
Udara pagi terasa begitu sejuk masuk memenuhi rongga paru-paru, membuat Gilang yang tengah melakukan olahraga ringan sedikit merasa lebih relaks dan segar. Pemuda tampan itu melakukan peregangan di balkon kamar perawatan sang istri untuk mengendurkan otot-ototnya yang terasa kaku karena hampir semalaman harus duduk sambil mendekap sang istri erat. Sinar mentari yang mulai terasa hangat menyapu wajah Gilang, membuat aura ketampanannya semakin jelas terlihat.
Wajah kuyu dan kantuknya memang masih nampak, tetapi setidaknya dia sudah merasa lebih lega sekarang. Sebab, semalam setelah puas menyesali diri dan merasa tidak dapat menjaga amanah yang diberikan kepada mereka, sang istri akhirnya sudah dapat menerima apa yang terjadi dan meyakini bahwa itu adalah kehendak Tuhan. Gilang yang juga merasa sangat bersalah, mendekap erat istrinya yang sedari tersadar tidak dapat memejamkan mata kembali hingga Ailee ketiduran di dada bidangnya yang nyaman.
"Ge, sarapan dulu. Satria dan adik-adiknya datang membawa makanan. Mereka juga membeli bubur ayam karena kata Satria, dulu Ai suka makan bubur ayam," ajak sang oma yang menghampiri ke balkon.
Mendengar kalimat terakhir sang oma, Gilang tersenyum. Dia sebenarnya salut pada sang keponakan yang dapat mencintai seseorang dalam diam. Namun, dia juga sekaligus kasihan pada Satria karena kala itu tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.
'Ya, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Andai Satria berani nembak Ai kala itu, kami tidak akan pernah menikah. Aku juga yakin, dibalik kejadian keguguran yang dialami istriku ini, Allah pasti memiliki rencana indah untuk kami berdua,' batin Gilang.
"Ge! Oma bicara sama kamu, Ge! Kok malah bengong!" protes sang oma, menyadarkan Gilang dari lamunan.
"Iya, Oma. Ge dengar, kok," balas Gilang seraya tersenyum lalu merangkul sang pundak sang oma. "Apa Ai sudah bangun, Oma?" tanyanya kemudian.
"Belum. Biarkan istrimu istirahat dulu. Ayo, yang penting kamu harus sarapan dulu, biar nanti kamu bisa menyuapt Ai kalau dia sudah bangun," saran sang oma sambil mengajak sang cucu untuk masuk.
Di ruang tamu yang terpisah oleh dekat gorden, nampak Mama Irna dan ketiga cucunya sedang duduk di sofa. Di sana, ada juga Erlan dan Maida yang memilih tidur di ruang sebelah yang sudah disewa agar bisa menemani Gilang. Mereka nampak sudah menghadap ke makanan masing-masing.
"Ayo. Sarapan dulu, Ge!" Mama Irna menggeser duduknya untuk memberikan tempat pada sang putra.
Gilang lalu mendudukkan diri di samping sang mama dan omanya. "Ge sarapan nanti saja, Ma. Bareng sama Ai," tolak Gilang yang kemudian memilih mengambil segelas jahe hangat yang dibawa oleh Satria.
__ADS_1
Ya, Nenek Amira pagi-pagi sekali menelepon salah satu asisten rumah tangga agar menyiapkan sarapan. Wanita tua itu memilih dibawakan sarapan dari rumah karena sudah jelas rasanya yang pasti enak. Sebab, jika membeli di kantin rumah sakit belum tentu rasanya enak. Beliau juga meminta dibuatkan jahe hangat karena Satria dan kedua adiknya hendak ke rumah sakit.
Baik Mama Irna maupun Nenek Amira tidak ada yang memaksa Gilang. Mereka semua mulai menikmati sarapan dalam keheningan. Namun, di tengah-tengah makan, Mama Irna mendekatkan sendok yang penuh nasi ke bibir Gilang. Di saat yang sama, sang oma pun melakukan hal yang sama.
"Nih, dua wanita kesayangan kompak amat, ya, nyari perhatian Ge," ucap Gilang seraya tersenyum, membuat sang oma dan Mama Irna ikut tersenyum.
"Gantian ya, Ma, Oma," pinta Gilang kemudian yang akhirnya menerima suapan dari sang mama dan omanya, bergantian.
Erlan dan Maida saling pandang. Mereka merasa lega melihat Gilang sudah bisa kembali tersenyum. Sementara Satria dan kedua adiknya yang tadi khusyuk menikmati sarapan, mulai melancarkan protes.
"Oma, Ombu ... kami juga mau, dong, disuapi," pinta mereka, bersamaan.
Akhirnya, kedua wanita berbeda generasi itu sibuk menyuapi mereka berempat. Erlan dibuat geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah ketiga keponakan. Sementara Maida tersenyum, dikulum. 'Berada di tengah mereka, aku merasakan kehangatan yang sama dengan kehangatan di rumah.'
"Om Er kalau iri 'kan bisa minta disuapi sama Kak Mai," sahut Kukuh yang kemudian membuka mulutnya lebar, siap menerima suapan dari sang oma buyut.
"Enggak, lah. Om 'kan sudah dewasa, bisa makan sendiri. Enggak seperti kalian yang masih kekanak-kanakan," ledek Erlan.
Gilang yang merasa tersindir, memberikan isyarat pada Maida agar menyuapi suaminya. Maida pun menurut lalu menyendok bubur ayam dan mendekatkan ke bibir sang suami. Mendapatkan suapan dari sang istri, tentu Erlan langsung membuka mulutnya. Dia lupa dengan sendirinya barusan.
Sontak, Satria dan kedua adiknya mencibir. Sementara Gilang hanya senyum-senyum saja. Sang oma dan Mama Irna geleng-geleng kepala melihat tingkah polah mereka.
__ADS_1
"Sama aja kayak kita ternyata," ledek Satria kemudian.
Erlan terbatuk dan hampir saja tersedak. Pemuda itu lantas tersenyum. "Beda, Sat. Yang menyuapi 'kan istri." Suami Maida membela diri.
Mereka kemudian melanjutkan memakan makanan masing-masing. Sementara Gilang beranjak hendak melihat sang istri, barangkali sudah terbangun. Benar saja, di saat Gilang membuka gorden yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan kamar rawat Ailee, istrinya itu tengah berusaha untuk turun.
"Sayang. Kamu mau kemana?" tanya Gilang yang segera mendekat.
"Ai mau ke kamar mandi, Mas," balas Ailee dan tanpa berkata-kata, Gilang langsung menggendong sang istri dan membawanya menuju kamar mandi.
"Yang, badanmu kenapa panas sekali?" tanya Gilang yang nampak khawatir ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit sang istri barusan.
"Kepala Ai rasanya pusing banget, Mas," balas Ailee.
Habis ini aku panggilkan dokter, ya," ucap Gilang seraya menurunkan tubuh sang istri perlahan dan mendudukkan tubuh lemah istrinya di toilet.
Telaten, Gilang membantu istrinya buang air kecil. Pemuda tampan itu lalu membasuh wajah sang istri dengan air hangat agar istrinya merasa lebih segar. Dia juga menyiapkan sikat dan pasta gigi untuk Ailee.
"Mas, Ai enggak kuat. Rasanya seperti mau ...." belum sempat Ailee menyelesaikan ucapannya, wanita yang baru saja selesai menggosok gigi itu hampir saja rubuh jika saja Gilang tidak segera menangkapnya.
"Bang Er, tolong panggilkan dokter!" teriak Gilang, membuat semua orang yang masih menikmati sarapan langsung berhambur masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕