
Setelah memastikan bahwa semua sehat dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan, Gilang mengajak istrinya untuk menyusul ke tempat acara pertunangan sang abang sepupu. Cukup lama menunggu, pesawat pribadi yang menjemput pasangan yang tengah berbahagia itu pun tiba dan mereka segera berangkat menuju ke pulau pribadi keluarga calon tunangan Erlan. Sepanjang perjalanan, tangan Gilang senantiasa berada di perut sang istri dan mengelusnya dengan lembut.
Ailee tersenyum karenanya. Dia merasa sangat disayangi dan dicintai dengan begitu besar oleh sang suami. Wanita cantik itu kemudian merebahkan kepala di dada suaminya.
"Rasanya, aku sudah tidak sabar melihat perutmu membesar, Sayang," ucap Gilang.
"Masih lama, Mas. Baru juga tiga minggu," balas Ailee. "Mas pasti akan ngetawain aku nanti kalau perutku buncit," lanjutnya, dengan bibir mengerucut.
"Enggak, lah, Yang. Masak diketawain," balas Gilang seraya mencium pipi istrinya, membuat Ailee kembali tersenyum.
"Cuma cium pipi?" tanya Ailee mulai menggoda sang suami, setelah Gilang menjauhkan wajah.
"Terus, kamu maunya aku cium bagian mana?" balas Gilang, bertanya. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban dan benar adanya, tanpa menunggu jawaban sang istri pemuda tampan itu kemudian melabuhkan ciuman di bibir istrinya.
Ailee tentu saja menyambut baik apa yang dilakukan oleh sang suami. Gilang kemudian membawa istrinya ke ruangan tertutup agar apa yang akan dia lakukan tidak dapat dilihat oleh tiga orang kru pesawat yang bertugas. Mereka berdua kembali melakukan penyatuan dan terbang bersama di atas ketinggian, bersama dengan pesawat yang terus terbang menuju ke tempat tujuan.
Setelah cukup lama mengudara, pesawat pribadi itupun mendarat dengan sempurna di landasan pulau pribadi tersebut. Kehadiran Ailee dan Gilang langsung disambut hangat oleh Erlan yang saat ini didampingi sang kekasih. Erlan tentu sangat bahagia karena akhirnya Gilang dan istrinya dapat menyusul.
"Alhamdulillah, akhirnya bumil bisa juga sampai sini," sambut Maida yang langsung memeluk Ailee.
__ADS_1
"Iya, Mai. Tadi sempat sedih juga ketika Mas Ge tiba-tiba melarang Ai untuk ikut," balas Ailee setelah melerai pelukan.
"Ya pasti khawatir, lah, Sayang. Usia kehamilan kamu 'kan, masih sangat muda," balas Gilang yang mendengar keluhan sang istri barusan pada kekasih Erlan.
"Haish! Calon ayah posesif!" cibir Erlan yang kemudian segera mengajak adik sepupu dan istrinya itu menuju villa yang sudah disiapkan untuk keluarganya.
"Nanti Bang Er juga pasti akan seperti itu," balas Gilang seraya mengekor langkah sang abang yang berjalan bersisihan dengan sang calon tunangan, sambil memeluk mesra pinggang sang istri yang masih ramping.
Maida tersenyum karenanya dan Erlan melirik mesra pada sang kekasih. "Kamu maunya, kita nanti punya anak berapa, Sayang?" bisik Erlan bertanya.
"Terserah Abang saja," balas Maida, membuat pemuda tampan yang merupakan asisten sekaligus kakak sepupu Gilang itu, tersenyum senang.
"Syirik aja, kamu!" protes Erlan yang kemudian menghentikan langkah karena mereka telah tiba di villa tamu, tempat keluarga besar mereka berkumpul.
Gilang dan Ailee kemudian menuju ke kamar, setelah sebelumnya menyalami kedua orang tua Maida dan juga saudara-saudaranya yang berada di sana. Mereka berdua tidak dapat ikut berbincang bersama keluarga besar karena hendak segera beristirahat di kamar, setelah kelelahan di perjalanan. Selain itu, mereka juga harus segera mandi besar sebelum melaksanakan ibadah sholat dhuhur yang sudah tiba waktunya.
Usai sholat dhuhur, mereka berdua kemudian ikut bergabung bersama seluruh anggota keluarga besar untuk makan siang. Suasana terlihat sangat meriah. Ailee sampai dibuat bingung menyaksikan betapa banyaknya anggota keluarga kekasih Erlan.
"Mas, mereka semua keluarganya Mai, kah?" tanya Ailee pada Gilang, dengan berbisik.
__ADS_1
"Mungkin, Sayang. Aku juga tidak tahu," balas Gilang yang memang baru pertama kali ini bertemu secara langsung dengan orang tua Maida dan juga keluarganya.
Walaupun di beberapa kesempatan, Gilang pernah berada dalam satu acara dengan calon mertua Erlan, tetapi mereka tidak saling bertegur sapa karena memang tidak memiliki kepentingan apa-apa. Hanya satu yang dikenali oleh Gilang di antara keluarga besar itu dan beliau merupakan rekan bisnisnya yaitu Om Devan. Selebihnya, Gilang hanya mengenal nama karena sama-sama pebisnis dari kelas atas.
"Senang, ya, kalau punya keluarga lengkap, ramai, dan hangat seperti Mai," ucap Ailee di sela menikmati menu makan siang, membuat Gilang langsung mengusap lembut pundak sang istri.
"Nanti, anak-anak kita yang akan merasakannya, Sayang. Kita akan memiliki banyak anak dan mendidik mereka dengan baik agar dekat dan saling peduli satu sama lain. Keluarga kita akan hangat dan juga ramai seperti mereka," balas Gilang mencoba menyenangkan hati sang istri.
Jauh di dasar lubuk hatinya, Gilang merasa iba karena sang istri belum pernah merasakan memiliki keluarga yang utuh seperti mereka. Meskipun dirinya juga tidak lebih baik, setidaknya di masa kecil hingga remaja, Gilang pernah merasakan kehangatan dan keutuhan keluarga. Kerena itu, Gilang berjanji pada diri sendiri untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya kelak.
"Mereka bukan keluarga inti daddy dan mommynya Mai, semua. Yang keluarga inti hanya beberapa saja, selebihnya adalah para besan, saudara sepupu, dan juga para sahabat," terang Erlan yang dapat mendengar obrolan sepasang suami istri tersebut.
"Termasuk Om Devan. Ternyata, beliau adalah sahabat Om Rehan dan kemudian menjadi besannya. Abangnya Mai menikah dengan putrinya Om Devan yang waktu itu kita datang ke pesta resepsi pernikahannya, Ge," lanjut Erlan, mengingatkan.
Gilang mengangguk-anggukkan kepala. "Pentas saja, banyak banget," balas Gilang seraya mengedarkan pandangan dan tatapannya terhenti pada sang mama, yang nampak akrab berbincang dengan salah satu anggota keluarga besar Maida.
Gilang yang baru saja menghabiskan makanannya, segera beranjak. "Sayang, aku tinggal sebentar, ya. Mau menemui mama," pamitnya seraya menunjuk ke arah sang mama yang duduk di sebuah meja bersama seorang pemuda, yang usinya terpaut beberapa tahun di atas Gilang.
'Mama sama siapa, ya?' batin Gilang bertanya-tanya.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕