
Ailee sudah berada di kediaman keluarga Gilang dan gadis itu menempati kamar di lantai satu, tepat di samping kamar sang oma.
Kamar yang tadinya kosong tersebut terlihat sudah siap untuk ditempati karena asisten rumah tangga sudah mendapatkan perintah dari omanya Gilang, untuk menyiapkan kamar di sebelah kamarnya untuk Ailee.
Ruangan kamar yang cukup luas itu ditata sedemikian rupa, sehingga terlihat elegan seperti permintaan wanita tua bersahaja yang merupakan satu-satunya perempuan di keluarga Gilang yang tinggal di rumah tersebut.
"Oma, ini terlalu luas untuk Ai tempati sendirian, Oma," kagum Ailee memindai kamar yang telah disiapkan untuknya.
"Ini empat kali lipat kamar Ailee, Oma?" lanjutnya seraya berkeliling.
"Kamar kamu yang di mess, Nak?" tanya sang oma.
"Bukan, Oma, tapi kamar Ai di rumah," balas Ailee yang tiba-tiba terlihat sendu.
Wanita tua itu mengerutkan dahi, tak dapat membayangkan seperti apa sempitnya kamar Ailee. "Kamu serius, Nak?"
Ailee mengangguk. "Kamar Ai bahkan sama gudang, lebih bagus dan lebih luas gudang, Oma," balasnya, seraya menerawang menatap ke arah luar jendela kamar yang menghadap ke taman samping.
Dari tempatnya berdiri, gadis ceria tersebut dapat melihat air pancuran yang mengalir ke kolam ikan koi, ikan peliharaan Gilang.
Suara gemericik airnya juga dapat di dengar dengan jelas oleh Ailee, hingga membuat suasana hatinya menjadi tenang.
"Dulu, Bibi yang selalu menghibur Ai dan mendoakan agar kelak Ai bertemu dengan orang baik yang dapat mengangkat derajat Ai. Sekarang, apa yang diucapkan Bibi ternyata benar-benar terjadi." Ailee kemudian menatap sang oma.
"Terimakasih ya, Oma. Oma sudah berbaik hati membawa Ai pulang ke rumah Oma dan memberikan yang terbaik untuk Ai." Gadis belia itu kemudian memeluk omanya Gilang.
Sang oma membalas pelukan Ailee seraya mengusap lembut punggung gadis berhijab tersebut.
"Ini rumah kamu, Nak. Kami semua yang di sini adalah keluargamu," tutur sang oma.
"Sudah, jangan bersedih lagi. Tersenyumlah, Sayang." Sang oma melerai pelukan dan kemudian menangkup kedua pipi Ailee seraya tersenyum hangat.
"Ayo, oma ajak berkeliling agar kamu mengenali rumah kamu ini!" ajak sang oma yang kemudian menuntun Ailee untuk keluar dari kamar gadis tersebut.
Sementara Gilang dan Erlan yang tengah duduk di ruang keluarga, dipanggil sang oma agar ikut menemani berkeliling rumah yang sangat luas itu.
"Ge tidak ikut, ah, Oma. Ge capek," tolak Gilang yang sengaja menghindar.
"Capek ngapain, memangnya?" Erlan menatap tak mengerti pada sang adik sepupu.
"Semalam 'kan begadang sama teman-tekan kantor dan tadi pagi, dipaksa jogging sama Oma," balas Gilang.
"Kalau itu alasannya, samalah. Aku juga capek, Ge!" timpal Erlan yang sudah beranjak, menuruti titah sang oma.
__ADS_1
"Oma saja yang sudah tua, masih tetap semangat. Kalian yang masih muda, kenapa loyo begitu?" cibir sang oma.
"Ge tuh Oma yang loyo." Erlan ikutan mencibir Gilang.
"Kebanyakan makan sayur terong kali, ya, Bang Erlan, Om Ge. Makanya loyo gitu," sahut Ailee tanpa diduga, membuat semua orang mengerutkan dahi dengan dalam.
"Dulu setiap kali lauknya sayur terong, Bibi pasti mengingatkan agar Ai jangan ngambil banyak-banyak, biar enggak ngantuk di sekolah dan enggak loyo katanya." Ailee mengingat perkataan sang bibi yang mengasuhnya.
"Hahaha ...." Tiba-tiba, tawa Erlan pecah.
"Kenapa, Bang?" tanya Ailee, menatap tak mengerti pada Erlan.
"Pak CEO, makan terong berapa banyak, Pak?" bisik Erlan bertanya, di telinga Gilang dengan nada mengejek. Membuat pemuda berwajah dingin tersebut, cemberut.
"Lucu juga kali, ya, kalau Pak CEO makan terong," lanjut Erlan, masih berbisik.
Gilang mendengkus, kesal karena sang kakak sepupu masih saja membahas hal yang tidak penting. Bahkan tidak pernah terlintas dalam otaknya.
Mendengar namanya saja jarang, melihat secara langsung pun belum pernah, apalagi memakan sayuran yang katanya bikin loyo tersebut.
'Ck, gadis itu ada-ada aja, sih,' bisik Gilang dalam hati.
"Enggak apa-apa Ge, sesekali mencoba makan sayur terong. Asalkan setelah makan sayur terong, terong kamu jangan ikutan loyo," imbuh Erlan yang kemudian mendapatkan tinju dari Gilang.
Erlan semakin terkekeh, membuat Gilang kemudian ikutan tersenyum.
"Kalian ini membicarakan apa, sih?" tanya sang oma, penasaran.
"Bukan apa-apa, Oma," balas Erlan, cepat.
"Memangnya, Nak Ai dulu sering makan sayur terong?" tanya sang oma, kemudian.
Ailee mengangguk. "Hampir tiap hari, Oma, karena sayuran yang murah 'kan, terong. Ai dan bibi lauk sayur terong, sedangkan untuk papa dan kakak-kakak Ai, dimasakin yang lain," balas Ailee, jujur.
Erlan dan Gilang yang belum tahu banyak cerita tentang Ailee, mengerutkan dahi.
"Mulai sekarang, Ai akan selalu makan bareng sama keluarga Ai yang baru di sini. Jangan sedih lagi, ya!" Sang Oma mengusap punggung Ailee dengan penuh kasih.
"Makasih, Oma," ucap Ailee seraya tersenyum tulus.
Wanita tua itu kemudian menuntun Ailee untuk berkeliling rumah yang diikuti oleh Gilang dan Erlan.
Ailee diajak ke taman samping, taman yang dapat dilihat dari kamarnya. Diajak ke kebun belakang, kebun luas yang ditanami berbagai macam buah dan sayuran hijau.
__ADS_1
"Oma, sejuk sekali ya, di sini." Gadis belia tersebut merentangkan kedua tangan seraya memejamkan mata. Menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang bersih dan tersedia bebas di sana.
Baru kali ini Ailee merasakan menghirup udara segar karena di rumahnya yang berada di komplek padat, tak ada lagi ruang terbuka hijau.
Semua lahan sudah dipenuhi dengan berbagai macam bagunan. Mulai dari perumahan, perkantoran, pertokoan dan pusat-pusat perbelanjaan.
Kalaupun ada tempat bermain untuk anak, tempatnya berada di dalam ruangan. Seperti di pusat-pusat perbelanjaan yang menyediakan wahana permainan anak yang serba modern.
Anak-anak kecil tak dapat lagi berlari dan bermain kejar-kejaran bersama kawan-kawannya, sambil tertawa riang.
"Kalau kamu suka tempat ini, setiap weekend kita bisa camping di sini dengan mendirikan tenda," ucap Erlan, membuat Ailee membuka matanya.
"Bolehkah?" tanyanya, antusias.
"Tentu saja boleh, Nak." Sang oma mengangguk, membenarkan perkataan Erlan.
"Kita juga bisa membuat api unggun di malam harinya, biar persis seperti orang yang camping di hutan," lanjut Erlan.
Ailee semakin tidak sabar, menunggu weekend di minggu depan. "Asyik, minggu depan kita camping di sini ya, Bang."
"Jangan ajak aku, Ai. Malam minggu nanti, aku ada kencan dengan seseorang," tolak Erlan, jujur.
"Kamu ajak saja calon suami kamu, biar kalian makin dekat," lanjutnya seraya menyenggol lengan Gilang.
"Hah? Sama Om Ge?" Ailee menunjuk ke arah Gilang yang sedari tadi hanya diam dan sama sekali tidak mengeluarkan suara.
"Kenapa?" tanya Gilang, ketus.
"Enggak mau, ah! Om Ge orangnya enggak seru! Masak camping ditemani beruang kutub!" Ailee mengerucutkan bibir.
Gilang mengerutkan dahi. "Apa kamu bilang?" tanya Gilang, geram.
Sementara Erlan tergelak, mendengar perkataan Ailee yang menyamakan Gilang dengan beruang kutub.
"Beruang kutub, Om. Om Ge 'kan dingin, tuh. Nah, persis 'kan, seperti beruang kutub yang bulunya tebal karena tinggal di tempat dingin," jawab Ailee tanpa rasa berdosa.
Sang oma tersenyum, seraya geleng-geleng kepala. Wanita tua itu semakin yakin, bahwa dengan kepolosan dan kekonyolan Ailee, hati sang cucu akan dapat mencair dari kebekuannya selama ini.
"Baguslah kalau kamu enggak mau. Kamu pikir, aku juga mau?" ucap Gilang, kemudian. Pemuda tampan tersebut dibuat keki, dengan penolakan Ailee.
"Oma setuju dengan Erlan, kalian harus camping bareng biar lebih dekat. Nanti, oma yang akan menemani kalian," putus sang oma kemudian yang tidak dapat lagi dibantah oleh Gilang.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1