
Malam hari ketika Gilang sedang berduaan bersama sang istri di dalam kamar mewah mereka, pemuda tampan itu berusaha untuk bernegosiasi dengan istrinya. Berharap sang istri tercinta mau menerima tawarannya. Gilang juga berharap tidak akan ada drama yang membuat istri belianya itu merajuk dan menangis.
"Sayang. Kalau seandainya besok aku ke tempat kerja pakai baju yang seperti biasanya dulu, gimana?" Gilang membelai lembut pipi sang istri, seraya menatap penuh cinta netra istrinya. Mencoba menghipnotis Ailee dengan sejuta pesona yang dia miliki.
Ailee mengerutkan dahi. "Kenapa, Mas? Mas tidak suka, ya? Mas tidak mau menuruti keinginan Ai?" rajuknya seperti yang sudah Gilang duga.
Gilang menggelengkan kepala, cepat. Dia tidak mau jika sampai sang istri salah paham dan mengira bahwa dia tidak mau menuruti keinginannya. Gilang mencoba bernegosiasi karena besok dia ada meeting penting dengan klien dari negera tetangga.
Jika saja dia tidak ada pertemuan dengan mereka, tidak masalah Gilang mengenakan pakaian seperti yang dimaui sang istri. Dia bisa menjelaskan dengan bangga bahwa apa yang dia kenakan adalah keinginan sang istri tercinta yang tengah hamil buah hati mereka. Sementara yang akan dia hadapi adalah orang dari negara yang memiliki budaya dan pola pikir yang berbeda dan mereka pasti tidak akan paham jika dia menjelaskan tentang ngidam.
"Bukan seperti itu, Sayang." Gilang lalu memeluk sang istri dan membenamkan wajah istrinya di dada. Gilang menciumi puncak kepala Ailee, penuh rasa sayang.
Pemuda itu kemudian menjelaskan duduk permasalahannya. Berharap, sang istri mau mengerti dan mengijinkan Gilang mengenakan pakaian kerja seperti hari-hari biasa. Dia menjelaskan dengan penuh kehati-hatian karena mengerti bahwa saat ini sang istri sangat sensitif perasaannya.
"Gimana, Sayang? Boleh, ya," pintanya kemudian seraya melepaskan pelukan. Gilang lalu menangkup kedua sisi pipi sang istri yang mulai terlihat chabi dan mencium bibir tipis Ailee dengan hangat.
Ailee masih terdiam. Wanita muda itu nampak menimbang-nimbang. "Kita lihat besok saja ya, Mas," balas Ailee, kemudian. "Ai ngantuk, Ai mau bobok sekarang," lanjutnya lalu segera merebahkan diri.
"Beneran ngantuk, Yang? Kita 'kan belum olahraga malam, Yang," protes Gilang yang kemudian menyusul berbaring di samping istrinya.
"Olah raga malamnya libur dulu, Mas," tolak Ailee dengan mata yang sudah terpejam.
Gilang hanya dapat menghela napas panjang. Sebenarnya dia sangat menginginkan istrinya sekarang. Namun, melihat wajah sang istri yang nampak damai dengan mata yang terpejam seperti itu, membuat Gilang tidak tega untuk memaksa.
__ADS_1
Pemuda itu beringsut lalu menyelimuti tubuh sang istri hingga sebatas dada. Gilang ikut masuk ke dalam selimut yang lembut tersebut, setelah mencium kening dan perut Ailee. Dia kemudian memeluk perut sang istri dan mencoba untuk ikut memejamkan mata.
Cukup lama Gilang mencoba untuk tidur dan meredam hasrat. Namun, aroma wangi tubuh sang istri semakin menggoda dan membuat gairahnya tetap membara. Perlahan, Gilang mulai mencumbui istrinya hingga membuat Ailee yang sudah terbang ke alam mimpi, terjaga.
"Mas, Ai ngantuk," rajuk Ailee yang merasa terganggu tidurnya.
"Lanjutkan saja tidurnya, Yang. Aku akan mencarinya sendiri," balas Gilang, berbisik.
"Mana bisa, Mas?" protes Ailee.
"Ya udah, kalau enggak bisabisa tidur lagi bangun aja. Kita olahraga malam bersama." Gilang tersenyum, menatap sang istri yang sudah membuka matanya.
Ailee cemberut. "Udah dibilang Ai ngantuk, masih aja maksa!"
"Kamu kalau cemberut makin menggemaskan dan membuatku pengin nyium kamu terus, Yang." Gilang mulai mengikis jarak, tetapi dengan cepat Ailee menutup mulutnya dengan tangan.
Cepat, Gilang menyingkirkan tangan sang istri yang menutupi bibir tipis istrinya. Bibir yang telah menjadi candu bagi Gilang. "Tidak mengapa aku mengenakan hem yang berwarna-warni itu, Sayang. Yang penting, kita bisa olahraga malam bersama."
Gilang lalu menyatukan bibirnya dan mulai melu*mat bibir tipis yang rasanya selalu manis. Tidak peduli jika besok dia akan menjadi bahan tertawaan para karyawan dan juga rekan bisnisnya. Yang terpenting baginya saat ini, dia dapat menuntaskan hasrat yang selalu saja muncul kala berdekatan dengan sang istri tercintanya.
Udara malam yang terasa dingin menusuk tulang di luar sana, berbanding terbalik dengan suhu udara di kamar pasangan suami istri yang baru hitungan bulan menikah itu. Di dalam kamar yang berpendingin udara tersebut, terasa panas membara seperti panasnya hubungan sepasang insan yang tengah dimabuk cinta di atas ranjangnya. Suara-suara merdu turut menjadi musik yang mengiringi pergerakan mereka berdua, pergerakan yang awalnya lembut kemudian menjadi menuntut.
Ailee yang tadinya sangat mengantuk, kini menjadi bersemangat. Rasa kantuknya hilang seketika, menguap entah kemana. Itu semua karena Gilang sukses membangkitkan gairah istrinya.
__ADS_1
Mereka terus menyatu. Saling mencumbu, saling merayu. Mencoba memberikan yang terbaik untuk pasangan.
Setelah beberapa kali mengalami pelepasan, Gilang kemudian mengakhiri penyatuan dengan mencium kening istrinya. Ciuman yang hangat dan dalam serta penuh rasa sayang. "Aku mencintaimu, Sayang," bisiknya, membuat Ailee kembali terbang melayang.
Keesokan harinya, Gilang dengan penuh rasa percaya diri keluar dari kamar dengan memeluk mesra pinggang sang istri yang tidak lagi ramping meskipun perut Ailee belum terlihat menggendut. Pemuda yang mengenakan hem motif pohon kelapa berwarna oranye itu tersenyum, menyapa sang oma dan mamanya yang sudah duduk di meja makan. Dia lalu duduk, setelah sang istri duduk terlebih dahulu di samping tempat duduk Gilang.
Gilang sama sekali tidak mempedulikan tatapan aneh dari ketiga keponakan yang juga sudah duduk di sana. Sebab, dia sudah menduganya dari kemarin bahwa penampilan Gilang pasti akan dianggap aneh. Dia bahkan juga tidak peduli ketika Erlan yang baru saja bergabung bersama istrinya, tersenyum menggoda.
"Om Er, memangnya di kantor sedang ada pesta kostum ya?" tanya Satria, seraya melirik Gilang dengan menahan tawa.
"Ada, Sat. Pesta kostum khusus untuk suami yang bucin," balas Erlan yang kemudian terkekeh karena tidak kuasa untuk menahan tawa melihat penampilan Bos GCC tersebut.
"Er ...." Sang oma menggelengkan kepala, meminta agar dia tidak meledek Gilang di depan Ailee karena khawatir ibu hamil itu akan merasa tersinggung.
Gilang melirik tajam sang abang sepupu. "Pada saatnya nanti, Bang Er akan mengalami hal yang lebih parah dariku. Lihat saja nanti."
Erlan dengan cepat menggeleng. "Anak kami tidak akan membuat orang tuanya susah, Ge," balas Erlan seraya mengusap perut rata sang istri, berharap benih yang sudah dia tabur berkali-kali segera tumbuh di rahim istrinya.
"Memangnya, Mas Gilang merasa susah?" tanya Ailee dengan dahi berkerut.
"Tentu saja tidak, Sayang. Hanya mengenakan pakaian seperti ini, apa susahnya? Yang penting 'kan, kita bisa berolahraga malam setiap hari," balas Gilang seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Om Ge dan Kak Ai setiap hari rutin olahraga malam? Apa enggak capek?" tanya Kukuh dengan begitu polos.
__ADS_1
"Ya enggak, lah, Kuh. Orang mereka olahraganya cuma push up di atas kasur yang empuk," sahut Satria yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari sang oma.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕