
Sepasang suami-istri itu akhirnya turun dari mobil dan memberanikan diri menemui dua orang petugas dari kepolisian. Aira kembali memapah suaminya untuk menemui mereka.
"Maaf, Bapak-bapak cari siapa, ya?" tanya Aira setelah mendekat.
"Apa benar, ini kediaman Pak Sindu dan Bu Aira?" tanya salah seorang petugas berseragam cokelat.
"Benar, Pak. Ini rumah kami. Silakan masuk," ajak Aira karena dia harus segera membawa sang suami yang masih kesakitan untuk masuk ke dalam.
"Maaf, Bu, Pak. Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan karena ada yang melaporkan tindakan kekerasan yang Bapak dan Ibu lakukan," tolak polisi tersebut yang ingin segera membawa kedua tersangka itu.
"Tapi, Pak, suami saya sedang sakit. Tidakkah Bapak bisa melihatnya? Suami saya butuh istirahat sekarang!" protes Aira yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Bu, di sana ada unit layanan kesehatan. Suami Ibu bisa mendapatkan penanganan di sana. Bekerja samalah dengan kami, Bu, Pak, dan kami tidak akan memaksa Bapak dan Ibu dengan cara kami," ancam petugas polisi yang usianya lebih muda.
Terpaksa, Aira dan Sindu memenuhi keinginan petugas dari kepolisian. Sepasang suami-istri itu segera naik ke dalam mobil, setelah Aira menelepon asisten di kediaman sang papa dan memberitahukan bahwa dia belum bisa mengambil sang putra. Ya, sebelum mereka berdua melancarkan aksi untuk memaksa Nelly menggugurkan kandungannya, Aira telah menitipkan putranya ke sana.
Mobil polisi terus melaju dengan cepat untuk membawa Aira dan Sindu ke kantor polisi di mana Nelly masih menunggu di sana. Atas saran Ailee dan sang suami, Nelly bersedia jika diadakan mediasi agar masalah tersebut tidak sampai ke meja hijau. Baby sitter itu tentu bersedia asalkan Sindu mau bertanggungjawab karena memang itulah yang dia butuhkan saat ini.
Di dalam mobil polisi, Sindu tiba-tiba tidak sadarkan diri. Rupanya rasa sakit yang menyerang miliknya sudah tidak tertahankan sehingga suami Aira menjadi pingsan. Hal itu membuat Aira menjadi panik.
"Mas, Mas Sindu bangun, Mas!" Aira menepuk pelan pipi sang suami, berusaha membangunkan ayah dari anaknya.
"Pak, antar kami ke rumah sakit, Pak!" pinta Aira.
"Kita hampir sampai kantor, Bu. Suami Anda akan segera mendapatkan penanganan oleh tim medis kami," tolak salah seorang petugas polisi yang duduk di samping pengemudi.
__ADS_1
Mobil tetap melaju menuju kantor polisi karena jaraknya sudah dekat. Setibanya di sana, Sindu segera mendapatkan penanganan dari petugas medis. Sementara Aira, setelah mengantar suaminya ke ruang pelayanan medis, hendak langsung dibawa ke ruang penyelidikan.
Ibu satu anak tersebut sempat protes karena ingin menunggui suaminya terlebih dahulu. Barulah setelah dibujuk oleh dokter yang menangani Sindu dan dokter wanita itu mengatakan bahwa suaminya akan baik-baik saja, Aira bersedia untuk diperiksa. Ibu dosen itu berjalan tanpa semangat menuju menuju ruang pemeriksaan.
"Kamu? Kenapa ada kamu di sini?" Aira menatap Ailee penuh selidik.
Ailee hanya tersenyum, tidak ingin mengatakan apapun karena wanita berhijab tersebut tidak ingin memperkeruh suasana. Biarlah Nelly yang berbicara dan menjelaskan semua kronologinya. Istri Gilang itu tidak mau jika dirinya dikait-kaitkan dengan masalah keluarga sang kakak.
"Silakan duduk, Bu." Seorang petugas polisi menarik sebuah kursi dan kemudian mempersilakan Aira untuk duduk di sana.
Ya, disinilah sekarang Aira berada. Di ruang pemeriksaan yang auranya penuh ketegangan. Aira duduk berhadapan dengan petugas polisi yang akan meminta keterangan darinya.
Di sampingnya ada Nelly, Ailee, dan sang suami yang masih berada di sana sebagai saksi yang membantu korban. Ailee dan suaminya memang tidak diijinkan pulang terlebih dahulu sebelum korban bertemu dengan tersangka. Mereka harus menjadi saksi karena mereka berdua yang membantu Nelly dan membawa baby sitter tersebut ke kantor polisi.
Nelly bernapas dengan lega karena Aira mengakui semua perbuatan yang dia lakukan pada dirinya. Satu harapan baby sitter itu, Sindu bisa segera diminta keterangan dan bersedia untuk menikahinya. Nelly kemudian melirik Ailee ketika Aira selesai memberikan keterangannya.
"Semoga yang terbaik untuk bayi kamu," bisik Ailee yang sebenarnya juga bingung harus memihak siapa.
Apakah memihak Nelly? Tidak, istri Gilang tersebut juga tidak membenarkan tindakan sang baby sitter yang sudah masuk ke dalam rumah tangga sang kakak. Apapun alasannya, memberikan kenyamanan pada suami orang itu salah besar!
Memihak Aira? Tentu juga tidak karena bagaimana pun kecewanya Aira, menyuruh Nelly untuk menggugurkan kandungan tetaplah tidak dapat dibenarkan. Apapun dalihnya kecuali itu jika bersangkutan dengan nyawa sang ibu, itupun harus melalui prosedur yang benar.
Istri Gilang dan suaminya bersedia menolong Nelly dan bersedia menjadi saksi, hanya atas dasar kemanusiaan. Semua hanya demi janin tak berdosa yang hampir menjadi korban keegoisan para orang tua. Ailee berharap, sang kakak ipar bersedia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Sekarang, puas kamu!" Aira melotot tajam ke arah Ailee yang tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Gilang mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan maksud ucapan Aira. "Hei, apa maksud kamu? Kenapa kamu marah-marah pada istriku?" Suami Ailee itu membalas tatapan Aira, tak kalah tajam.
"Kalian sengaja, kan, membujuk dia agar melaporkan kami ke kantor polisi? Itu karena kamu dendam pada kami, kan, Ai?" tuduh Aira sambil menunjuk wajah sang adik
Ailee menggelengkan kepala. Belum sempat wanita berhijab itu menjawab tuduhan sang kakak, suaminya yang tidak rela istri cantiknya dibentak oleh Aira, kembali angkat bicara.
"Jangan menuduh istriku sembarangan! Tidak ada untungnya bagi kami membantu wanita ini! Kami juga tidak perlu menyimpan dendam pada Anda karena keberadaan Anda dan keluarga Anda, tidak penting bagi kami! Kami berada di sini, hanya atas dasar kemanusiaan!"
Tepat disaat Gilang selesai berbicara, seorang perawat masuk ke ruangan tersebut dengan mendorong kursi roda dimana Sindu duduk dengan wajah pucat di atasnya. Perawat itu kemudian menempatkan kursi roda Sindu tepat di samping tempat duduk Aira. Sindu tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap orang-orang yang berada di sana.
Sindu kemudian dimintai keterangan. Suami Aira itu dicecar dengan berbagai pertanyaan, seputar pelaporan Nelly. Sindu pun hanya mampu menganggukkan kepala, membenarkan semua tuduhan tersebut atas dirinya.
"Pak, bisakah kami berbicara berdua saja," pinta Aira yang ingin berbicara empat mata dengan sang suami terlebih dahulu, sebelum mediasi dengan Nelly dilakukan.
Mereka berdua kemudian diberikan waktu untuk berbicara berdua di luar ruangan. Entah apa yang mereka bahas, tetapi sepertinya sangat serius. Tidak butuh waktu lama, mereka kemudian kembali ke ruangan tersebut.
Mediasi pun segera dilakukan. Nelly berbicara dengan tegas, menuntut untuk dinikahi Sindu demi anak yang di kandung. "Saya tidak menuntut apapun, hanya meminta agar Mas Sindu bersedia menikahi saya dan mengakui anak ini."
"Baik. Suami saya pasti akan menikahi kamu," jawab Aira, mewakili sang suami yang hanya memberikan anggukan kepala.
Mereka bertiga harus menandatangani surat perjanjian agar nantinya baik Sindu maupun Aira tidak dapat berbuat curang kepada Nelly. Aira menandatangani surat perjanjian tersebut dengan wajah masam. Berbeda dengan Sindu yang mengulum senyum. Entah apa yang ada di otak laki-laki tersebut.
Sepertinya, ini adalah awal neraka dunia bagi Aira yang akan memiliki madu. Seorang istri muda dan masih sangat ranum, yang selama dua tahun ini telah mampu membuat Sindu melupakan kemesraan dengan istri sahnya. Wanita muda yang sudah menjadi candu bagi Sindu.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1