Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Banyak Penggemar Wanita


__ADS_3

Ailee baru saja sadar ketika dia sudah dipindahkan ke kamar dan hanya ada Gilang di sana. Erlan berhasil membujuk sang oma dan Mama Irna untuk makan malam dahulu bersama keluarga yang lain agar tidak sakit sehingga bisa menemani dan merawat Ailee nantinya. Wanita tua dan paruh baya itu pun menurut lalu mereka bertiga meninggalkan kamar Gilang.


"Sayang. Kamu sudah sadar? Alhamdulillah," ucap Gilang, penuh rasa syukur. "Apa yang kamu rasakan, Sayang?"


"Ai haus," jawab Ailee.


Gilang membantu membangunkan sang istri. Ailee lalu duduk dengan bersandar pada sandaran ranjang. Suami dewasa Ailee itu kemudian mengambilkan segelas air putih.


"Ini, Sayang. Pelan-pelan saja, minumnya." Gilang lalu membantu memegang gelas tersebut dan meminumkannya pada sang istri.


Ailee hanya nurut saja dan tidak menolak. Gilang kemudian mengusap bibir tipis sang istri dengan ibu jarinya. "Sudah enakan atau masih pusing?" tanyanya, seraya duduk di samping istrinya.


Gilang menatap dalam netra sang istri. Hendak mencari tahu apa yang saat ini dipikirkan oleh istrinya. Pemuda tampan itu lalu menyibak anak rambut sang istri yang menutupi dahi Ailee. Ya, Gilang melepas hijab sang istri setelah Erlan keluar bersama sang oma dan mamanya.


Istri belianya itu masih terdiam hingga membuat Gilang semakin bingung. Gilang lalu menggenggam erat tangan istrinya. Mengecup punggung tangan itu dengan lembut, kemudian.


"Aku tahu, kamu pasti mendengar apa yang kami bicarakan tadi," ucap Gilang seraya menatap lekat bola mata indah Ailee.


Wanita bermata bulat itu mengangguk. Bulir bening tiba-tiba meluncur begitu saja dari sudut netranya. Hati Gilang teriris melihat air mata sang istri tercinta.


Istri yang seharusnya dia jaga perasaannya seperti janji Gilang pada diri sendiri yang tidak akan membuat Ailee menangis. Namun, sang istri kini menangis di hadapan. Gilang mendesah panjang kemudian.

__ADS_1


"Yang kamu dengar tadi hanya sepenggal cerita, Sayang. Apa kamu mau mendengar cerita lengkapnya?" tanya Gilang, menelisik wajah cantik istrinya.


Ailee masih terdiam dan sibuk menyeka air matanya. Ya, sedewasa apapun pemikiran Ailee, dia tetap wanita muda yang masih memiliki sisi labil. Apalagi peningkatan hormon progesteron dan hormon estrogen karena kehamilannya, membuat ibu hamil muda itu sulit mengatur emosi.


"Kamu percaya padaku, kan, Sayang?" tanya Gilang kemudian setelah cukup lama menanti, tetapi sang istri tidak memberikan jawaban.


Ailee menganggukkan kepala. Gilang kemudian merengkuh tubuh istrinya dan mendekap di dada. Pemuda tampan itu cukup tenang karena sang istri masih mempercayainya.


"Terima kasih karena kamu masih mempercayaiku, Sayang," bisiknya. Gilang lalu mengecup puncak kepala sang istri, penuh rasa sayang.


Rupanya, ketenangan hati Gilang hanya sementara saja. Sebab, berada dalam dekapan hangatnya sang istri justru terisak. Membuat suami dewasa Ailee itu bingung kembali.


"Sayang. Kenapa lagi? Katanya, kamu percaya padaku?" Gilang melepaskan pelukan lalu menyeka air mata sang istri yang terus saja mengalir.


"Ai, aku bisa ceritakan kejadian yang sebenarnya. Hanya saja, aku belum bisa mendatangkan saksi karena saat ini dia berada di luar Jawa." Suara Erlan membuat Gilang dan Ailee menoleh ke arahnya.


Gilang buru-buru mengambilkan hijab sang istri dan kemudian membantu memakaikannya.


"Abang sudah mendapatkan informasi siapa yang mengambil gambar itu?" tanya Gilang setelah Erlan berdiri di hadapannya. Dahi suami Ailee itu berkerut dalam.


"Tadi sewaktu makan, aku teringat Feri. Saat itu, dia juga ada bersama kita di pesta ulang tahun Topan, bukan?" Erlan menatap Gilang dan Gilang mengangguk, membenarkan.

__ADS_1


"Aku telepon dia dan tanya-tanya siapa saja teman-teman kita yang saat itu datang ke pesta si Topan karena jujur aku sudah lupa." Erlan menghela napas panjang.


"Kejadian itu sudah belasan tahun lalu, Ai," Erlan lalu menatap Ailee.


"Bang Er sambil duduk aja, biar enak ngobrolnya," saran Ailee dan Gilang sigap mengambilkan kursi kecil di meja rias untuk Erlan.


"Lalu?" tanya Gilang dengan tidak sabar, setelah dirinya kembali duduk di tepi ranjang.


"Feri memberi aku nomornya Nanik, mantan kekasih Topan. Feri bilang, Nanik tahu banyak tentang Topan dan keluarganya, termasuk Nesa, adik tiri Topan." Erlan sejenak menghentikan ceritanya.


Ailee nampak gelisah menanti. Dia sepertinya masih kepikiran dengan sepenggal pembicaraan yang tadi dia dengar. Sesekali terdengar dia menghela napas berat, seolah masih ada beban berat yang menghimpit di dada.


Gilang yang memahami perasaan sang istri, mengusap lembut punggung istrinya. "Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu dari kamu. Aku pikir, masalah remaja kala itu tidak akan hadir dan mengusik rumah tangga kita," bisik Gilang.


"Dari Nanik, aku tahu bahwa malam itu kamu memang sengaja dijebak oleh Topan dengan mencampurkan obat tidur ke dalam minuman kamu, sesaat setelah aku pulang mengantarkan Ellin," lanjut Erlan.


"Apa alasannya, Bang? Kami 'kan, berteman baik saat itu?" tanya Gilang.


"Itu hanya luarnya, Ge. Sebab, Nanik bilang kalau Topan iri sama kamu yang selalu menjadi juara dan juga ...."


"Dan juga apa, Bang?" desak Ailee yang sedari tadi diam menyimak ketika Erlan seolah ragu untuk melanjutkan.

__ADS_1


"Karena Gilang banyak penggemar wanitanya," balas Erlan, sambil melirik Gilang.


☕☕☕ bersambung... ☕☕☕


__ADS_2