Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Rajin Menjenguk dan Menyiram


__ADS_3

Obrolan hangat di waktu dini hari itu terpaksa dihentikan karena mereka harus segera beristirahat untuk persiapan acara esok hari. Gilang kemudian mengantarkan sang mama menuju ke kamarnya, bersama sang istri tercinta. Sementara keluarga yang lain, kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan tidurnya.


Sesampainya di kamar sang mama, Gilang kemudian ikut duduk di tepi pembaringan. Pemuda tampan yang sudah tidur cukup lama tadi, ingin menemani sang mama sampai wanita ringkih itu tertidur. Sang istri juga masih berada di sana dan duduk di kursi meja rias.


Gilang nampak tengah asyik mengobrol dengan sang mama. Sementara Ailee yang mengamati kamar sang mama mertua, tidak sengaja netranya menangkap ada banyak obat-obatan di dalam laci meja rias yang tidak tertutup rapat. Istri Gilang itu mengambilnya perlahan dan kemudian mengamati bungkus obat-obatan generik tersebut.


"Ma, ini obat untuk apa?" tanya Ailee, mengalihkan perhatian sang suami dan Mama Irna.


Gilang mengerutkan dahi dan kemudian segera mengambil obat tersebut dari tangan sang istri. Sementara Mama Irna nampak kebingungan sendiri. Wanita kurus itu kemudian menatap sang putra, seraya menggelengkan kepala.


"Bukan apa-apa, Ge. Itu hanya multivitamin dan obat lelah saja. Maklumlah, mama ini 'kan sudah tua," tutur Mama Irna, mencoba menyembunyikan sesuatu.


Gilang yang tidak mempercayai keterangan sang mama begitu saja, mengambil ponsel dan kemudian menghubungi dokter keluarga. Setelah beberapa saat menunggu, dia segera menyapa orang di seberang sana. "Halo, Dok. Bisa video call sebentar? Ada yang mau saya tanyakan pada Dokter," pintanya.


Pemuda tampan itu kemudian segera beralih ke mode VC dan dia langsung menunjukkan obat-obatan yang ditemukan oleh sang istri barusan. "Ini obat untuk apa, Dok?" tanya Gilang pada laki-laki berkacamata yang nampak mengerutkan dahi, melihat obat-obatan di tangan Gilang.


Ailee mendengarkan dengan seksama. Sementara Mama Irna nampak kebingungan dan hendak menyudahi panggilan video yang dilakukan oleh sang putra. Namun, Gilang segera menjauh dari sang mama.


"Ge, tutup teleponnya, Nak! Mama akan katakan padamu," pinta Mama Irna kemudian, setelah Gilang menjauh.


"Mas Gilang dapat obat-obatan itu darimana?" tanya dokter keluarga itu masih dengan dahi berkerut dalam.


"Ge, kemari, Nak! Tutup teleponnya dan biar mama sendiri yang menjelaskan!" desak sang mama dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


"Ini punya mama saya, Dok," balas Gilang kemudian seraya menatap laki-laki berkacamata yang wajahnya memenuhi layar ponselnya.


"Maaf, Dok, sepertinya mama saya mau menceritakan sesuatu. Maaf jika saya mengganggu waktu Anda di tengah malam seperti ini," pungkas Gilang yang kemudian menutup teleponnya.


Pemuda tampan itu kemudian mendekati sang mama kembali dan duduk di tempatnya semula. "Katakan dengan sejujurnya, Ma. Mama sakit apa?" Gilang menatap sang mama dengan tatapan dalam.


Mama Irna tidak langsung menjawab, tetapi malah menangis. "Maafkan mama, Nak. Maaf," ucap wanita paruh baya itu di sela isak tangisnya.


Ailee yang berdiri tidak jauh dari ranjang sang mama mertua, kemudian memeluk Mama Irna. Wanita cantik itu menepuk lembut punggung sang mama mertua. Gilang yang melihat betapa perhatiannya sang istri pada mamanya, merasa sangat terharu lalu ikut memeluk kedua wanita kesayangan secara bersamaan.


"Katakan, Ma, agar kami bisa membawa Mama berobat," pinta Gilang dengan memelankan suara.


Pelukan mereka terurai. Mama Irna menyeka air matanya dan kemudian duduk dengan menyandarkan punggung pada sandaran ranjang. Wanita ringkih itu menghela napas panjang sebelum memulai ceritanya.


"Setahun yang lalu ketika Frans dinyatakan meninggal karena virus HIV, mama kemudian juga diperiksa untuk memastikan apakah mama tertular atau tidak karena mama istrinya." Sejenak Mama Irna terdiam dan kemudian memejamkan mata.


"Sejak saat itu, hidup mama bergantung dengan berbagai macam obat-obatan yang fungsinya hanya untuk memperbaiki daya tahan tubuh mama dan menekan virus yang bersarang di tubuh mama agar tidak beranak pinak dan menyebar, lanjut Mama Irna, getir.


"Mama tetap bisa hidup normal dan juga sehat untuk dua bulan pertama. Hanya saja, setelah anak tunggalnya Frans mengusir mama, mama tidak bisa lagi menebus obat-obatan itu di apotik sehingga daya tahan tubuh mama terus menurun dan virus di tubuh mama berkembang biak dengan sangat cepat," imbuhnya seraya menyeka air mata, teringat di saat dia menjadi gelandangan di Negeri Kincir Angin sana dan kondisinya sangat memprihatinkan.


Mereka bertiga sama-sama terdiam. Ailee yang berdiri persis di samping Mama Irna, kemudian mengusap lengan sang mama mertua dengan penuh perhatian. Sementara Gilang mengedipkan mata berkali-kali seraya mendongak, berusaha agar air matanya tidak menetes.


"Setelah berbulan-bulan mama menjadi gelandangan, ada orang baik yang asli orang sini menolong dan menampung mama di rumah orang tuanya di Belanda sana. Pemuda baik itu dan istrinya membawa mama ke dokter. Dia juga memberi mama uang banyak agar setelah mama sehat, mama bisa pulang ke tanah air." Suara Mama Irna yang melanjutkan ceritanya, mengurai keheningan.

__ADS_1


"Jadi, hidup mama selamanya akan bergantung pada obat-obatan itu?" tanya Gilang yang terdengar pilu.


Belasan tahun berpisah dengan sang mama dan begitu bertemu, kondisi sang mama dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Apalagi, penyakit yang diderita sang mama, belum ditemukan obatnya. Gilang memijat pangkal hidungnya, kemudian.


"Benar, Ge. Mama harus menjaga kondisi tubuh mama agar senantiasa sehat supaya imunitasnya baik sehingga virus tidak dapat bekerja," terang sang mama.


"Tidak mengapa, Nak. Mama sudah ikhlas menerima semua. Mama sadar, ini adalah balasan untuk mama karena telah mengkhianati laki-laki baik dan setia seperti almarhum papa. Mama juga sudah tega meninggalkan anak-anak mama, anak yang seharusnya mama jaga dan mama sayang, tetapi malah mama telantarkan." Mama Irna kembali menangis seraya menggenggam tangan sang putra.


"Maafkan mama, Nak," pintanya, kemudian dan Gilang menganggukkan kepala seraya mengeratkan genggaman tangan mereka berdua.


"Ge akan maafkan Mama, asal Mama mau janji bahwa Mama akan menjaga pola hidup sehat dan terus berjuang untuk bisa bertahan," pinta Gilang. "Ge mau, Mama tetap sehat dan panjang umur agar bisa melihat cucu-cucu Mama lahir dan tumbuh besar," lanjutnya seraya tersenyum, melirik sang istri.


"Cucu? Apa, menantu cantik mama ini sebentar lagi akan memberi mama cucu?" tanya Mama Irna, seraya mengusap perut rata Ailee dengan lembut dan Gilang mengangguk, yakin sehingga membuat wanita kurus itu tersenyum lebar.


Ailee langsung memberikan tatapan protes pada sang suami. "Eh, belum, kok, Ma. Mas Ge, mengada-ada itu."


Gilang menggelengkan kepala. "Kamu sudah telat datang bulan, Yang," ucap Gilang seraya tersenyum dan menatap penuh arti pada sang istri.


Ailee mengerutkan dahi. Wanita muda tersebut mengingat dalam hati dan sedetik kemudian, dia menutup mulutnya sendiri yang hampir saja berseru senang. Namun, kebahagiaan yang terlihat di wajah Ailee hanya sebentar karena selanjutnya wajah cantik itu menjadi muram.


"Kenapa, Sayang? Apa kamu tidak senang jika hamil?" tanya Gilang dengan raut wajah bingung.


Ailee menggelengkan kepala. "Bukan itu, Mas. Ai hanya takut Mas Ge akan kecewa kalau mengetahui hasilnya bahwa ternyata Ai belum hamil jika sekarang Mas terlalu bahagia karena siklus menstruasi Ai dari dulu, sering terlambat," terang Ailee, membuat Gilang menghela napas panjang.

__ADS_1


"Tidak mengapa, Sayang. Aku tidak akan kecewa," balas Gilang, mencoba berbesar hati. "Jika memang belum berhasil, kita akan terus mencobanya sampai benar-benar berhasil dan setelah tumbuh aku akan rajin menjenguk dan menyiram agar dia tumbuh subur di rahim kamu," lanjutnya seraya tersenyum lebar, membuat Ailee tersipu karena sang mama mendengar semua perkataan Gilang dan mama mertuanya itu tersenyum dikulum.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2