
Gilang nampak memperhatikan wanita muda yang kacau balau tersebut melalui pantulan kaca spion di depannya. Suami Ailee itu menghela napas panjang. Dia kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya, Gilang ikut pusing mendengar cerita dari Nelly barusan.
"Coba ceritakan pada kami secara detail! Bagaimana kamu bisa berada di jalan raya dan hampir saja tertabrak mobil kami?" Suara Gilang yang maskulin, membuat Nelly menatap pemuda tampan yang mengemudi mobil.
'Apa dia, suami Mbak Ailee, ya? Beruntung sekali Mbak Ailee, mendapatkan cowok setampan dia. Mas Sindu, mah, lewat!' batin Nelly, mengagumi Gilang.
"Jaga mata kamu! Atau, aku akan membuat mata kamu tidak bisa melihat lagi!" ketus Gilang ketika menyadari arti tatapan Nelly yang gatal.
'Dasar, ****** kegatelan! Pantas saja hamil di luar nikah! Tatapannya saja mendamba, gitu!' umpat Suami Ailee, dalam hati.
Mendengar perkataan kasar sang suami, Ailee mengerutkan dahi seraya menatap sang suami melalui pantulan kaca spion. Di saat yang sama Gilang pun tengah menatapnya. Suami Ailee itu kemudian menunjuk Nelly dengan ekor matanya.
Wanita cantik berhijab itu kemudian menoleh ke samping, ke arah baby sitter yang kini menunduk malu. Ailee memandangi Nelly untuk beberapa saat, tanpa berkedip. Menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh Nelly hingga wanita muda tersebut terjerumus ke dalam lembah kenikmatan yang semu dan berakibat petaka bagi diri sendiri.
"Dia itu suamiku, Sus! Tolong, jaga pandangan kamu dari milik orang lain! Hargai diri kamu sendiri sebagai seorang wanita!" Ailee berkata dengan pelan, tetapi penuh penekanan.
"Maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud menggoda suami Mbak Ailee," sesal Nelly yang entah sungguh-sungguh dari kedalaman hatinya, ataukah hanya di bibir saja.
"Jika sudah terlanjur harga dirimu tercoreng karena ulahmu sendiri, setidaknya jangan semakin memperburuk citramu sebagai seorang calon ibu, Sus. Sebab, ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Apapun yang dilakukan ibu, pasti akan dicontoh oleh anak-anaknya," imbuh Ailee, membuat kagum sang suami yang menyetir mobil.
Nelly menganggukkan kepala, mengerti nasehat dari wanita yang seusia dengan dirinya, tetapi memiliki pemikiran yang sangat bijak. Baby sitter itu menjadi malu sendiri. Dia menyesal karena tergoda dengan rayuan suami orang, sampai rela menyerahkan kehormatan sebagai seorang wanita. Hanya demi sebuah kenikmatan yang ternyata fatamorgana.
"Bagaimana tadi kamu bisa hampir tertabrak mobil kami, Sus?" tanya Ailee, mengulang pertanyaan sang suami.
Nelly kemudian bercerita bahwa awalnya, Sindu bermaksud mencarikan suami untuknya agar anak dalam kandungan memiliki ayah. Sindu juga berjanji akan membiayai semuanya dan hubungan mereka akan tetap baik-baik saja dan berjalan seperti biasa.
Semuanya berubah ketika Aira memergoki mereka berdua sedang tidur di sofa, setelah lelah bercinta. Sindu kemudian menyuruh Nelly untuk menggugurkan kandungannya. Aira bahkan ikut memaksa Nelly.
Ketika baby sitter itu menolak, Sindu memeluknya erat dan Aira mencekoki mulut Nelly dengan obat. Entah obat apa itu, wanita muda tersebut tidak tahu pasti. Yang jelas, Nelly berusaha untuk melawan dan melepaskan diri dari pelukan kuat Sindu.
__ADS_1
"Saya berhasil kabur, Mbak, setelah mere*mas kuat terong milik Mas Sindu. Saya terus berlari karena Mbak Aira dan Mas Sindu mengejar. Saya sampai berkali-kali terjatuh." Nelly menunjuk lututnya yang masih berdarah.
"Jika benar kasusnya seperti itu, biar aja pihak yang berwajib yang menangani, Yang. Kita antar dia ke kantor polisi," putus Gilang yang kemudian mengarahkan laju mobilnya, menuju kantor polisi terdekat.
Ailee hanya bisa mengangguk, mengiyakan ucapan sang suami. Sementara Nelly nampak sangat lega karena masalah yang dia hadapi, akan segera menemukan jalan keluarnya. Baby sitter itu kemudian tersenyum pada Ailee.
"Terima kasih banyak, Mbak Ai," ucapnya.
Ailee membalasnya dengan senyuman manis, serta anggukan kepala.
\=\=\=\=\=
Di tempat lain, Sindu nampak kesakitan sambil memegangi senjatanya yang tersembunyi di balik celana bahan yang dia kenakan. Wajahnya nampak pucat, napasnya juga memburu karena baru saja dipaksa berlari oleh sang istri untuk mengejar Nelly. Padahal, senjatanya pun saat ini sedang tidak baik-baik saja setelah mendapatkan rema*san kuat dari sang kekasih gelap.
"Kenapa berhenti, sih, Mas? Jadi kehilangan jejaknya dia, kan, kita?" tanya Aira bernada protes.
"Kita balik aja ya, Ma. Beneran enggak tahan aku, Ma. Rasanya mau pingsan," rajuk Sindu, memelas.
Melihat wajah sang suami pucat pasi, Aira menjadi tidak tega. Ibu satu anak itu pun menganggukkan kepala. Sebab, Aira pun tidak ingin terjadi sesuatu dengan burung liar milik suaminya.
"Baiklah, Mas. Ayo, aku papah menuju mobil," ajak Aira yang kemudian segera memapah sang suami, menuju mobil yang tidak jauh dari tempat suaminya berhenti mengejar Nelly.
Ya, Sindu mengejar Nelly dengan berlari. Sementara Aira, menaiki mobilnya. Mereka kehilangan jejak Aira karena Sindu berhenti setelah merasakan kejantanannya semakin sakit, akibat rema*san tangan Nelly yang begitu kuat tadi.
Sepanjang perjalanan pulang kembali ke rumah, Sindu terus merintih. "Sakit sekali, Ma."
"Tahan, Mas. Aku juga bingung, bagaimana mengobatinya. Apa, kita ke rumah sakit saja, Mas?" tawar Aira, tetapi dibalas Sindu dengan gelengan cepat.
"Jangan, Ma! Malu nanti kalau sampai kasusnya menyebar. Dokter pasti akan bertanya, kan, kenapa bisa seperti ini?" tolak Sindu.
__ADS_1
Aira menganggukkan kepala. "Iya, Mas benar."
Sejenak, suasana di kabin mobil Aira, hening. Ibu dosen tersebut nampak sedang berpikir. Sementara Sindu terus mengumpat Nelly dalam hati karena wanita muda yang merupakan kekasih gelapnya itu, telah membuatnya menderita.
'Silan! Berani sekali dia membuat burungku menjadi seperti ini! Awas saja kalau aku menemukannya, akan kutusuk dengan senjataku sampai dia menangis dan meminta ampun!'
"Mas, aku coba belikan Mas obat di apotik, ya. Siapa tahu apoteker-nya tahu obatnya apa?" tawar Aira ketika dari kejauhan dirinya melihat papan nama apotik.
"Iya, Ma. Terserah Mama saja," pasrah, Sindu menjawab.
Aira segera mengarahkan mobilnya memasuki area parkir ruko, dimana apotik itu berada. Istri Sindu itu segera turun untuk membelikan obat sang suami. Tidak berapa lama, Aira telah kembali dengan sekantong kecil obat.
"Ini obat penghilang rasa nyeri, Mas. Aku juga bingung tadi, bagaimana menjelaskan pada apoteker di situ," ucap Aira sebelum menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Iya, enggak apa-apa."
Aira segera melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah. Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, mobil yang dikemudian oleh istri Sindu tersebut memasuki halaman rumah yang memiliki bangunan dua lantai. Aira dan Sindu saling pandang ketika melihat sudah ada mobil polisi di sana.
"Mas, apa mungkin Nelly lapor ke polisi, Mas?" tanya Aira dengan perasaan campur aduk tak karuan. Rasa khawatir, geram, dan malu bercampur menjadi satu.
Aira teringat dengan karirnya sebagai dosen yang cukup diperhitungkan di kampus. Teringat dengan karir suaminya yang sedang di atas. Istri Sindu itu tidak mau jika sampai semua hancur karena masalah orang ketiga dalam rumah tangganya.
"Lalu, bagaimana ini, Ma? Apa sebaiknya, kita kabur saja, Ma?"
Wajah Sindu semakin terlihat pucat. Keringat dingin mengucur deras di dahi ayah satu anak tersebut. Sindu pun tidak mau jika karirnya dipertaruhkan karena masalah Nelly.
'Sial! Sial! Kenapa, sih, bisa-bisanya aku kecolongan dan tidak sempat mencabut senjataku di saat yang tepat!' maki Sindu pada diri sendiri.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1