
Hari ini, Gilang bersama sang oma mengajak Ailee untuk membeli gaun pengantin. Pernikahan yang direncanakan dadakan, membuat sang oma tidak sempat memesankan gaun pengantin untuk sang calon cucu menantu yang sangat beliau sayangi itu.
Nenek Amira mengajak kedua calon mempelai tersebut ke butik langganannya, butik yang sama di mana Ailee pernah diajak ke sana ketika gadis belia itu baru pertama kali bertemu dengan wanita tua bersahaja serta sang cucu.
Erlan pun ikut bersama mereka ke butik dan abang sepupu Gilang tersebut membuat janji temu dengan sang kekasih di sana karena mereka berdua hendak mencari baju couple, untuk menghadiri pernikahan Gilang dan Ailee.
"Oma, kenapa harus ke butik sana lagi, sih? Di sana 'kan mahal-mahal, Oma. Sayang uangnya, sih, menurut Ai. Toh, gaunnya dipakai cuma sebentar," bisik Ailee, protes ketika mengetahui tujuan sang oma.
"Tidak mengapa, Nak Ai. Pernikahan 'kan sekali seumur hidup. Jadi, tidak masalah jika mengeluarkan uang lebih untuk mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk gaun pengantin," balas sang oma seraya tersenyum hangat.
Nenek Amira semakin salut pada Ailee. Meskipun gadis yang duduk di sampingnya itu tahu, bahwa kekayaan Gilang tak terhitung jumlahnya sebab sang oma pernah menjelaskan pada Ailee, asset apa saja yang dimiliki oleh GCC, gadis belia tersebut tetap dengan kesederhanaannya yang tidak pernah menuntut lebih.
Mendengar perkataan sang oma yang tanpa memelankan suara, Gilang yang duduk di samping pengemudi, menoleh ke belakang.
"Kenapa, Oma?" tanya Gilang, penasaran.
"Calon istrimu, Ge. Dia khawatir, kalau harga gaunnya nanti mahal," balas sang oma, jujur.
Ailee tersipu malu dan menyenggol lengan sang oma sebagai bentuk protes karena wanita tua itu mengungkap apa yang menjadi kekhawatirannya.
Erlan tertawa terbahak mendengar penuturan sang oma, sementara Gilang tersenyum dikulum seraya geleng-geleng kepala.
'Calon istriku memang beda, dia begitu istimewa,' batin Gilang, senang.
"Jangan khawatir jika Ge akan jatuh bangkrut hanya gara-gara membeli gaun pengantin untukmu, Ai. Bahkan kalau perlu, Ge pasti akan membelikan gaun sekaligus sama butik dan karyawannya untukmu," ucap Erlan masih dengan tawanya.
"Boleh-boleh. Kalau Ai mau, pasti akan aku belikan," sahut Gilang seraya menoleh kembali ke belakang.
Ailee tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih bersih. Kebahagiaan menyelimuti hatinya, kini.
Obrolan mereka terhenti, ketika mobil mewah yang dikendarai Erlan memasuki area parkir butik terkenal tersebut.
Mereka semua turun dan segera masuk ke dalam butik dan kedatangan pelanggan setia butik itu, disambut hangat oleh karyawannya yang ramah-ramah.
"Selamat datang, Oma Amira," sapa manager butik seraya menyalami wanita tua yang gurat kecantikannya masih terlihat nyata.
"Oma mau mencari gaun pengantin untuk cucu oma, adakah yang sudah siap pakai?" tanya sang oma.
__ADS_1
Manager yang ramah itu memindai wajah gadis cantik yang berdiri di samping Nenek Amira. "Apakah, gaunnya untuk Nona cantik yang kemarin ini, Oma?" tanyanya sopan seraya tersenyum hangat pada Ailee.
"Benar." Sang oma menganggukkan kepala.
"Ada, Oma. Sambil menunggu saya carikan, silakan Oma bisa menunggu di ruang tamu." Manager berhijab itu kemudian menuntun Nenek Amira dan Ailee untuk menuju ke ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang kerja pemilik butik dan hanya bersekat etalase kaca.
Gilang dan Erlan mengekor langkah mereka, menuju ruang tamu yang terletak di bagian belakang butik.
Sepanjang berjalan menuju ke ruang tamu, Erlan senantiasa mengedarkan pandangan. Mencari-cari sosok sang kekasih yang sudah membuat janji temu dengannya.
"Enggak datang paling, dia," tebak Gilang.
"Atau, dia beneran hanya fiktif belaka," lanjutnya seraya tersenyum mengejek.
Erlan hanya mencebik. Pemuda yang selalu full senyum tersebut kembali mengedarkan pandangan dan senyum Erlan langsung lebar begitu melihat dua muda-mudi sedang bercanda sambil memilih-milih t-shirt.
"Dik," sapa Erlan seraya menepuk pundak sang pemuda.
"Eh, Si Abang. Udah ditungguin dari tadi, baru nongol," ucap pemuda tersebut seraya menyalami Erlan dan mencium punggung tangan asisten Gilang dengan takdzim.
"Siapa, Bang? Apa cewek itu, Dedek Cantik?" bisik Gilang penasaran, seraya menunjuk gadis berhijab yang nampak agak murung.
"Bukan, dia saudaranya," balas Erlan, juga berbisik.
"Ayo, kok malah pada berhenti di situ!" seru sang oma yang menoleh ke belakang.
"Bentar Oma, ada ceweknya Bang Er," balas Gilang, asal.
Erlan hanya tersenyum.
Nenek Amira yang juga penasaran pada kekasihnya Erlan, kemudian kembali mendekati kedua cucunya yang sedang bersama seorang pemuda dan seorang gadis.
"Kekasihmu, Er? Yang ini, kah?" tanya sang oma seraya tersenyum pada gadis tersebut. "Cantik, ya," puji Nenek Amira, jujur.
Gadis cantik yang wajahnya terlihat bergelayut mendung itu mencoba tersenyum pada Nenek Amira dan kemudian menyalami omanya Gilang. Diikuti oleh saudara sepupunya yang juga menyalami Nenek Amira dengan takdzim.
"Bukan, Oma. Kekasih Si Abang, ada di dalam sana. Dia lagi fitting gaun pengantin. Si Abang 'kan kayaknya udah ngebet pengin segera nikah, Oma," sahut sang pemuda seraya tersenyum jahil pada Erlan, setelah salim dengan wanita tua itu.
__ADS_1
Erlan hanya geleng-geleng kepala, mendengar kejahilan saudara sepupu kekasihnya tersebut. Sementara gadis yang bersama sang pemuda, tersenyum tipis.
"Wah, kalau memang benar seperti itu, baguslah. Jadi ada couple pengantin, besok." Netra tua sang oma, berbinar bahagia.
"Ya sudah, Oma tunggu di dalam sana, ya," pamit sang oma yang kembali meneruskan langkahnya, mendekati Ailee dan manager butik yang masih menunggunya.
"Kenapa kamu, Dik? Kok wajahnya ditekuk gitu?" tanya Erlan pada saudara kekasihnya, setelah Nenek Amira menjauh.
"Biasa, Bang. Lagi galau dia karena sang pujaan, masih sulit untuk direngkuh," sahut pemuda itu kembali, membuat gadis tersebut mengerucut bibir.
"Yang sabar ya, Dik. Mas-mu itu lagi butuh waktu untuk merenung. Yakinlah, dia akan segera kembali seperti dulu," hibur Erlan yang sudah mengetahui kisah gadis tersebut dan sempat mengenal sang pujaan yang dimaksud.
Gadis cantik yang mengenakan hijab pasmina berwarna hitam itu mengangguk, mengerti.
"Dik, beneran Dedek Cantik ada di dalam?" tanya Erlan, memastikan. Sebab tidak biasanya sang kekasih memisahkan diri dari kedua saudaranya jika sedang shopping.
Mereka bertiga selalu kompak pergi kemana-mana. Memilih barang pun akan selalu bersama dan saling memberikan masukan, termasuk membeli pakaian dalam.
Tidak ada rasa canggung meski mereka berbeda gender, yang ada malah saling ledek seperti anak kecil.
Erlan kadang tertawa sendiri jika sedang berkencan dan kedua saudara kekasihnya itu ikut serta. Dia seperti bapak-bapak yang momong tiga anak remaja.
"Beneran, Bang. Ayo, kita susul!" ajak sang pemuda seraya menggandeng tangan saudara sepupunya untuk menuju ke ruang tamu.
Erlan dan Gilang segera mengekor langkah mereka berdua yang berjalan dengan cepat, hingga hampir dapat menyusul langkah Nenek Amira yang berjalan perlahan sambil melihat-lihat koleksi busana di butik tersebut.
Begitu memasuki ruang tamu, Nenek Amira dibuat terkejut begitu melihat seorang gadis yang mirip dengan gadis yang baru saja ditemuinya sedang bersama Erlan.
"Nak, kamu ... kenapa kamu sekarang sudah berada di sini? Tadi, bukannya kamu sedang di luar bersama saudara laki-lakimu?" tanya Nenek Amira, bingung.
Pemilik butik yang sudah mengenal baik wanita tua itu, tersenyum. "Mereka kembar, Oma," sahut Fira. "Ini Maida dan yang di luar tadi, namanya Maira."
"Bang, memangnya Bang Er enggak bingung membedakan mereka berdua?" tanya Gilang, yang sudah berdiri di ambang pintu bersama Erlan.
"Ya enggak bakalan bingung, lah, Bang. Yang satu kalem dan yang satunya seradak-seruduk," sahut Iqbal yang sudah nyelonong masuk dan langsung duduk di sofa, seraya terkekeh.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1