Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Mau Apa, sih, Dia!


__ADS_3

Gilang menyudahi obrolan bersama sang abang sepupu karena malam semakin larut. Pemuda itu kemudian kembali ke lantai bawah untuk menuju ke kamarnya. Perlahan pemuda tampan tersebut membuka pintu kamar dan menutupnya lagi juga dengan sangat pelan karena tidak ingin menggangu tidur sang istri.


Baru saja Gilang hendak naik ke atas ranjang, sang istri yang dikira sudah tidur tersebut membuka suara. "Mas kenapa lama sekali? Katanya cuma mau ngambil air minum tadi?" protes Ailee.


"Kamu belum tidur, Sayang?" tanya Gilang, sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Pemuda itu kemudian merebahkan diri, di samping istrinya.


"Ai mana bisa tidur, Mas, kalau enggak dipeluk sama Mas," balas Ailee yang kemudian memeluk tubuh sang suami dan menggunakan lengan Gilang sebagai bantalnya.


Gilang tertawa senang dan kemudian mencium puncak kepala sang istri, penuh rasa sayang. "Kamu enggak lagi merayuku 'kan, Sayang?"


"Beneran, Mas. Ai udah mencoba untuk tidur tadi, tetapi enggak bisa," balas Ailee sejujurnya.


"Apa kamu mau lagi, Sayang?" pancing Gilang.


"Tergantung sikon, Mas," balas Ailee, terkikik sendiri. Tangannya mulai menelusup masuk ke dalam piyama sang suami dan memainkan bulu-bulu halus di dada suaminya.


"Nakal kamu." Gilang kemudian mencubit mesra pipi istri kecilnya.


"Maaf, ya. Tadi aku menemui Bang Er dan ngobrol sebentar sama dia. Membicarakan bagaimana nanti jika Bang Er udah menikah," terang Gilang, menjawab pertanyaan istrinya tadi.


"Bang Er dan Mai akan tetap di sini 'kan, Mas? Ai senang kalau ada temannya," tanya Ailee antusias, seraya mendongak menatap suaminya.


Gilang menghela napas panjang dan kemudian menggeleng. Pemuda tampan itu lalu mengusap-usap pipi sang istri. "Belum pasti, Sayang. Semoga aja, mereka tetap di sini," balas Gilang seraya menatap manik hitam istrinya.


Sejenak, kedua netra mereka saling bertaut dalam. Seolah sedang bercengkrama dalam diam. Membicarakan banyak hal tentang kehidupan.


"Bobok, yuk. Udah malam," ajak Gilang yang kemudian mencium dalam kening sang istri.


"Yakin, mau langsung bobok?" goda Ailee seraya memainkan alis hitam nan lebat milik Gilang. Jemari lentik Ailee kemudian turun ke hidung mancung sang suami, lalu kembali turun dan meraba bibir seksi suaminya. Ailee menjerit kecil kala Gilang tiba-tiba menggigit jari nakalnya.


"Kamu memang benar-benar nakal, Sayang. Lihatlah di bawah sana, dia sudah bangun karena ulahmu!"

__ADS_1


Ailee yang dipaksa oleh sang suami untuk melihat ke area bawah suaminya, terkekeh senang. Istri cantik Gilang itu kemudian memainkan jemarinya di sana. Membuat Gilang semakin mabuk kepayang.


"Sayang, kamu benar-benar menggodaku," racau Gilang dengan mata merem melek, menikmati permainan jemari tangan istrinya yang mere*mas lembut pusaka keramat miliknya.


"Udah ya, Mas. Ai udah ngantuk, mau bobok." Tiba-tiba Ailee menyudahi permainannya dan tanpa rasa bersalah langsung membaringkan tubuh dengan posisi miring, membelakangi sang suami seraya tersenyum puas.


"Benar-benar nakal kamu, Sayang. Baiklah, aku akan menuntaskannya dengan caraku," ucap Gilang yang kemudian memeluk istrinya dari belakang.


Pemuda tampan itu kemudian menghujani tengkuk sang istri dengan ciuman basah. Sementara tangan Gilang, aktif di depan sana dan mere*mas lembut dada istrinya. Membuat sang istri mulai mende*sah manja.


Malam yang telah larut dan udara di luar sana yang terasa semakin dingin, berbanding terbalik dengan suasana di dalam kamar itu. Di mana sepasang suami-istri yang tengah melakukan penyatuan, merasa kepanasan dengan keringat yang bercucuran.


\=\=\=\=\=


Pagi menjelang. Kesibukan di rumah megah Gilang mulai terasa. Terutama ketiga keponakannya yang hendak berangkat ke sekolah dan ke kampus, mereka bertiga mulai heboh bersiap untuk berangkat beraktifitas.


"Sarapan dulu, sebelum berangkat!" suruh sang oma dari arah meja makan, ketika melihat cucu-cucu buyutnya sudah turun dari lantai atas.


"Tidak keburu Ombu, Reno ada jam ke-nol!" sahut Reno dengan mengeraskan suara agar sang oma mendengar suaranya. Reno dengan cepat memakai sepatunya.


"Kenapa tadi tidur lagi habis shubuhan kalau tahu ada jam ke-nol?" protes Kukuh yang juga sedang memakai sepatu.


"Tadi lupa, Bang. Pas mandi tadi baru keinget," balas Reno. "Reno berangkat duluan ya, Bang. Nanti Bang Kuh minta antar aja sama Bang Sat," lanjutnya seraya beranjak. Reno kemudian menghampiri oma buyutnya di meja makan.


"Reno berangkat dulu Ombu," pamitnya, setelah salim pada wanita tua itu.


"Bawa sandwich-nya, Ren. Makan di mobil," titah sang oma seraya menyerahkan dua potong sandwich yang sudah disimpan dalam kotak makanan.


Reno menerima kotak bekal tersebut dan kemudian segera berlari kecil kaluar dari sana. Kukuh dan Satria hanya bisa menatap kepergian sang adik sepupu dengan gelengan kepala. Sementara Erlan yang baru menuruni anak tangga, heran melihat Satria dan Kukuh yang kompak menggeleng seraya menatap ke arah ruangan luar.


"Kalian lihat apa, sih? Lihat hantu?" cecar Erlan.

__ADS_1


Di saat yang sama, kedua orang tua Erlan masuk ke ruang keluarga dengan diiringi sang kakak dan keluarga kecilnya.


"Nah, itu hantunya, Om," celetuk Kukuh yang langsung mendapatkan sentilan di telinganya oleh Erlan.


"Sembarangan kalau ngomong!" protes Erlan dan Kukuh malah terkekeh senang.


"Pagi sekali, Pa, Ma. Ambil penerbangan jam berapa memang?" tanya Erlan yang langsung menghampiri keluarganya itu.


"Sebelum shubuh kami berangkat, Om. Papa dan Mama, tuh, yang enggak sabar pengin cepet-cepet lihat kamu tunangan," sahut sang kakak.


Erlan tersenyum. Pemuda yang sebentar lagi akan bertunangan tersebut kemudian mencium tangan papa dan mamanya dengan takdzim yang diikuti oleh Satria dan Kukuh. Mereka juga menyalami kakaknya Erlan dan keluarga kecilnya.


Sang oma yang mendengar suara ramai dari arah ruang keluarga segera mendekat dan terkejut melihat kedatangan keluarga Erlan yang tiba-tiba. "Kalian mau datang, kok, tidak memberi kabar," protesnya yang kemudian memeluk mamanya Erlan.


Wanita tua itu kemudian mempersilakan keluarga Erlan untuk langsung bergabung di meja makan karena bertepatan dengan waktu sarapan. Baru saja mereka duduk, Ailee dan Gilang datang dengan raut wajah bersinar terang. Sepasang suami-istri tersebut lalu menyalami semuanya.


"Budhe sama Pakdhe pasti semalam enggak bisa tidur, itu makanya sepagi ini sudah sampai?" tebak Gilang setelah menyalami kakak dari sang Mama dan kedua orang tua Erlan tersebut mengangguk, membenarkan.


"Betul, Dik. Nelponin Mbak melulu dan berpesan agar Mbak jangan sampai ketiduran karena Mama Papa takut kami berangkat kesiangan dan ketinggalan pesawat," sahut kakak kandung Erlan seraya terkekeh pelan, mengingat kehebohan papa dan mamanya dari semalam.


Kedua orang tua Erlan, tersenyum. "Lha, Er semalam berpesan meminta sama budhe agar ikut menemani untuk mencari seserahan. Makanya kami usahakan untuk berangkat dengan penerbangan paling awal," terang budhe Ris seraya menatap sang putra dengan netra berbinar bahagia.


Sarapan sambil ngobrol hangat itupun terus berlanjut. Satria dan Kukuh yang harus segera berangkat, pamit terlebih dahulu. Obrolan mereka terjeda ketika penjaga rumah mengabarkan bahwa ada tamu yang mencari Gilang.


"Siapa, Pak?" tanya Gilang dengan dahi berkerut dalam.


"Kurang tahu, Tuan Muda. Ibu itu tidak mau menyebutkan nama," balas Pak Satpam.


"Ibu-ibu?" tanya Nenek Amira dan satpam tersebut mengangguk, membenarkan.


"Kalau saya perhatikan, wajahnya mirip sama mamanya Tuan Muda Erlan, Nyonya," balas Pak Satpam.

__ADS_1


"Mama," gumam Gilang. "Ck! Mau apa, sih, dia!" Pemuda tampan itu nampak tidak suka dengan kehadiran wanita yang diduga sebagai mamanya, yang begitu tiba-tiba dan mengusik kebahagiaannya.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2