Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Beruntung Mengenal Kalian


__ADS_3

Erlan dan Gilang tidak jadi mengantarkan mamanya Aleena ke rumah sakit karena wanita paruh baya tersebut menolak. Tante Ratih memaksa dan meminta untuk diantarkan pulang ke apartemen putrinya saja. Apartemen yang letaknya tidak jauh dari hotel milik Gilang yang malam itu digunakan untuk acara grand opening butik baru Aleena.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen Aleena, tidak ada satupun yang bersuara. Semua larut dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan, sementara mamanya Aleena nampak larut dalam penyesalan.


"Nak Gilang. Apa boleh jika kapan-kapan tante bertemu dengan istrimu?" Suara mamanya Aleena mengurai keheningan yang sejenak tercipta di kabin mobil mewah tersebut.


Gilang yang duduk di samping bangku pengemudi lalu menoleh ke belakang. "Memangnya, ada apa Tante mau bertemu dengan istri saya?" tanyanya, sedikit curiga. Pemuda tampan itu tetap harus waspada karena tidak ingin membuat sang istri kembali celaka.


"Tante ... tante mau minta maaf sama istri Nak Gilang karena perbuatan putri tante telah menyebabkan istri Nak Gilang celaka dan kalian berdua kehilangan calon putra," jawab wanita paruh baya tersebut yang terdengar sungguh-sungguh.


Gilang terdiam. Pemuda tampan itu tidak langsung menjawab. Dia lalu menoleh ke arah sang abang sepupu dan Erlan menganggukkan kepala, sebagai isyarat bahwa tidak mengapa jika memberikan kesempatan pada mamanya Aleena.


"Baik, Tante. Kapan Tante mau ketemu istri saya?" tanya Gilang, kemudian.


"Secepatnya, Nak Gilang. Tante ingin semuanya segera tuntas agar tidak ada lagi ganjalan di hati," balas mamanya Aleena.


"Saat ini di rumah sedang ada acara keluarga, Tan. Jika Tante tidak keberatan, Tante bisa gabung agar Tante juga bisa mengenal keluarga kami," sahut Erlan seraya menatap mamanya Aleena melalui pantulan kaca spion di depannya.


"Apa kehadiran tante tidak akan mengganggu acara kumpul-kumpul keluarga kalian?" Ragu, Tante Ratih bertanya.


"Tentu tidak, Tante." Maida Ikut menyahuti dan berharap mamanya Aleena bersedia bergabung.

__ADS_1


Setelah sejenak berpikir, akhirnya Tante Ratih bersedia untuk bergabung bersama keluarga besar mereka. Erlan pun memutar balik arah mobilnya karena kediaman Gilang berlawanan arah dengan jalan yang menuju apartemen Aleena. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka tiba di kediaman keluarga Gilang yang megah.


Tante Ratih yang dibimbing turun oleh Maida, tertegun. Wanita paruh baya tersebut nampak memindai halaman luas yang dipenuhi oleh mobil-mobil mewah, baik milik keluarga Gilang maupun milik keluarga besar Maida. Mobil-mobil yang harganya fantastis itu berjajar rapi memenuhi halaman.


'Jadi, lawan kami benar-benar bukan orang sembarangan? Pantas saja, uang suamiku tidak dapat berbicara di pengadilan,' bisik mamanya Aleena dalam hati.


Mamanya Aleena yang dituntun oleh Maida melangkah menaiki anak tangga menuju teras rumah megah tersebut dengan kaki gemetaran. Bahkan tangannya yang berada dalam genggaman Maida terasa dingin dan mulai berkeringat. Dia memang sudah sering berhubungan dengan orang-orang dari kalangan atas, tetapi rumah Tante Ratih dan juga kediaman teman-temannya tidak semegah dan semewah ini.


Wanita paruh baya itu tiba-tiba menghentikan langkah ketika hendak memasuki pintu yang tinggi di kediaman Gilang. "Nak ...." Nampak ragu, Tante Ratih menoleh ke arah Maida yang masih menggenggam tangannya dan Maida menganggukkan kepala.


"Ayo, Tante, jangan sungkan! Keluarga kami ramah, kok," ajak Maida.


Mereka kembali melanjutkan langkah masuk ke dalam ruang keluarga yang luas. Meski dengan perasaan gugup, mamanya Aleena mengikuti langkah istri Erlan untuk masuk ke dalam. Sementara Gilang dan abang sepupunya, mengekor di belakang.


Canggung, Tante Ratna kemudian duduk setelah menyalami orang-orang yang dia lalui. Wanita paruh baya tersebut masih saja terlihat gugup dan juga sedikit minder, berada di tengah keluarga besar yang sepertinya dari kalangan kaum jet set. 'Benarkah apa yang aku lihat? Mereka orang-orang kaya, tetapi sama sekali tidak terlihat angkuh. Senyum mereka tulus dan terasa hangat.'


Nenek Amira kemudian mendekati mamanya Aleena dan mengajak Tante Ratih untuk berbincang. Kesahajaan wanita tua itu mampu mengurai kegugupan Tante Ratih hingga mamanya Aleena sedikit mencair. Wanita paruh baya itu mulai bisa tersenyum dan ikut larut dalam obrolan bersama para mama.


"Oh ya, Bu. Kedatangan saya kemari sebenarnya mau bicara sama Nak Ailee," ucap Tante Ratih kemudian setelah cukup lama berbincang hangat.


"Iya, silakan-silakan." Nenek Amira lalu memanggil sang cucu menantu dengan isyarat matanya.

__ADS_1


Ailee yang sudah mengetahui maksud kedatangan mamanya Aleena dari sang suami, kemudian beranjak. Wanita belia itu lalu mendekati Tante Ratih. Ailee duduk di samping samping wanita paruh baya tersebut, setelah Nenek Amira sedikit bergeser untuk memberikan tempat pada istri Gilang.


"Ada apa, Tante?" tanya Ailee dengan suaranya yang lembut.


Mamanya Aleena kemudian mengatakan apa maksud kedatangannya. Wanita paruh baya tersebut nampak meminta maaf pada Ailee dengan tulus. Tante Ratih bahkan sampai menitikkan air mata.


"Tante sungguh-sungguh minta maaf, Nak. Kamu dan suami kamu, mau 'kan memaafkan kami," ucapnya dengan suara bergetar, menahan tangis yang hampir pecah. Perasaan menyesal, rasa malu, sekaligus rasa kagum dengan kehangatan dan keramahan keluarga besar yang baru saja dia kenal, bercampur aduk menjadi satu.


Wanita paruh baya itu bertekad, akan merubah sikapnya selama ini. Kekayaan yang dia miliki sama sekali tidak sebanding dengan apa yang dimiliki oleh keluarga besar yang saat ini ditemui. Namun, mereka tetap bersikap ramah, bersahaja, dan sederhana.


'Aku benar-benar malu setelah mengetahui siapa mereka sebenarnya.'


Mamanya Aleena mencuri pandang mereka satu per satu. Dia iri pada wanita-wanita cantik seusianya yang nampak mesra dengan pasangan masing-masing. Juga putra-putri mereka yang santun dan saling sayang, seperti pasangan Gilang dan pasangan Erlan.


Entah mengapa meski ini yang pertama, mamanya Aleena merasa betah berada di antara mereka semua. Aura positif mereka terasa menular padanya. 'Apa aku bisa, menjadi seperti mereka?' Ragu, wanita paruh baya tersebut membatin.


"Kami sudah memaafkan Tante dan putri Tante, kok." Suara lembut Ailee, mengurai lamunan mamanya Aleena dan wanita paruh baya itu lalu memeluk istri Gilang dengan penuh kelegaan.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih," ucapnya, terisak. Wanita paruh baya itu menangis haru.


Mamanya Aleena merasa beruntung bisa mengenal keluarga besar Gilang dan Erlan. Dia benar-benar berjanji pada diri sendiri, akan mulai membenahi hidupnya yang selama ini angkuh dan sombong. Dia yang selalu menilai segala sesuatu dengan uang.

__ADS_1


Dari percakannya tadi dengan Nenek Amira dan para wanita seusianya, Tante Ratih mengerti bahwa tidak ada kata terlambat untuk menyesali perbuatan buruk. Asalkan, kemudian diikuti dengan usaha untuk merubah sikap agar menjadi lebih baik. 'Aku beruntung mengenal kalian. Ya, aku harus mulai berubah dari sekarang. Aku tidak mau terlambat dan semakin menyesal nantinya.'


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2