Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Menjadi Satu-satunya di Hidupku


__ADS_3

"Ayo, Sayang, kita pulang! Kamu tidak pantas memohon-mohon seperti ini pada orang tua gila seperti dia!" Rahang Gilang mengeras, menahan amarah mendengar permintaan papanya Ailee.


Dia tarik pelan lengan gadis berhijab yang masih bersimpuh di kaki laki-laki yang tidak memiliki hati tersebut dan kemudian membawa sang calon istri untuk keluar dari rumah neraka itu.


Ailee sempat menolak, tetapi melihat tatapan mata Gilang yang penuh amarah pada papanya, membuat gadis belia itu menurut saja.


Apalagi yang dikatakan Gilang ada benarnya, bahwa sang papa memang benar-benar sudah gila.


Mana ada coba, seorang ayah yang tega mengorbankan perasaan salah seorang putrinya, demi putri yang lain? Hanya papanya Ailee yang dapat melakukan hal gila seperti itu.


"Kalian tidak akan pernah bisa menikah tanpa restu dan perwalianku!" seru papanya Ailee.


Gilang yang menggandeng tangan Ailee dan sudah sampai di ambang pintu, menghentikan langkahnya.


Pemuda bertubuh tinggi tegap tersebut kemudian menatap tajam pada laki-laki paruh baya yang seharusnya dia hormati sebagai calon mertua, tetapi kali ini Gilang sama sekali tidak ingin melakukannya.


"Dengar, Pak Tua! Anda memang ayah biologis Ailee, tetapi secara hukum agama, hak Anda sebagai seorang ayah telah gugur karena Anda tidak pernah mengakui Ailee sebagai putri Anda, bahkan Anda telah memperlakukan Ailee dengan tidak adil dan menyia-nyiakannya sejak putri bungsu Anda baru lahir!"


"Dan satu hal lagi, masalah perwalian. Kami, dengan mudah dapat mengajukan untuk meminta wali hakim pada pengadilan agama untuk Ailee karena Anda, sebagai ayah kandungnya telah menolak untuk menjadi wali bagi putri kandung Anda sendiri karena alasan yang konyol!"


"Silakan! Saya pastikan, permintaan kalian tidak akan pernah dikabulkan oleh pihak pengadilan agama karena saya akan membuat pernyataan bahwa kalian tidak pernah datang untuk meminta restu dengan baik-baik," tantang laki-laki berkumis tebal tersebut.


"Apa Anda yakin, kalau Anda yang akan memenangkan kasus ini, Pak Pengacara?" Gilang tersenyum miring.


"Sebagai pengacara kondang, tentu Anda selalu mencari tahu siapa lawan Anda, bukan? Saya, Gilang Chandra Putra, pemilik perusahaan GCC Corps, tidak akan membiarkan Anda merusak rencana saya. Anda paham dengan apa yang saya katakan, bukan?" pungkas Gilang yang kemudian segera membalikkan badan, tidak ingin lagi mendengar celoteh papanya Ailee.


Mendengar nama besar GCC, wajah papanya Ailee langsung pucat pasi.


Sementara kedua putrinya, saling pandang dengan mulut membuka lebar.


Sementara di halaman rumah orang tua Ailee, Gilang segera masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, setelah menutupkan pintu untuk sang calon istri.


Pemuda tampan tersebut tiba-tiba memukul setir mobil dengan sangat keras, hingga membuat Ailee terkejut.


"Gila! Benar-benar gila! Kok ada, ya, orang tua seperti papa kamu itu, Ai?" Gilang geleng-geleng kepala sendiri.


Ailee menghela napas panjang. Gadis itu pun sangat terkejut mendengar permintaan papanya tadi dan sama sekali tidak pernah menyangka bahwa sang papa akan meminta hal yang tidak masuk akal seperti itu.


"Mas, udah." Ailee menepuk-nepuk pelan lengan Gilang, seraya tersenyum manis. Mencoba menenangkan sang calon suami yang masih diliputi amarah

__ADS_1


Perlahan, aura kemarahan di wajah Gilang memudar dan kemudian berganti dengan senyuman.


"Nah ... gitu, dong. Kalau senyum, Mas Gilang terlihat makin tampan," puji Ailee dengan sejujurnya.


Senyuman di wajah Gilang, semakin lebar. "Calon istriku, pandai merayu juga rupanya," ucap Gilang.


Pemuda itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya, membuat Ailee langsung mundur ke belakang, hingga mentok ke pintu di sisi kirinya.


"Em-Mas Gilang, ma-mau ngapain?" tanya Ailee, terbata.


"Menurutmu?" tanya Gilang, pelan dan semakin mendekat.


"Em-Mas ... ja-jangan sekarang, Mas." Ailee nampak sangat ketakutan.


Gilang tersenyum dikulum dan mengabaikan penolakan Ailee. Dia tetap semakin mendekat, hingga jarak keduanya hampir terkikis habis.


"Mas, Ai mohon ...."


Melihat wajah ketakutan Ailee, Gilang tergelak dan kemudian memundurkan wajahnya.


Ailee bernapas dengan lega. Tak peduli jika Gilang menertawakan ketakutannya, asalkan dirinya bisa segera terbebas dari suasana yang membuatnya menjadi gugup seperti barusan.


"Ternyata, calon istriku benar-benar masih sangat belia dan polos," ucap Gilang setelah tawanya reda, seraya mengusap puncak kepala Ailee.


"Sayang. Apa kamu siap, jika kita menikah secepatnya?" tanya Gilang, seraya menatap dalam manik hitam sang calon istri.


Ailee terdiam, tidak langsung memberikan jawaban. Membuat Gilang berdebar, memikirkan segala kemungkinan.


"Ai. Apa kamu meragukan kesungguhanku?" tanya Gilang kembali.


"Tidak, Mas. Bukan seperti itu. Ai cuma masih kepikiran soal papa," balas Ailee.


"Apa, kita tidak perlu meminta restu papa kembali, Mas?" tanyanya, kemudian.


Gilang mengerutkan dahi.


"Ya, siapa tahu aja 'kan, Mas. Besok, papa berubah pikiran dan kemudian mau memberikan restunya pada kita," imbuh Ailee.


Gilang menghela napas panjang. Pemuda tampan tersebut kembali menatap sang calon istri dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


'Terbuat dari apa hatimu, Sayang. Meski kamu sudah disakiti sedemikian rupa, tetapi masih saja kamu menganggap mereka bagian dari keluarga,' batin Gilang, mengangumi kelembutan dan ketulusan hati sang calon istri.


Ya, memang benar adanya bahwa tidak ada yang namanya bekas ayah atau bekas anak. Ayah, selamanya akan tetap menjadi ayah meski seperti apapun perangainya. Begitu pula dengan anak.


Ikatan darah tidak akan dapat dihapus oleh apapun. Dia akan tetap melekat, meski kita menolaknya sekalipun.


"Kita lihat besok aja, ya," balas Gilang, kemudian.


Ailee mengangguk.


"Yuk, jalan!" ajak Ailee kemudian seraya tersenyum manis.


"Jalan kemana, Tuan Putri?" goda Gilang, bertanya.


"Ke hatimu, Mas. Kemana lagi, memangnya?" balas Ailee yang mulai dengan banyolannya.


Gilang terkekeh senang. "Bisa awet muda aku, Ai, kalau kita menikah nanti," ucap pemuda yang jarang tertawa jika berada di luar rumah tersebut.


"Dan Ai yang akan cepat tua, nanti," balas Ailee.


"Kok bisa? Kita 'kan bercandanya bareng dan bahagia juga bersama?" Gilang yang sudah mulai menjalankan mobilnya, menatap sekilas ke arah Ailee.


"Ya, karena Ai akan sering marah-marah jika ada wanita cantik yang mendekati Mas Gilang," balas Ailee. Membuat Gilang merasa sangat bahagia karena begitu dicintai oleh sang calon istri.


Gilang kemudian menggenggam tangan kanan Ailee dengan tangan kirinya.


"Kamu tidak perlu cemburu, Sayang, karena di sini ...." Gilang lantas mengarahkan tangan kanan Ailee ke dadanya.


"Hanya ada kamu seorang, Sayang," lanjutnya.


Ailee tersenyum, senang. "Benarkah? Apa Ai boleh berbangga diri karena dicintai oleh pemuda pujaan setiap wanita?" tanya Ailee yang malah membuat Gilang kembali tergelak.


"Kok, Mas malah tertawa?" protes Ailee.


"Karena sanjunganmu berlebihan, Sayang. Aku bukan pemuda seperti itu. Yang ada, mereka itu takut padaku dan bukannya memujaku," elak Gilang, meskipun pemuda itu tahu pasti bahwa memang banyak wanita yang memuja dan mengaguminya.


Gilang tidak mau membuat sang calon istri menjadi resah dan tidak nyaman menjadi istrinya kelak.


'Akan kubuat para wanita itu takut padaku, Ai, dan kubuat dirimu menjadi satu-satunya di hidupku,' janji Gilang pada dirinya sendiri.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕



__ADS_2