
Ailee terbangun di tengah malam karena hendak buang air kecil. Wanita muda itu sempat terkejut ketika mendapati dirinya tertidur di dada seorang laki-laki sambil memeluk laki-laki tersebut. Namun, senyum kecilnya segera terbit ketika menyadari bahwa dia kini sudah resmi menjadi seorang nyonya, Nyonya Gilang Chandra Putra.
Wanita muda itu kemudian memandangi wajah sang suami yang tengah terpejam, dengan penuh kekaguman. Alis tebal, hidung mancung, bibir seksi dan begitu liar ketika mencumbuinya, serta bulu-bulu kasar yang senantiasa dapat membangkitkan gairah, kesemuanya itu membuat Ailee tidak berhenti mengucap syukur atas karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada dirinya.
"Terima kasih, Mas. Kamu sudah memperlakukan aku dengan sangat manis," gumam Ailee yang kemudian melabuhkan ciuman di pipi sang suami.
Istri Gilang itu teringat bagaimana tadi setelah dirinya berhasil lepas dari pelukan sang suami, kemudian segera membersihkan diri bersama suaminya karena Gilang memaksa ingin mandi bareng Ailee. Sepasang suami-istri yang baru saja menikah itupun mandi bersama dan melakukan pemanasan di dalam sana. Ailee tersenyum, mengingat semua kejadian tersebut.
Sepanjang mandi bersama, Gilang terus saja mencumbui dirinya di bawah shower air hangat. Tangan suaminya begitu aktif meraba dan memijat lembut bagian-bagian sensitifnya. Bukan hanya itu, suaminya juga melabuhkan ciuman di setiap inci tubuhnya hingga membuat Ailee ingin segera diperlakukan lebih oleh suami tercinta.
"Mas, apa kita akan melakukannya di sini?" tanya Ailee yang sudah mulai terangsang.
"Tidak, Sayang. Kita belum sholat sunnah," balas Gilang yang kemudian mengakhiri cumbuannya.
Ailee tersenyum dan mengangguk, mengerti.
"Sini, Ai gosokkan punggung Mas." Ailee kemudian membubuhkan sabun di punggung sang suami dan menggosok punggung kokoh tersebut dengan lembut. Selama melakukan itu semua, senyuman selalu menghiasi bibir tipisnya.
Gilang juga membantu istrinya dengan memijat lembut kepala Ailee setelah membubuhkan shampoo di rambut Ailee yang hitam dan panjang. "Jangan dipotong ya, rambutnya. Aku suka rambut panjang kamu, Sayang," pinta Gilang.
"Iya, Mas. Ai akan menuruti dan melakukan apa saja yang membuat Mas senang, asal itu tidak bertentangan dengan ajaran kita," balas Ailee, patuh.
Gilang tersenyum senang dan kemudian kembali memeluk sang istri.
"Mas, kita berdua bisa masuk angin kalau seperti ini terus!" protes Ailee yang mengurai pelukan sang suami.
Suami tampan Ailee itu terkekeh. "Habisnya, aku gemes sama kamu, Sayang. Pengin meluk terus."
__ADS_1
Gilang kemudian segera membilas rambut sang istri di bawah shower, dengan telaten. Bergantian mereka berdua saling membilas dan memastikan bahwa tidak ada sabun ataupun shampoo yang tertinggal. Mandi yang manis itu pun berakhir.
Setelah mandi yang menghabiskan waktu cukup lama tersebut, mereka berdua kemudian melakukan ritual ibadah di malam pertama. Mereka saling menuntun dan saling mengingatkan karena memang ini adalah yang pertama untuk mereka berdua. Ciuman di puncak kepala Ailee yang disertai dengan bacaan do'a untuk malam pertama mereka, mengawali penyatuan Gilang dan Ailee sebagai sepasang suami-istri.
'Tenaga Mas memang luar biasa, enggak ada capeknya meski sudah berulangkali melakukan penyatuan,' bisik Ailee dalam hati seraya tersenyum dikulum, mengingat betapa perkasanya sang suami.
Istri Gilang itu kemudian meraba bulu-bulu kasar di wajah sang suami yang mampu membuatnya melayang-layang ke atas nirwana. Setelah puas meraba dan mengagumi pesona sang suami, Ailee perlahan beringsut dan berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan suaminya.
"Jangan seenaknya pergi setelah kamu mencuri, Sayang." Suara Gilang membuat Ailee terkejut, sekaligus malu karena ketahuan dirinya telah mencuri ciuman di pipi suaminya.
"Kamu harus bertanggungjawab karena apa yang kamu lakukan barusan, telah membuat pemujamu terbangun," lanjut Gilang yang membuat Ailee mengerutkan dahi.
"Pemujanya Ai?"
Gilang tersenyum dan kemudian menuntun tangan sang istri untuk meraba miliknya. "Dia sudah bangun, kan?" tanya Gilang yang menatap sang istri dengan tatapan berkabut gairah.
"Apa kamu melupakan sesuatu, Sayang?" tanya Gilang seraya menaik-turunkan alis, menggoda sang istri.
"Kulit kita bersentuhan dan tanganmu yang nakal ini yang membuat pemujamu terbangun dan ingin meminta jatah," lanjut Gilang. Suami Ailee itu kemudian mencium punggung tangan kanan sang istri yang tadi meraba-raba wajahnya.
Ailee yang baru menyadari bahwa mereka berdua memang masih sama-sama polos dan tubuh mereka hanya tertutup oleh selimut yang sama, tersipu malu. Wanita muda itu kemudian segera menarik tangan kirinya yang masih berada di area bawah sang suami. Ailee kembali beringsut, hendak menjauh.
"Ayolah, Sayang. Aku mau lagi," pinta Gilang sambil menarik tangan sang istri hingga membuat istrinya itu terjatuh kembali di dadanya yang berbulu halus.
"Mas, Ai mau buang air kecil dulu," rajuk Ailee, tetapi suaminya itu kelihatannya sudah dalam mode on yang tidak dapat lagi dicegah.
Gilang kini sudah menguasai tubuh sang istri. Pemuda tampan itu kembali melancarkan serangan yang membuat tubuh istrinya menggelinjang tak karuan bak cacing kepanasan. Ailee hanya bisa pasrah dan kemudian menikmati apa yang dilakukan oleh sang suami kepada dirinya.
__ADS_1
Penyatuan yang entah untuk yang ke berapa itu pun terjadi hingga kamar mewah nan luas tersebut, kembali dipenuhi dengan suara-suara seksi yang keluar dari bibir mereka berdua. Gilang melabuhkan ciuman yang dalam di kening istrinya, setelah mengakhiri penyatuan indah barusan.
"Terima kasih, Istriku," ucap Gilang sambil menatap dalam netra sang istri.
Ailee tersenyum bahagia dan membalas tatapan suaminya dengan penuh cinta. Gilang selalu memperlakukan dirinya dengan lembut dan manis, membuatnya merasa sangat dicintai. Pemuda itu juga selalu mengakhiri dengan ciuman di kening dan ucapan terima kasih, membuat wanita muda itu merasa disayangi dan dihargai.
"Terima kasih juga, Suamiku. Aku sangat mencintaimu."
\=\=\=\=\=
Di tempat lain. Setelah memastikan bahwa sang papa dan kakak pertamanya serta keluarga kecil Aira tertidur, Aina perlahan melangkah menuju garasi mobil. Kakak kandung Ailee itu segera menghidupkan mesin mobil dan langsung tancap gas meninggalkan rumah.
Aina terus melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan ibukota yang tetap ramai meskipun malam telah larut. Hanya satu tujuan Aina, yaitu pergi ke apartemen sang kekasih untuk meminta pertanggungjawaban dari Ringgo kembali. Aina harus mencobanya sekali lagi, sebelum dia mengambil keputusan yang sedari tadi sudah dia pikirkan dengan matang.
Gadis itu segera memarkirkan mobil di tempat yang tersedia. Dia kemudian berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya menuju lantai di mana unit Ringgo berada. Aina segera memencet tombol angka dua puluh agar kotak besi itu segera naik ke atas.
Keluar dari lift, Aina melangkah lebar dan terlihat tidak sabar menuju unit milik Ringgo. Setelah memasukkan kartu akses yang dia miliki dan memasukkan kata sandi yang sudah dia hafal di luar kepala, Aina segera masuk ke dalam unit yang masih terang benderang tersebut. Melangkah pelan Aina menuju kamar Ringgo yang tidak tertutup rapat.
'Ringgo sama siapa, ya? Apa tunangannya?' batin Aina bertanya-tanya, dengan perasaan berdebar.
Suara-suara laknat seperti yang sering keluar dari bibirnya ketika bercinta dengan Ringgo, kini sangat mengganggu rungunya. Suara itu berasal dari kamar sang kekasih. Begitu jelas dan terdengar kalau pemilik suara itu tengah menikmati permainannya.
Perlahan, Aina menyelinap masuk ke dalam kamar dengan pencahayaan temaram tersebut. Aina menyipitkan mata, mencoba mengenali siapa wanita yang saat ini ditindih oleh ayah kandung dari anak yang tumbuh di rahimnya. Netranya membulat sempurna ketika Aina mengenali wajah wanita itu, wanita yang sangat dekat dengan dirinya.
"Kak Aira. Apa yang Kakak lakukan?"
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1