketika wanita belia itu menyadari ciuman suaminya semakin menuntut.


"Lagian, Mas juga harus segera berangkat ke kantor," lanjutnya yang kemudian mengambilkan baju kerja untuk suaminya, seperti tujuan semula.


Gilang tersenyum nakal. "Aku tahu, Yang. Tadi itu DP dulu, pelunasannya nanti malam," ucapnya seraya menerima pakaian dalam yang diberikan sang istri.


Ailee mengerutkan dahi. "Kayak beli barang aja, sih, Mas!" protesnya kemudian sambil terkekeh kecil, membuat Gilang ikut tertawa senang karena sang istri sudah kembali ceria.


Gilang lalu mengenakan ****** ***** di hadapan sang istri. Dia melakukannya tanpa rasa canggung karena sudah terbiasa seperti itu. Hal itu membuat Ailee protes.

__ADS_1


"Mas kebiasaan, deh, kalau mengenakan daleman handuknya dilepas duluan!" Ailee segera mengambil handuk yang dibiarkan Gilang teronggok di lantai. Dia menyibukkan diri memungut handuk tersebut agar tidak melihat apa yang dilakukan oleh sang suami.


Gilang tersenyum melihat tingkah sang istri yang kembali malu-malu tapi mau seperti dulu. Pemuda tampan tersebut semakin bergairah dengan sikap istrinya itu. Dia tidak sabar menunggu hari segera berganti malam dan sang mentari tenggelam di peraduan.


"Yang, nanti sore buatkan aku kamu, ya," bisik Gilang di telinga istrinya. Hal itu membuat Ailee meremang karena bulu-bulu kasar di wajah Gilang menempel di area sensitifnya.


Wajah Ailee merona merah. Dia semakin malu dan bertambah salah tingkah. "Udah, ah, Mas harus segera beragkat! Katanya ada meeting pagi dengan para manager." Ailee sengaja mengalihkan pembicaraan.


Telaten, wanita belia itu membantu mengancingkan kemeja sang suami. Dia lalu memakaikan dasi motif garis yang sudah dipilihkan untuk Gilang. Setelah yakin bahwa penampilan sang suami sempurna seperti biasa, Ailee lalu melabuhkan ciuman di pipi suaminya.


"Sayang, nanti siang ke kantor, ya. Aku pengin makan siang berdua di sana," pinta Gilang, setelah membalas ciuman sang istri dengan mencium kening Ailee.


Ailee menganggukkan kepala. Wanita muda itu lalu mengenakan hijab, sebelum keluar dari kamar untuk melepas kepergian suaminya. "Iya, Mas. Nanti siang, Mas mau makan lauk apa?" balas Ailee, bertanya.


Wanita belia itu kemudian mendekati sang suami yang tengah menatapnya, lekat. Ailee lalu bergelayut manja di lengan sang suami untuk keluar bersama. Gilang tersenyum karena kemanjaan seperti inilah yang dia sukai dari istrinya.


"Kalau kamu tidak keberatan, aku mau dimasakin tumis kerang tiram pedas," balas Gilang seraya tersenyum penuh arti.


Darah Ailee berdesir, mendengar permintaan Gilang. Dia tersenyum sendiri, membayangkan apa yang akan mereka lalui nanti malam. Pasti akan terjadi malam ke sekian yang sangat panjang.


"Biar malam kita nanti, semakin membara," lanjut Gilang dengan berbisik karena mereka sudah tiba di meja makan.


"Om Ge mau membuat api unggun ya, di kamar?" celetuk Kukuh yang tanpa sepengetahuan Gilang, berada di belakang mereka berdua.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2