
Erlan kembali ke ruangannya dengan menyimpan kemarahan. Bisa saja, pemuda tersebut langsung menegur Talita dan Risma, atau memberikan sangsi pada kedua senior Ailee, tetapi Erlan tidak mau bertindak gegabah.
Dia paham betul bahwa Ailee pasti tidak akan setuju jika dirinya memberikan hukuman pada dua wanita ambisius itu karena gadis yang dijodohkan dengan Gilang oleh Nenek Amira, adalah gadis yang berhati tulus dan lembut.
Asisten pribadi bos GCC tersebut ingin meminta pendapat Ailee terlebih dahulu, untuk memberikan pelajaran pada karyawan yang mulutnya kotor seperti Talita dan Risma.
"Ck! Bikin enggak fokus kerja aja!" Erlan yang sudah tidak sabar menunggu waktu jam makan siang, menghela napas kasar.
Kakak sepupu Gilang itu beranjak kembali dari singgasananya yang empuk, yang baru saja diduduki dan kemudian menuju ke arah dinding kaca yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit, di belakang perusahaan GCC.
Ya, perusahaan tersebut berada di daerah padat industri. GCC berdiri megah di antara bangunan-bangunan megah lainnya yang menjulang tinggi.
Dari tempatnya berdiri di lantai tiga puluh satu, Erlan dapat melihat hampir ke seluruh wilayah di mana perusahaan milik Gilang, berada.
Lamunan Erlan buyar, ketika terdengar ponselnya berdering.
Pemuda yang memiliki tatapan bersahaja tersebut segera mengambil ponsel dari dalam saku dan kemudian melihat ke layar benda pipih yang masih berdering.
Erlan tidak segera menerima panggilan yang masuk ke ponselnya, tetapi pemuda gagah itu malah keluar dari ruangannya dengan berjalan tergesa.
"Kenapa Abang lama sekali? Aku sudah menunggu dari tadi!" protes Gilang, begitu Erlan memasuki ruangannya.
Ya, rupanya yang menelepon Erlan barusan adalah sang bos, dan asisten yang sudah hafal dengan kelakuan bosnya yang pasti akan menagih pekerjaan itu tidak perlu menerima panggilan dari sang atasan, tetapi langsung menemui Gilang.
"Sorry, Ge. Aku lupa," balas Erlan yang kemudian segera memeriksa file yang sempat dia sambar, sebelum keluar dari ruangannya barusan.
Gilang mengerutkan dahi. "Lupa?" Bos perusahaan GCC tersebut nampak tidak percaya dengan jawaban sang asisten.
Erlan, asisten pribadinya yang teliti dan pekerjaannya selalu perfect, tiba-tiba saja bisa mengatakan kalau lupa. Pasti sedang ada masalah, begitulah yang dipikirkan oleh Gilang.
"Ada apa, Bang?" tanya Gilang, penasaran.
Erlan menghentikan aktifitasnya dan kemudian menatap Gilang. "Ini menyangkut Ailee."
Dahi Gilang kembali berkerut dalam. "Ada apa dengan dia?" tanyanya, penuh keingintahuan.
"Nanti saja. Aku akan selesaikan ini dulu karena setengah jam lagi, kita ada rapat," tolak Erlan yang kemudian kembali fokus dengan berkas-berkas di tangan.
Gilang menghela napas panjang. Rasa penasaran, membuat pemuda tampan tersebut menjadi tidak tenang.
__ADS_1
'Ailee. Ada apa dengan gadis itu?' gumam Gilang, bertanya-tanya.
Gilang yang duduk di kursi kebesarannya, teringat akan keceriaan gadis belia yang dijodohkan dengan dirinya itu, dan pemuda tersebut tersenyum dikulum.
'Gadis yang polos, apa adanya dan sepertinya dia benar-benar tulus. Tidak seperti kebanyakan wanita yang ambisius, gila harta dan hanya mementingkan kesenangan semata,' monolog Gilang, dalam diam.
'Apa aku harus mulai membuka hati untuk Ailee?'
"Ge, silahkan kamu cek dulu sebelum kita bawa ke ruang rapat." Suara Erlan, mengurai lamunan Gilang.
Bos perusahaan GCC tersebut menerima berkas yang diberikan oleh Erlan dan kemudian menyimpannya begitu saja di hadapannya.
"Tidak perlu, Bang. Aku percaya padamu," ucap Gilang.
Terdengar pintu ruangan Gilang diketuk dari luar.
"Masuk," titah pemuda berwajah tegas tersebut.
Seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan Gilang seraya tersenyum ramah.
"Maaf, Pak Presdir, Pak Asisten. Saya mau mengingatkan, bahwa rapat sepuluh menit lagi akan dimulai." Sekretaris Gilang itu menyampaikan dengan sopan kepada atasannya mengenai rapat yang akan segera dimulai.
"Terimakasih, Omi. Kamu bisa ke ruang rapat sekarang, nanti kami menyusul," ucap Erlan seraya tersenyum.
"Baik, Pak Presdir, Pak Asisten. Saya permisi." Naomi mengangguk dan kemudian segera berlalu dari ruangan yang menurutnya berhawa dingin tersebut.
Bukan dingin karena AC-nya disetel dengan maksimal, tetapi karena aura sang atasan yang selalu bersikap dingin kepada dirinya.
Ya, Gilang seolah membatasi diri bersinggungan dengan sang sekretaris. Bos perusahaan yang masih muda itu hanya berbicara dengan Naomi seperlunya saja.
Gilang tidak seperti bos-bos lain yang gemar memanfaatkan situasi. Ruangan yang tertutup dan seringnya kebersamaan dengan sekretaris seksi, membuat sebagian bos besar menjalin affair dengan sekretarisnya.
"Bang, Ailee kenapa? Ceritakan saja sekarang, daripada aku penasaran!" tagih Gilang, tidak sabar.
Erlan melihat jam di pergelangan tangan dan pemuda yang selalu ramah pada para karyawan tersebut, menggeleng.
"Waktunya tidak cukup, kita rapat dulu," ajaknya seraya beranjak.
"Ck! Siapa yang bos, siapa yang nyuruh!" kesal Gilang yang kemudian ikut beranjak.
__ADS_1
Erlan terkekeh pelan. "Sorry, Bro. Habisnya, kamu seperti anak kecil yang tidak sabaran untuk segera mengetahui kabar tentang mainan barunya."
"Atau jangan-jangan, kamu beneran sudah jatuh hati pada Ailee ya, Ge?" tanya Erlan, kemudian.
Gilang tak menjawab. Pemuda yang tatapannya tajam dan dingin tersebut segera berlalu dari ruangannya untuk menuju ke ruang rapat.
\=\=\=\=\=
Jam makan siang pun tiba. Erlan yang tengah menunggu Ailee di ruangannya, berjalan mondar-mandir dengan perasaan resah.
"Ai, kenapa kamu lama sekali? Atau jangan-jangan, kamu kesasar lagi!' Erlan melongok keluar ruangannya dan mengedarkan pandangan ke koridor lantai tiga puluh satu yang terlihat sepi.
Pemuda itu menghela napas panjang dan kemudian mendudukkan diri di kursi kerjanya yang empuk.
Terdengar pintu ruangannya yang sengaja tidak ditutup dengan rapat, diketuk dari luar.
"Ya, masuk saja, Ai!" serunya yang sudah dapat menebak, bahwa yang datang menemuinya pastilah Ailee.
"Assalamu'alaikum, Pak Erlan." Ailee tersenyum dan kemudian masuk ke dalam ruangan asisten pribadi bos perusahaan yang baru pertama kali ini dilihat oleh gadis itu.
Ailee mengedarkan pandangan ke ruangan yang luas tersebut. Ruangan yang tertata dengan rapi dan sangat elegan.
"Panggil bang saja, Ai," protes Erlan yang kemudian berpindah duduk di sofa.
"Duduklah," titahnya kemudian, seraya menunjuk sofa di depannya.
Ailee kemudian mendudukkan diri di sofa empuk, sofa yang sama elegannya dengan yang berada di kediaman Gilang.
"Apa yang akan kamu bicarakan, Ai?" tanya Erlan kemudian, pura-pura belum mengetahui apa-apa.
"Pak Gilang, Bang. Apakah Om Ge itu, Pak Gilang?" tanya Ailee to the point.
"Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu?" tanya Erlan.
Ailee terdiam. Gadis berhijab biru navy itu nampak bingung untuk menjelaskan, harus memulai dari mana?
"Kalau benar, Ge itu Gilang, kenapa?" lanjut Erlan, setelah beberapa saat menunggu tetapi Ailee belum juga bersuara.
"Jika benar Om Ge itu Pak Gilang, lebih baik Ai mundur saja dari perjodohan kami." Suara Ailee yang terdengar tercekat di tenggorokan, membuat seseorang yang menguping diluar ruangan Erlan, menelan saliva getir.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕