Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Biarkan Aku Memelukmu


__ADS_3

Di ballroom hotel tempat resepsi pernikahan Ailee dan Gilang, kemeriahan pesta baru saja berakhir. Pengantin laki-laki yang wajahnya berbinar terang itu hendak segera mengajak sang istri menuju ke kamar, tetapi langkahnya terhenti ketika Erlan memanggil.


"Ge, buru-buru amat. Mau kemana, sih?" Erlan menaik-turunkan alisnya, menggoda sang adik sepupu.


"Ke puncak nirwana, lah, kemana lagi?" Gilang tersenyum dikulum. Otak mesumnya sudah membayangkan bagaimana nanti malam pertama mereka berdua.


"Gabung dulu sama keluarga yang lain, kita makan malam bersama sebelum besok mereka kembali!" suruh Erlan.


Mau tak mau, Gilang mengikuti saran sang kakak sepupu. Mempelai laki-laki itu kemudian menuntun sang istri, untuk bergabung bersama keluarga besarnya.


Gilang dan sang istri terus berjalan menuju lounge, tempat makan malam keluarga besarnya digelar. Sementara Erlan yang mengajak kedua mempelai itu malah langsung kabur karena harus mengantarkan sang kekasih ke rumah sakit.


"Duduk sini, Nak Ai," pinta sang oma seraya menepuk bangku kosong di sebelahnya.


Patuh, Ailee kemudian mendekat ke arah Nenek Amira. Gilang juga ikut mendekat dan kemudian duduk di samping sang istri. Bersebelahan dengan Satria yang terus menatap Ailee dengan kagum.


"Kondisikan mata kamu, Sat!" bisik Gilang setelah duduk, memperingatkan sang keponakan.


"Yaelah ... pelit amat, sih, Om!" protes Satria. "Aku 'kan hanya mengagumi keindahan ciptaan Tuhan, Om. Sama sekali tidak ada niat untuk mengagumi istri Om, apalagi merebutnya!" imbuhnya, tanpa memelankan suara.


"Merebut juga enggak apa-apa kali, Bang kalau Bang Sat bisa," sahut Kukuh yang otaknya telah teracuni oleh statemen-statemen dari sang kakak.


"Kukuh!" peringat sang mama, seraya menatap putra keduanya. Wanita paruh baya tersebut merasa heran dengan sikap putra keduanya yang seringkali berbicara dengan begitu polos dan apa adanya.


"Sudah-sudah. Ayo, makan!" Suara mamanya Erlan, membuat perdebatan kecil itu pun terhenti.


Mereka kemudian mulai menikmati makan malam yang telah dihidangkan dengan penuh canda dan tawa. Seluruh anggota keluarga berbahagia karena dapat berkumpul dengan keluarga besar yang jarang sekali dapat mereka lakukan. Kecuali Gilang yang terlihat gelisah dan makan dengan tidak tenang.


"Ge, kalau makanan kalian sudah habis, kalian bisa segera beristirahat," tutur sang oma yang bisa menangkap kegelisahan cucunya.


"Iya, Oma. Kami memang sudah lelah dan ingin segera beristirahat," balas Gilang seraya tersenyum lebar, begitu mendapatkan angin segar dari sang oma.


"Bukankah begitu, Sayang?" tanyanya kemudian seraya melirik sang istri. Pemuda itu hendak meyakinkan pada semua anggota keluarga bahwa dirinya beserta istri belianya, memang butuh beristirahat.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, makanan di piring Gilang dan Ailee telah tandas tanpa sisa karena memang mereka hanya mengambil makanan sedikit.


Gilang segera berpamitan, hendak membawa sang istri beristirahat di kamar. "Oma, kami permisi dulu, ya," pamit Gilang yang mendapatkan anggukan kepala dari sang oma.


Pemuda tampan itu kemudian menatap budhe dan pakdhe yang sedari tadi tersenyum padanya. Seolah turut berbahagia, melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh sang keponakan.


"Pakde, Budhe. Kami ijin ke kamar dulu dan maaf karena tidak dapat menemani makan malam sampai selesai," sesal Gilang.


"Iya. Tidak apa-apa, Ge," balas Budhe Ris. Sementara Pakdhe San menganggukkan kepala seraya tersenyum hangat.


Gilang segera beranjak yang diikuti oleh sang istri. Ailee kemudian menganggukkan kepala dan tersenyum pada semua anggota keluarga, sebagai isyarat mohon undur diri terlebih dahulu.


"Pelan-pelan aja, Om! Jangan ngebut!" canda Satria sebelum Gilang dan Ailee, berlalu.


Gilang hanya mengedikkan bahu, tidak menanggapi candaan sang keponakan. Pemuda tampan itu kemudian segera berlalu dari tempat tersebut, sambil menggandeng mesra tangan sang istri tercinta.


\=\=\=\=\=


Gilang hanya tersenyum dan terus saja berjalan menuju lift. Begitu pintu kotak besi terbuka, suami dewasa Ailee itu segera membimbing sang istri untuk masuk ke dalam.


Kotak besi yang membawa mereka berdua perlahan bergerak naik, menuju lantai tertinggi di hotel tersebut. Lantai yang khusus menyediakan kamar dengan fasilitas terbaik, lengkap dengan kolam renang pribadi.


Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka, tepat di lantai yang mereka tuju.


"Aku gendong, ya." Tanpa menunggu persetujuan sang istri, Gilang segera membopong tubuh istrinya menuju ke kamar pengantin.


"Aw, Mas!" Ailee terpekik kecil karena terkejut mendapati tubuhnya tiba-tiba melayang.


"Malu kalau ada yang lihatin, Mas!" protesnya kemudian, seraya menyembunyikan wajah di dada bidang sang suami.


Aroma wangi tubuh Gilang menyeruak, memenuhi indera penciuman pengantin wanita yang masih berusia belia itu. Ailee memejamkan mata, menikmati aroma wangi yang membuatnya merasa nyaman berada dalam dekapan suaminya.


"Malu sama siapa, Sayang? Enggak akan ada yang melihat karena hari sudah cukup malam," balas Gilang.

__ADS_1


Ya, waktu telah menunjukkan jam setengah sepuluh malam, ketika acara resepsi tadi berakhir. Tepat sesuai apa yang diinginkan oleh Gilang. Pemuda itu tidak mau jika acaranya berakhir kemalaman yang akan dapat mengganggu malam pertamanya.


Sayangnya, keinginannya untuk bisa segera menikmati malam pertama sedikit tertunda karena mereka berdua harus mengikuti acara makan malam bersama keluarga besar terlebih dahulu.


Dengan salah satu kakinya, Gilang membuka pintu kamar hotel yang tidak tertutup rapat. Seakan, semua memang telah dipersiapkan untuk menyambut sepasang sejoli yang baru saja resmi menjadi suami istri.


"Selamat datang di kamar pengantin kita, Sayang," ucap Gilang seraya menurunkan sang istri di tepi ranjang pengantin. Ranjang berukuran super luas yang bertabur mawar merah nan harum, hingga semerbak keharumannya memenuhi ruangan.


"Mas, kapan Mas Gilang menyiapkan semua ini?" tanya Ailee seraya mengedarkan pandangan, mengagumi kamar super mewah tersebut.


"Mbak Gia dan Mbak Tia yang menyiapkan untuk kita," balas Gilang seraya menatap manik hitam sang istri, dengan tatapan penuh damba.


Suami dewasa Ailee itu nampaknya sudah tidak sabar, untuk segera menghabiskan malam panjang mereka berdua di atas pembaringan yang empuk. Gilang kemudian sedikit menunduk dan mencium kening sang istri dengan dalam.


"Sayang, apa kita bisa ...."


"Mas, Ai mau bersih-bersih dulu, ya," sergah Ailee, sebelum suaminya melanjutkan ucapannya.


"Ai enggak menolak, Mas. Ai cuma ingin mempersiapkan diri, untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk Mas," lanjutnya ketika melihat wajah sang suami, nampak sedikit kecewa.


"Baiklah, Sayang. Sini, aku bantu." Dengan telaten, Gilang membantu istrinya melepaskan aksesoris yang menempel di kepala sang istri.


"Ai, tunggu, Yang," cegah Gilang ketika Ailee sudah melepaskan hijab dan segera beranjak untuk menuju kamar mandi.


"Ada apa, Mas?" tanya Ailee seraya mendongak menatap sang suami.


Gilang kemudian melepaskan ikat rambut sang istri dan rambut hitam nan panjang Ailee langsung tergerai dan terlihat begitu indah. Penuh perasaan, suami Ailee itu kemudian membelai rambut indah istrinya dan memeluk erat sang istri tercinta.


"Mas, sampai kapan Mas akan menahan Ai seperti ini?" tanya Ailee ketika sang suami tidak juga melepaskan dirinya.


"Biarkan seperti ini dulu, Sayang. Biarkan aku memelukmu."


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2