Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Mejikuhibiniu


__ADS_3

Setelah memastikan urusan Gilang selesai, Erlan pun pamit pada adik sepupunya itu untuk ke rumah orang tua Maida. Dia menyempatkan pergi ke kantor sebentar karena ada yang hendak disampaikan pada Sindu. Sementara Gilang langsung menjemput sang istri untuk kembali membesuk Bu Kasih di rumah sakit.


Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya jika dia membawa kendaraan dengan ngebut. Ya, pemuda tampan itu selalu berhati-hati dan siaga menjaga sang istri yang tengah mengandung sang buah hati. Gilang bahkan rela melakukan apapun demi menuruti keinginan sang istri.


Seperti siang ini, pemuda tampan itu mengenakan kemeja dengan motif tumbuhan berwarna cerah yang dipadukan dengan celana pendek. Penampilan Gilang seperti anak muda yang sedang piknik ke pantai padahal mereka berdua sedang berkunjung ke rumah sakit. Gilang melakukannya demi menyenangkan hati sang istri tercinta dan dia sama sekali tidak merasa risih.


Tentu saja penampilan suami Ailee itu menjadi pusat perhatian bagi setiap orang yang berpapasan dengan pasangan yang selalu romantis itu. Namun, Gilang tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang menganggap aneh penampilannya. Baginya, kebahagiaan sang istri tercinta yang utama.


"Mas. Mereka semua menatap Mas dengan tersenyum, tuh. Artinya, suami Ai yang tampan ini cocok jika mengenakan hem motif seperti ini. Mulai besok, Mas pakai hem seperti ini ya jika ke kantor," bisik Ailee, membuat Gilang menghentikan langkah lalu menatap sang istri.


"Kenapa, Mas? Mas keberatan?" Wajah cantik di hadapan Gilang tiba-tiba berubah menjadi sendu, membuat pemuda tampan itu urung untuk melayangkan protesnya.


Gilang hendak menolak keinginan sang istri barusan. Tidak mengapa jika dia mengenakan hem motif bunga-bunga sekalipun saat jalan dengan sang istri agar istrinya yang tengah mengandung itu merasa senang. Namun, jika dia harus mengenakan hem motif seperti itu ke kantor, apa kata dunia? Begitulah kira-kira yang dipikirkan oleh Gilang saat ini.


Melihat wajah sendu istrinya, Gilang hanya bisa menghela napas panjang. Suami Ailee itu lalu mengangguk, pasrah. "Baiklah, Sayang. Apapun yang kamu inginkan akan aku lakukan. Yang penting kamu harus terus bahagia agar anak kita juga bahagia." Gilang kemudian mengusap dengan lembut perut sang istri, membuat senyuman di wajah Ailee, kembali.


Mereka berdua melanjutkan langkah untuk menuju ruang rawat Bu Kasih. Ailee yang membawakan buah, segera menyimpan buah segar tersebut di atas nakas setelah mereka berdua mengucap salam. Ailee lalu mendekat ke ranjang pasien.


"Ibu apa kabar? Sudah lebih baik?" tanya Ailee seraya menyalami wanita yang wajahnya terlihat semakin lebih tua dari usia sebenarnya. Beban hidup, serta himpitan ekonomi membuat wanita yang jarang tersenyum itu terlihat cepat tua.


"Alhamdulillah, Nyonya, saya sudah lebih baik. Dokter bilang, besok saya sudah diijinkan untuk pulang," terang Bu Kasih dengan netra berbinar karena sebentar lagi sudah bisa bertemu dengan sang buah hati yang saat ini dijaga oleh tetangganya.


"Syukurlah kalau begitu, Bu. Besok, biar Damar yang menjemput Bu Kasih dan mengantarkan ke rumah orang tua kami. Bu Kasih bisa istirahat dulu di sana dan setelah benar-benar sehat, Bu Kasih bisa mulai bekerja membantu kakak kami," ucap Gilang Gilang panjang lebar, membuat Bu Kasih tersenyum bahagia.


Tidak henti wanita tua itu mengucapkan rasa syukur dalam hati karena bertemu dengan orang-orang baik seperti Gilang dan istrinya. "Terima kasih, Tuan Gilang, Nyonya Ailee. Saya berhutang budi pada Tuan dan Nyonya," tuturnya seraya menangkup kedua tangan di depan dada.

__ADS_1


"Jangan berlebihan, Bu. Kami hanya membantu sebisa kami." Ailee menepuk lembut pundak Bu Kasih.


"Tuan, maaf. Kata Mas Damar, Nesa saat ini ditahan di kantor polisi. Apakah dia masih di sana, Tuan?" tanya Bu Kasih kemudian, teringat akan anak tirinya yang selalu semena-mena pada Bu Kasih dan anaknya.


"Masih, Bu. Proses hukumnya mungkin menunggu sampai Bu Kasih sehat dan bisa bersaksi di pengadilan," balas Gilang. "Kenapa, Bu?" lanjutnya, bertanya.


"Sebenarnya saya kasihan dengan anak itu, Tuan. Dia salah pergaulan karena ibunya yang telah menjerumuskan Nesa hingga dia akhirnya terjebak ke dalam dunia seperti itu. Saya sudah sering mengingatkan, tapi sepertinya hati Nesa sudah membatu." Tatapan Bu Kasih menerawang jauh, mengingat akan madunya yang suka menjajakan diri meski statusnya masih menjadi seorang istri.


"Bu. Nesa harus diberi pelajaran agar dia bisa sadar bahwa setiap perbuatan pasti akan dapat balasan. Biar dia merenung dan belajar dari kesalahannya, Bu. Bu Kasih jangan khawatir, di dalam penjara Nesa akan mendapatkan pengarahan dan juga bekal untuk melanjutkan hidup jika dia sudah bebas nanti," terang Gilang yang bisa menangkap keinginan Bu Kasih untuk membebaskan sang anak tiri.


"Benarkah, Tuan? Apa dia tidak akan semakin nakal setelah keluar dari penjara nanti? Mengingat, di sana dia akan berkumpul dengan orang-orang yang tidak benar?" Wajah tua di samping Ailee itu nampak sangat khawatir.


Ya, sebagai orang tua Bu Kasih tetap merasa tidak tega jika sampai Nesa harus masuk penjara meskipun anak tirinya itu sudah berlaku semena-mena terhadap dirinya. "Saya takut, Nesa akan semakin liar setelah keluar dari penjara, Tuan," imbuhnya.


"Bu. Semua itu memang tergantung orangnya. Ada yang setelah keluar dari penjara, dia benar-benar taubat dan menjadi lebih baik. Namun, ada juga yang tambah jahatnya seperti yang Bu Kasih khawatirkan," balas Gilang.


"Bu. Jika menurut saya, sebaiknya memang Nesa diberi pelajaran agar dia jera. Ibu sebagai orang tua, do'akan saja agar Nesa benar-benar bisa berubah dan tidak lagi melakukan perbuatan yang tidak baik," timpal Ailee, membuat Bu Kasih menganggukkan kepala.


"Baiklah, Nyonya. Saya akan memberikan kesaksian," tutur Bu Kasih, kemudian.


Setelah berbincang cukup lama dengan Bu Kasih, Gilang dan Ailee kemudian berpamitan. Mereka berdua lalu meninggalkan ruang perawatan Bu Kasih dengan saling menggenggam tangan erat.


"Mau kemana lagi, Yang?" tanya Gilang setelah mereka berdua berada di dalam mobil.


"Ke rumah papa ya, Mas. Ai mau bicara sama Kak Aira tentang Bu Kasih," pinta Ailee dan Gilang langsung melajukan mobil mewahnya meninggalkan area parkir rumah sakit.

__ADS_1


"Mas, kita mampir ke mall dulu, ya," pinta Ailee setelah cukup jauh mobil tersebut melaju.


"Oke," balas Gilang singkat, menyetujui keinginan sang istri.


Setelah lima belas menit melaju, Gilang mengarahkan mobilnya menuju area parkir sebuah pusat perbelanjaan yang berada tidak jauh dari kediaman mertuanya. Gilang memarkirkan mobil di tempat yang masih kosong lalu segera turun. Berlari kecil suami tampan Ailee itu mengitari depan mobil untuk membukakan pintu bagi sang istri.


Mereka berdua lalu bergandengan tangan memasuki pusat perbelanjaan tersebut. Penampilan Gilang kembali menjadi pusat perhatian pengunjung di mall tersebut. Gilang hanya memasang wajah datar, tanpa mempedulikan tatapan mereka yang pasti merasa aneh melihat penampilannya.


Sementara sang istri yang berjalan di sampingnya nampak selalu tersenyum. Dia merasa sangat bangga berjalan dengan sang suami yang berpenampilan nyentrik. "Mas, kita ke sana, ya," pinta Ailee seraya menunjuk ke stand busana pria.


Gilang mengerutkan dahi. "Kamu mau membelikan aku pakaian?" tanya Gilang dengan perasaan yang mulai khawatir.


Ailee hanya menganggukkan kepala, memberikan jawaban. Wanita belia itu mempercepat langkah karena sudah tidak sabar ingin memilihkan pakaian untuk suaminya. "Ayo, Mas!" Dia lalu menyeret tangan sang suami agar mempercepat langkah.


Benar adanya kekhawatiran Gilang. Yang dituju sang istri adalah deretan pakaian di mana di sana terdapat banyak hem motif tumbuhan dengan warna-warna yang ngejreng seperti yang dia kenakan. Pemuda tampan itu menghela napas panjang kemudian.


Sementara sang istri nampak sangat antusias. Ailee segera melepaskan tangan sang suami lalu memilih beberapa hem yang harus dikenakan suaminya jika ke kantor. "Mas, ini Ai pilihkan warna yang lengkap." Ailee tersenyum sumringah seraya menujukkan beberapa potong hem lengan pendek berwarna-warni pada sang suami.


"Kamu serius, Sayang, memilihkan warna-warna ini untukku?" tanya Gilang menatap tidak percaya dan Ailee mengangguk yakin.


"Iya, Mas. Kenapa?" tanya Ailee dengan senyumnya yang menggemaskan.


"Mejikuhibiniu?" Dahi Gilang berkerut dalam.


☕☕☕ bersambung... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2