Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Ulang Tahun ke Tujuh Belas


__ADS_3

Setelah kepergian Erlan, Gilang kemudian berpesan pada sekretarisnya bahwa untuk saat ini dia tidak mau diganggu. Sekretaris seksi Gilang itu tersenyum seraya menganggukkan kepala, patuh pada perintah sang bos. Bos GCC tersebut lalu segera mengunci pintu ruangannya.


"Mas, kenapa dikunci?" tanya Ailee yang tidak tahu bahwa sang suami sudah berpesan pada sang sekretaris agar jangan ada yang mengganggu waktu mereka berdua.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya ingin beristirahat tanpa ada yang mengganggu," balas Gilang yang kemudian mendekati sang istri. Pemuda tampan itu lalu merebahkan diri di sofa dan menggunakan paha sang istri sebagai bantalnya.


Tanpa diminta, Ailee langsung mengusap-usap kepala sang suami dengan lembut. Ini maksud Gilang yang tidak ingin diganggu. Kebersamaan dengan istrinya yang tidak melulu harus senam di atas ranjang. Cukup dengan bermanja-manja seperti ini, sudah membuat bos GCC tersebut sangat senang.


Ailee terus mengusap kepala sang suami. Sementara Gilang yang langsung memejamkan matanya tadi, menikmati setiap usapan tangan lembut sang istri. Lama kelamaan, Gilang benar-benar terlelap ke alam mimpi.


Menyadari sang suami telah benar-benar tidur dengan tanda hembusan napas Gilang yang teratur, Ailee tersenyum. "Ai bersyukur banget memiliki Mas Gilang. Sudah tampan, baik, sayang pula sama Ai dan keluarga Ai," gumam Ailee.


Mengingat keluarganya, wajah cantik Ailee tiba-tiba menjadi mendung. Papa dan kedua kakak perempuannya yang dulu nampak sangat bahagia, kini harus menjalani kehidupan yang sangat memprihatinkan karena ulah mereka sendiri. Sang papa yang terpaksa harus duduk di kursi roda akibat penyakitnya dan Aina yang calon dokter, kini seperti orang gila yang terkadang menangis, tertawa dan berbicara seorang diri.


Sementara sang kakak pertama, Aira, terpaksa harus mengundurkan diri dari pekerjaannya menjadi dosen di kampus terkenal di ibukota. Aira memilih fokus untuk merawat sang putra yang mengalami keterlambatan perkembangan otak, akibat over dosis obat tidur yang dicampurkan Nelly dalam minuman Deka. Hal itu membuat kakak pertama Ailee, sering mengalami stres karena beban berat yang harus dipukulnya tersebut.


Saat ini, Nelly memang sudah mendekam dibalik jeruji besi, tetapi apa yang telah diperbuat baby sitter tersebut pada Deka tidak sebanding dengan hukuman penjara yang dia terima. Seharusnya, Nelly dihukum seberat-beratnya karena telah menghancurkan masa depan seorang anak manusia. Namun, begitulah hukum yang berlaku. Dia hanya dijerat pasal penganiayaan terhadap anak dengan hukuman penjara maksimal tiga tahun enam bulan dan Aira tidak dapat menuntut lebih. Apalagi saat itu, Nelly baru saja keguguran karena sengaja meminum jus nanas muda dalam jumlah yang banyak.


Hubungan Aira dan suaminya pun tidak sehangat dulu. Mereka masih bersama hanya demi Deka. Aira yang lelah karena mengurus sang putra dan mengawasi Aina serta papanya, tidak memiliki waktu lagi sekadar untuk ngobrol berdua dengan sang suami. Sementara Sindu sendiri sampai saat ini juga belum tahu pasti, apakah penyakitnya bisa disembuhkan atau tidak. Ayah Deka itu sudah pasrah.


Tanpa Ailee sadari, air matanya yang menetes mengingat kisah keluarganya yang menyedihkan, jatuh dan membasahi pipi sang suami. Membuat Gilang membuka mata perlahan. "Sayang, kenapa menangis?" tanya Gilang yang kemudian segera beringsut.


Ailee menggeleng dan buru-buru menyeka air matanya. "Tidak apa-apa, Mas. Hanya ingat Papa," balas Ailee, jujur.


Gilang kemudian menyandarkan kepala sang istri di bahunya. "Jika kamu merasa sedih, jangan kamu simpan sendiri. Ingatlah selalu, bahwa ada bahuku untukmu bersandar," canda Gilang mencoba, membuat sang istri tersenyum.

__ADS_1


Benar saja, Ailee langsung tertawa kecil seraya mencubit perut sang suami. "Apaan, sih, Mas. Garing, ah, becandanya."


"Tapi kamu suka, kan?" balas Gilang sambil menggelitik pinggang ramping istrinya, membuat tawa Ailee semakin pecah.


"Udah, Mas! Geli, ah ...." protes Ailee kemudian setelah lelah tertawa.


Gilang memang menghentikan menggelitik pinggang sang istri, tetapi tangannya tetap tidak berhenti. Kini yang dilakukan oleh suami tampan Ailee itu adalah mengusap lembut setiap bagian tubuh sensitif sang istri hingga mengubah tawa istrinya, menjadi desa*han manja. Istri cantik Gilang itupun membalas apa yang dilakukan oleh sang suami dan tak lama kemudian keduanya telah menyatu di atas sofa empuk, berusaha untuk menghadirkan Gilang Junior dalam pernikahan mereka berdua.


\=\=\=\=\=


Gilang dan Ailee baru saja tiba di rumah ketika hari menjelang maghrib. Kedatangan mereka berdua seperti biasa, selalu disambut hangat oleh sang oma. Setelah mereka berdua salim pada omanya, wanita tua itu selalu memeluk erat sang cucu menantu seolah lama mereka berdua tidak bertemu. Padahal, baru siang tadi Ailee meninggalkan rumah untuk ke kantor Gilang.


"Oma, yang cucu Oma itu, Ge, kenapa yang dipeluk selalu Ai, Oma?" protes Gilang, pura-pura marah.


"Halah, kamu kalau dipeluk suka berontak, Ge! Tidak mau lama-lama, padahal oma senang memeluk kamu karena aroma tubuhmu mengingatkan oma pada masa kecil papamu. Oma jadi pengin sering memeluk kamu, tetapi sayangnya, kamu suka menolak kalau oma peluk," balas sang oma yang membuat Gilang merasa bersalah.


"Kok ada tapinya!" sergah sang oma, protes dan segera melepaskan pelukan sang cucu.


"Ya ada, dong, Oma. Ge 'kan sekarang udah punya istri. Jadi, jika Ai mengijinkan maka Oma boleh peluk Ge," balas Gilang seraya tersenyum jahil dan kemudian mengerling pada sang istri.


Ailee tersenyum. "Tenang saja, Oma. Oma boleh, kok, peluk Mas Ge kapanpun Oma mau. Kalau Oma pengin tidur sambil memeluk Mas Ge, juga boleh," ucap Ailee sambil bergelayut manja di bahu sang oma.


Perkataan Ailee membuat sang suami buru-buru menggelengkan kepala. "Enggak-enggak. Enggak bisa begitu, dong, Sayang. Masak aku tidur sama Oma!" protes Gilang, membuat sang oma terkekeh.


"Iya-iya, oma sudah tua. Jadi harus tersingkir dengan yang muda," tutur sang oma kemudian, memasang wajah sendu.

__ADS_1


Gilang langsung kembali memeluk omanya. "Jangan pernah memiliki pikiran seperti itu, Oma. Bagi kami, Oma tetap yang utama," ucap Gilang.


Ailee ikut memeluk keduanya. "Benar, Oma. Kami semua sayang sama Oma," timpal wanita cantik itu.


"Siapa yang ulang tahun, nih? Kok pada pelukan?" tanya Kukuh yang baru saja turun dari kamarnya di lantai atas. Di belakang Kukuh, mengekor Reno yang rambutnya terlihat acak-acakan seperti baru saja bangun tidur.


"Memangnya yang boleh berpelukan hanya yang ulang tahun, Kuh?" Gilang balik bertanya.


"Enggak juga, sih, Om. Tapi kalau ada yang ulang tahun, kan, biasanya kita-kita ditraktir," balas Kukuh memberi kode.


"Benar, Om. Kayaknya, Ombu, deh yang ulang tahun," timpal Reno.


"Tidak-tidak! Ombu ulang tahunnya bareng sama negara kita," balas sang oma.


"Sudah-sudah. Kalau kalian mau ditraktir makan malam, bilang aja. Enggak perlu kasih kode-kode yang enggak jelas kayak gitu," ucap Gilang seraya menatap kedua ponakannya, bergantian.


"Mau, Om, mau. Mumpung Bang Sat lagi enggak ada di rumah, Om. Dia 'kan kalau jajan paling banyak," ucap Kukuh.


"Dan banyak maunya," timpal reno. Keduanya remaja itu kemudian terkekeh.


"Ya udah, sana. Buruan sholat maghrib dulu, setelah itu bersiap. Om juga mau siap-siap," usir Gilang pada Kukuh dan Reno, membuat kedua remaja tersebut berseru riang sambil berebut menaiki anak tangga hendak segera bersiap.


"Ge, oma sudah menyiapkan masakan untuk kalian, lho," protes sang oma setelah kedua cucu buyutnya berlalu.


"Tidak apa-apa, Oma. Biar di makan sama bibi-bibi di belakang dan pak satpam. Kita makan di luar saja, ya. Anggap saja, ini adalah perayaan ulang tahun Oma yang ke tujuh belas," balas Gilang tersenyum dan kemudian merangsek ke tengah, di antara oma dan istrinya. Gilang kemudian merangkul pundak kedua wanita yang dia sayangi itu.

__ADS_1


"Nakal kamu, Ge, ngeledek oma. Kebalik, bukan ulang tahun ke tujuh belas, tetapi tujuh puluh satu!" Mereka bertiga pun kemudian tertawa bersama.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2