Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Masalah Apalagi?


__ADS_3

Siang itu juga, usai tiup lilin dan potong kue, Gilang langsung melamar Ailee secara resmi di hadapan sang oma dan juga asisten pribadinya.


Gilang tidak mau melakukannya di hadapan papanya Ailee dan gadis belia itu pun bisa mengerti.


Sang oma memberikan kotak perhiasan yang tersimpan rapi di dalam tas tangan mahalnya dan Gilang kemudian membuka kotak perhiasan berwarna merah dan berbentuk hati tersebut.


Bos perusahaan GCC itu kembali berlutut di hadapan sang calon istri, seraya menunjukkan dua buah cincin. Satu cincin yang bertahtakan batu berlian yang sangat indah untuk Ailee dan satu lagi cincin perak dari bahan terbaik untuk Gilang.


"Sayang, maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Menjadi istri dan ibu dari anak-anakku?" pinta Gilang seraya menatap dalam manik hitam Ailee.


Gadis belia itu kembali berkaca-kaca, tidak menyangka akan mendapatkan kejutan istimewa dua kali dalam satu hari dari orang yang dia sayang.


Tadinya, Ailee beranggapan bahwa tidak akan ada lamaran, tetapi mereka akan langsung menikah. Sebab, selama ini tidak ada pembicaraan ke arah sana.


Tanpa ragu Ailee kemudian menganggukkan kepala, sebagai tanda bahwa dia bersedia untuk menjadi pendamping hidup dari pemuda yang pertama kali mengisi hatinya. Seorang laki-laki yang akan menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidup Ailee.


Gilang kemudian memasangkan cincin berlian indah itu di jari manis Ailee. Cincin itu berkilauan di terpa cahaya matahari yang bebas menerobos masuk di ruangan kantor Gilang.


"Ini indah sekali, Mas. Terima kasih," ucap Ailee yang tidak dapat lagi membendung air matanya.


"Sekarang, pasangkan cincin untuk calon suami kamu," titah sang oma.


"Ai sendiri, Oma?" tanya Ailee, memastikan.


"Iya. Karena kamu tidak didampingi oleh siapa-siapa, jadi kalian sendiri yang menyematkan cincin di jari pasangan kalian," balas sang oma.


Ailee mengangguk, mengerti dan


kemudian memasangkan cincin di jari manis Gilang. Setelahnya, dia mencium punggung tangan sang calon suami dengan takdzim.


Gadis belia itu menangis, haru. Tiada terkira kebahagiaan yang dia rasa hari ini.


"Hai, jangan menangis, Sayang!" Gilang menyeka air mata Ailee dengan ibu jarinya dan kemudian mengecup puncak kepala sang calon istri yang tertutup hijab.


"Sudah, jangan cium yang lain!" peringat sang oma yang memang tegas dalam menjaga pergaulan cucu-cucunya dalam bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan atau belum menjadi mahromnya, meski seringkali memberikan kelonggaran asalkan masih dalam batas kewajaran menurutnya.

__ADS_1


Peringatan sang oma, membuat Erlan tertawa puas karena wajah Gilang langsung masam begitu ditegur oleh omanya.


"Ah, Oma ... enggak asyik banget!" protes Gilang. "Kali ini pengecualian ya, Oma. Ijinkan Ge mencium calon istri, dikit aja," pintanya kemudian.


"Tidak ada pengecualian, Ge," tolak sang oma. "Toh beberapa hari lagi, Nak Ai sudah akan resmi menjadi istrimu. Tunggulah sampai saat itu tiba dan kamu bebas untuk melakukan apa saja padanya," lanjut wanita tua tersebut.


Gilang terpaksa mengangguk, mengiyakan perkataan sang oma. Meski dalam hati dia tidak terima karena tidak diperbolehkan mencium sang calon istri walau hanya sedikit saja di bibir. Bukan-bukan, bukan di bibir, tetapi di pipi.


Sementara Ailee tersenyum dikulum, melihat Gilang yang wajahnya terlihat mendung.


Usai acara lamaran yang sangat sederhana tersebut, sang oma kemudian mengajak cucu-cucunya untuk makan siang bersama.


Setelah makan siang yang diwarnai obrolan hangat serta canda dan tawa itu, sang oma kemudian pamit untuk pulang.


"Oma, Ai biar di sini dulu, ya, menemani Ge?" pinta Gilang yang masih kangen ingin berduaan bersama sang calon istri.


"Tidak-tidak, tidak boleh! Nanti kamu macam-macam!" tolak sang oma.


"Macam-macam bagaimana maksud, Oma? Kalau Oma nuduh Ge macam-macam, itu artinya Oma juga tidak percaya sama calon cucu menantu Oma," ucap Gilang seraya tersenyum tipis.


"Bukan begitu, Ge. Oma percaya, kok, sama dia," balas sang oma yang merasa tidak enak hati karet sang cucu menuduhnya tidak percaya dengan Ailee.


"Baiklah, jika memang kamu bisa menjaga Nak Ai dengan benar, tidak mengapa oma pulang duluan," lanjut sang oma yang akhirnya mengijinkan.


Gilang tersenyum bahagia. "Terima kasih Omaku, Sayang," ucapnya seraya memeluk sang oma.


"Bang, anterin Oma sampai bawah!" titah Gilang pada sang asisten.


"Tidak perlu, Er, oma bisa sendiri," tolak sang oma. "Kamu di sini saja, temani mereka berdua agar tidak ada setan yang mengganggu," lanjutnya.


"Lah, Oma gimana, sih. Kalau ada Bang Er, itu berarti ada setannya Oma karena ada yang mengganggu kami." Gilang menatap protes pada sang oma yang sudah bersiap untuk keluar dari ruangan presiden direktur.


"Enak aja ngatain aku setan," protes Erlan.


"Ayo, Oma! Er antar sampai bawah, kebetulan Er juga mau mencari sesuatu untuk Dedek Cantik," ajak Erlan seraya merangkul pundak sang oma.

__ADS_1


Ya, tentu saja Erlan memilih untuk tidak menemani Gilang dan Ailee karena pemandangan mesra di dalam ruangan itu akan membuat matanya menjadi sakit.


"Dedek Cantik terus, palingan juga fiktif dianya," cibir Gilang karena hingga detik ini, Erlan belum pernah mengenalkan gadis yang sudah dia pacari selama setahun ini pada Gilang dan juga omanya.


"Mau bukti? Oke, nanti di acara pernikahan kalian, akan aku bawa dia di hadapan kalian," janji Erlan.


"Oma pegang omongan kamu, Er." Sang Oma menatap keponakan dari menantunya itu dengan dalam.


"InsyaAllah Oma, jika kedua orang tuanya mengijinkan karena daddy dan mommy-nya bukan orang sembarangan," balas Erlan.


"Ayo, Oma!" ajak Erlan kembali.


"Jaga dia baik-baik, Ge. Jangan dirusak sebelum kamu berhak untuk mengambilnya!" pesan sang oma, sebelum melangkah keluar dari ruangan Gilang bersama Erlan.


"Siap, Oma Sayang," balas Gilang seraya tersenyum lebar.


Gilang dan Ailee mengantar sang oma sampai di depan pintu ruangan Gilang. Setelah sang oma dan Erlan masuk ke dalam kotak besi yang akan membawa mereka berdua turun, bos GCC itu kemudian mengajak sang calon istri untuk masuk kembali ke dalam ruangannya.


Tepat di saat Gilang dan Ailee hendak masuk, Naomi, sekretaris Gilang yang baru saja dari bawah sehabis makan siang, memanggil.


"Maaf Tuan Muda, Nona Ailee!" serunya.


Setelah Naomi berada di hadapan Gilang dan Ailee, sekretaris cantik itu mengangguk hormat. "Maaf, jika saya lancang, Tuan Muda."


"Katakan, ada apa?" tanya Gilang yang langsung pada intinya, tidak ingin berbelit-belit.


Bukannya menjawab, Naomi malah menyodorkan ponselnya pada Gilang. "Silakan Tuan Muda dengarkan sendiri, apa yang sudah berhasil saya rekam barusan di kantin."


Gilang mengerutkan dahi. "Ada apalagi? Apa masih ada yang berani menghina calon istriku?" tanya Gilang kembali.


"Memang masih ada, Tuan, dan dia adalah orang yang sama. Akan tetapi, bukan itu yang ada dalam rekaman yang berhasil saya ambil barusan," balas Naomi yang memang mengetahui bahwa Talita dan Risma, mulut mereka berdua masih saja kotor.


Apa yang dikatakan Naomi, semakin membuat Gilang penasaran. 'Jika bukan tentang orang yang menghina calon istriku, lantas masalah apalagi ini?'


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1



__ADS_2