
Hari berganti, minggu pun berlalu. Tidak terasa, satu bulan telah terlewatkan dari masa bulan madu kala itu. Kini, hampir setiap terbangun di pagi buta, Ailee merasakan mual di perut.
"Mual lagi, Sayang?" tanya Gilang yang baru saja membuka mata dan melihat sang istri meringis sambil berdiri di samping ranjang.
"Iya, Mas. Barusan ke kamar mandi, tapi tidak bisa muntah."
"Kenapa tidak membangunkan aku, Sayang?" protes Gilang yang kemudian buru-buru beranjak.
"Enggak tega, Mas. Mas Gilang tidurnya nyenyak banget. Pasti Mas kelelahan karena semalam mengelus perut Ai terus, kan? Maafkan Ai ya, Mas."
Gilang menggeleng cepat. "Jangan merasa bersalah gitu, Yang. Aku senang melakukannya." Gilang lalu mengusap lembut perut sang istri yang kini sudah ada janin berusia enam minggu di rahim istrinya itu. Janin yang diperkirakan hadir ketika mereka berdua menjalankan ibadah umroh di tanah suci.
Ya, kebiasaan baru Ailee semenjak dinyatakan hamil, dua minggu setelah mereka pulang dari berbulan madu. Setiap malam, wanita muda itu tidak akan dapat memejamkan mata jika tidak dielus oleh suaminya. Tentu dengan senang hati Gilang akan melakukannya karena demi sang buah hati yang telah mereka nantikan hadirnya.
"Mau mandi bareng?" tawar Gilang kemudian. "Udah adzan shubuh, tuh," lanjutnya.
Ailee mengangguk. "Gendong," pintanya manja.
Gilang tersenyum seraya menoel hidung mancung sang istri. "Aku suka jika istriku manja seperti ini." Pemuda tampan itu lalu membopong sang istri menuju kamar mandi untuk mandi wajib, sebelum melakukan ibadah sholat shubuh.
Di kamar lain, suasananya tidak beda jauh dengan di kamar Gilang dan Ailee. Erlan yang tengah berbahagia karena baru seminggu yang lalu mengetahui kehamilan istrinya, senantiasa ingin memanjakan sang istri tercinta. Hampir setiap saat pemuda dewasa itu menanyakan pada sang istri, apa yang Maida rasakan.
__ADS_1
"Mual enggak, Yang? Pusing? Atau, pengin makan sesuatu?" tanya Erlan ketika mereka baru saja terbangun karena mendengar bunyi alarm yang di-setting di waktu shubuh.
"Baru juga bangun, Abang udah nawarin mau makan apa? Kalau aku jawab mau makan Abang, memangnya Bang Er masih sanggup?" goda Maida, membuat Erlan terkekeh lalu memeluk istri belianya.
"Sanggup, dong, Sayang. Sejak kita menikah Abang 'kan rajin olahraga malam, jadi stamina Abang makin oke," balas Erlan yang kemudian mencumbui tengkuk sang istri.
"Udah adzan, Abang. Minggir, ah! Mai mau mandi, nanti waktu shubuhnya keburu habis." Wanita belia yang tengah berbahagia dengan kehamilan pertamanya itu, mencoba melepaskan pelukan sang suami.
"Abang mandiin, ya," tawar Erlan. Tanpa menunggu persetujuan, pemuda yang full senyum itu lalu menggendong tubuh sang istri menuju kamar mandi.
"Hanya mandi, lho, Bang. Jangan minta macam-macam!"
"Enggak janji, Sayang. Sebab, milikmu selalu menggodaku untuk menyentuhnya." Erlan lalu terkekeh senang.
Maida mengulas senyuman di bibir, senyum yang menggambarkan perasaan bahagianya. Bagi wanita muda itu meskipun Erlan tidak mengungkap kata-kata manis, sentuhan sang suami yang begitu lembut sudah cukup mengisyaratkan bahwa sikap suaminya itu sangatlah mesra. Apalagi Erlan sering membisikkan kata-kata manis ketika mereka sedang bercinta, hal itu semakin melambungkan angannya.
"Sini, biar Abang yang keringkan rambut kamu." Erlan segera mengambil handuk kecil dari tangan sang istri lalu mengusap lembut rambut sang istri.
Setelah rambut sang istri tidak lagi meneteskan air, Erlan segera mengajak sang istri untuk menunaikan ibadah sholat shubuh yang hampir terlambat.
Usai sholat shubuh, kedua pasangan suami istri yang tengah berbahagia menyambut kehadiran sang janin, nampak berjalan santai mengitari komplek perumahan elite tersebut. Sang oma dan Mama Irna nampak ikut jalan sehat bersama mereka berempat. Kedua wanita berbeda generasi itu pun terlihat antusias menyambut kehamilan istri Gilang dan istri Erlan.
__ADS_1
"Kalian mau makan bubur ayam, Nak?" tanya Mama Irna pada kedua menantu di kediaman Gilang, ketika beliau melihat penjual bubur ayam keliling dari kejauhan.
"Mau-mau, Ma," balas keduanya, kompak.
"Biar Er yang manggil kang buburnya, Ma," tawar Erlan ketika melihat sang tante memanggil tukang bubur dengan suaranya yang lembut.
Hanya dengan sekali teriakan, tukang bubur tersebut mendengar dan kemudian segera mendekat. "buburnya enam ya, Mang," pesan Mama Irna.
Mereka semua kemudian duduk lesehan di trotoar jalan komplek yang sudah digelari tikar oleh sang penjual bubur ayam. Sambil menanti bubur ayam yang sedang disiapkan oleh sang penjual, mereka berbincang membicarakan seputar kehamilan. Tidak perlu menunggu lama, bubur ayam untuk mereka telah tersaji di hadapan.
"Abang. Tolong, dong, ambilin bawang gorengnya. Mai enggak suka," pinta Maida dengan nada bicaranya yang manja.
"Kalau tidak suka, biar saja itu dimakan sama suami kamu, Nak Mai. pesan lagi satu yang tidak pakai bawang goreng," saran sang oma.
"Tidak perlu, Oma. Mai mau yang ini saja, tapi bawang gorengnya disisihkan."
Erlan buru-buru menyimpan kembali mangkuknya di atas tikar. Pemuda itu kemudian dengan telaten menyisihkan bawang goreng yang ada di dalam mangkuk sang istri.
Gilang tersenyum senang. "Kayaknya, anak Abang bakalan lebih merepotkan dari calon anakku yang dulu."
"Seneng banget kamu! Kayaknya kamu sangat bahagia, di atas penderitaan orang lain!" protes Erlan seraya melirik tajam sang adik sepupu.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕