Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Sakit Banget, Bang!


__ADS_3

Gilang dan Ailee nampak sangat bahagia menjalani hari-hari sebagai orang tua baru bagi ketiga putranya. Kehadiran baby ABC menambah keseruan keluarga besarnya. Rumah luas miliknya pun semakin semarak dan lebih berwarna.


Hari kedua baby ABC dibawa pulang dari rumah sakit, setelah satu minggu menjalani perawatan khusus untuk memastikan bahwa ketiganya benar-benar sehat, kediaman Gilang kedatangan keluarga besar. Kedua kakak serta keluarga Erlan hadir di sana. Tidak ketinggalan tante Gilang, adik kandung almarhum sang papa.


Suasana semakin meriah, apalagi keluarga besar Maida juga hadir di sana. Meskipun sebelumnya kedua orang tua Maida dan saudara-saudara yang lain sudah menjenguk di rumah sakit, tetapi begitu mengetahui bahwa ketiga putra Gilang dan Ailee sudah diperbolehkan pulang, mereka pun kembali berkunjung. Mereka semua nampak turut berbahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan pasangan Ailee dan Gilang.


"Kak Ai, Bumbum haus, nih!" seru Kukuh yang setia mendampingi baby sitter yang mengasuh baby B.


"Jangan Bumbum, dong, Kuh, manggilnya. Baby B, gitu!" protes Gilang, tidak terima sang anak dipanggil dengan panggilan yang tidak enak.


"Bumbum 'kan juga bagus, Om. Gemes-gemes gimana, gitu," sahut Satria membela sang adik.


"Ingat, Sat! Jangan panggil baby A dengan panggilan Angsa!" peringat Gilang kemudian dengan tatapan tajam karena dia mendengar dari semalam Satria menimang putra pertamanya dengan panggilan tersebut.


Erlan tertawa mendengarnya. "Panggilan itu cocok, Sat. Nanti kalau udah gede, tuh anak kayaknya bakalan niru kelakuan Om Ge yang suka nyosor kayak angsa."


Para orang tua yang berada di sana ikut tertawa kemudian. Sementara Kukuh mengerutkan dahi. "Nyosor kayak gimana, sih, Om?" tanyanya dengan polos, membuat mereka semua semakin tergelak.


"Sat! Ajak adik kamu masuk kamar, sana!" titah sang oma, seraya geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir dengan kelakuan sang cucu yang suka menyambar pembicaraan khusus orang dewasa.


"Bentar, Oma. Satria masih penasaran."

__ADS_1


"Penasaran apa, Bang?" tanya Kukuh, tapi Satria mengabaikan.


Keponakan pertama Gilang itu lalu menatap omnya kembali. "Om Ge memangnya semalam dengar, Satria memanggil seperti itu pada baby A? Bukannya, semalam Om Ge sudah tidur di sofa?"


"Om mana bisa tidur, kalau masih ada kalian di kamar mereka. Nanti yang ada, kalian bertiga meracuni pikiran anak-anak om!" Tatapan tajam Gilang, membuat Satria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Memangnya, kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka, Ge?" tanya Mbak Gia kemudian, mengalihkan perhatian Gilang.


"Sudah, Ma. Ayah Ge dan Ibu Ai sudah menyiapkan nama yang bagus untuk mereka bertiga," sahut Kukuh.


"Ayah-ibu?" Mbak Tia menyahut dengan dahi berkerut.


"Oma, ini baby Cakra haus juga kali ya," bisik Reno sambil memainkan jemarinya di pipi baby C dan Mama Irna menganggukkan kepala.


"Biar dulu. Gantian sama abangnya yang lagi menyusu," tutur Mama Irna, pelan.


Sementara Gilang tersenyum mendengar penjelasan kedua keponakannya tadi. Ya, Gilang dan Ailee memutuskan dan memilih panggilan ayah dan ibu agar terdengar lebih membumi. Seperti nama dari anak keduanya, yaitu Bumi.


"Nama mereka, Angkasa, Bumi, dan Cakrawala, Mbak," ucap Gilang kemudian dengan senyuman kebahagiaan yang tersungging di bibirnya.


"Nama yang bagus. Mencakup seluruh semesta." Papanya Erlan mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Masih kurang itu, Pa," sahut Erlan.


"Nambah lagi, Ge. Kembar sepasang, biar lengkap," lanjutnya seraya menatap Gilang.


Gilang mengerutkan dahi.


"Nanti beri mereka nama Air dan udara atau nama lain dari kedua unsur itu. Jadi, keluarga kamu bakalan lengkap dan mencakup seluruh alam semesta."


"Anak Abang aja yang dikasih nama itu. Biar keturunan kita selalu berhubungan, seperti kita, Bang," balas Gilang, keceplosan.


"Jadi, janin yang ada di rahim istri kamu, kemungkinan kembar sepasang, Er?" cecar sang oma yang menyadari perkataan Gilang.


"Ge, kenapa kamu bocorin?" Erlan nampak kesal karena sebenarnya dia dan sang istri telah sepakat akan memberikan surprise untuk keluarga besar dengan tidak mengatakan berapa janin yang ada di rahim Maida.


Ya, semua gara-gara hari itu dimana Gilang sang istri memergoki mereka berdua ketika sedang melakukan USG. Ailee yang kekekuh dan merajuk ingin ikut melihat perkembangan janin Maida, akhirnya diizinkan untuk ikut masuk ke dalam. Erlan dan istrinya kemudian berpesan agar sang adik sepupu tidak memberitahu kepada yang lain terlebih dahulu.


"Enggak apa-apa, lah, Bang. Palingan, nanti malam juga udah lahir," balas Gilang sekenanya.


"Aduh! Sakit Banget, Bang!" Tiba-tiba, Maida yang duduk di samping sang suami, meringis menahan sakit.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2