Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Di ruang ICU, pak pengacara baru saja sadarkan diri. Namun, papanya Ailee itu mengalami stroke bagian kanan tubuhnya sehingga dia kesulitan untuk berbicara dan menggerakkan anggota tubuh bagian kanan. Laki-laki bertubuh tambun tersebut hanya dapat memandangi putri bungsu yang dengan setia menungguinya dengan tatapan penuh penyesalan.


Rasa putus asa juga menyambangi hati pengacara itu, memikirkan bagaimana kehidupannya nanti ke depan setelah mengetahui kondisi dirinya seperti sekarang. Sementara putri ke dua, saat ini juga dalam keadaan yang memprihatinkan dan membutuhkan perhatian. Hanya Aira yang dapat diandalkan dan menjadi satu-satunya tumpuan hidup pak pengacara dan Aina.


Mau minta tolong pada Ailee, pengacara yang selama ini tidak pernah mengakui putri bungsunya tersebut merasa sangat malu. Wanita cantik itu sudah berada di sampingnya saja dan mau menemani di rumah sakit, dia sudah sangat bersyukur. Justru papanya Ailee merasa sangat malu karena sang putri bungsu yang tidak dianggap, tetap peduli pada sang papa dan juga Aina.


"Pa, apa yang Papa pikirkan? Papa jangan mikir yang berat-berat dulu ya, biar cepat sehat kembali. Jangan pikirkan juga tentang Kak Aina karena Ai dan Mas Gilang sudah membayar suster yang akan merawat Kak Aina dan Papa nanti jika kalian sudah diijinkan pulang," hibur Ailee ketika melihat wajah sang papa nampak sedih.


Laki-laki paruh baya itu menggeleng. "Jangan, Nak. Itu pasti sangat mahal. Biar Aira saja yang merawat papa dan kakakmu, Aina," tolaknya dengan terbata-bata dan terdengar kurang jelas di telinga Ailee meskipun istri cantik Gilang tersebut sudah mendekatkan telinga dan mengamati pergerakan bibir sang papa.


"Enggak enak sama suami kamu, Nak," lanjutnya dengan netra berkaca-kaca. Pengacara itu sangat malu pada sang menantu yang juga berada di sana.


Ailee mengusap-usap punggung tangan sang papa. "Tidak apa-apa, Pa. Ini maunya Mas Gilang juga, kok," balas Ailee seraya mendongak, menatap sang suami yang berdiri di samping tempat duduknya. Gilang tersenyum dan kemudian mengangguk.


"Lagian untuk saat ini, Kak Aira juga harus fokus merawat Deka, Pa. Deka sakit dan dia dirawat di sini juga," terangnya, kemudian.


"Deka, sakit? Sakit apa anak itu? Tolong bawa papa ke sana, Ai. Papa ingin melihat cucu papa," pinta sang papa yang lagi-lagi diucapkan dengan susah payah.


"Nanti ya, Pa. Setelah dokter memeriksa kondisi Papa dan Papa dipindahkan ke ruang rawat." Tepat di saat Ailee selesai berbicara, seorang dokter yang diiringi oleh perawat mendekati ranjang sang papa.

__ADS_1


Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan dan setelah kondisi pak pengacara dinyatakan stabil, papanya Ailee bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan yang sudah dipesan oleh Ailee dan sang suami. Ruang VVIP yang bersebelahan dengan ruangan Aina dan juga Deka. Ailee yang senantiasa didampingi sang suami tercinta, mengekor langkah suster yang mendorong brankar sang papa menuju ke ruangan tersebut.


\=\=\=\=\=


Di kediaman Sindu. Ketegangan masih terjadi karena Nelly sangat marah begitu mengetahui bahwa Aira melaporkan perbuatannya ke polisi. Wanita itu balik menuding dan akan melaporkan balik Sindu dengan tuduhan suami Aira tersebut tidak mau bertanggungjawab atas kehamilannya.


"Hei, Ja*lang! Apa kamu lupa dengan apa yang sudah kamu katakan tadi? Kamu sendiri, kan, yang mengatakan kalau sudah tidak butuh pertanggungjawabanku lagi?" Sindu menatap tajam mantan teman tidurnya.


"Aku juga bisa meminta surat perjanjian yang sudah kita tanda tangani kemarin di kantor polisi bahwa aku bersedia untuk bertanggungjawab, tetapi kamu sudah menolak!" lanjutnya yang balik mengintimidasi wanita muda yang dulu sangat lugu itu.


Sementara Aira tidak mempedulikan perdebatan tersebut. Mamanya Deka itu bergegas menuju kamar untuk mengambil barang yang dia butuhkan karena dia harus segera kembali ke rumah sakit. Setelah Aira selesai mengemas barang yang hendak dia bawa, dia segera keluar dari kamar dan kembali menemui Sindu dan Nelly.


"Aku tunggu kamu di pengadilan!" Aira menatap tajam ke arah Nelly dan kemudian bergegas pergi dari rumah sang suami yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan suami.


"Silakan langsung masuk ke dalam, Pak. Orang yang Bapak cari, ada di dalam." Aira kembali ke pintu dan kemudian membukakan pintu tersebut dengan lebar agar dua orang petugas polisi yang berbadan tinggi tegap, leluasa untuk masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih, Bu," balas salah seorang petugas yang tadi sempat bertemu dengan Aira di kantor polisi ketika Aira membuat laporan.


Aira bergegas menuju mobilnya ketika punggung tegap kedua polisi tersebut, sudah menghilang di balik dinding. Ibu satu anak itu tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya karena Aira hendak menyaksikan sendiri bagaimana polisi menggelandang Nelly. Netra Aira terus tertuju ke arah pintu utama rumah Sindu.

__ADS_1


Tidak perlu menunggu lama, Aira sudah dapat mendengar teriakan Nelly yang sepertinya berontak dan tidak mau diajak bekerjasama. "Lepaskan saya, Pak! Saya tidak bersalah! Mas Sindu yang salah, dia yang menyuruh saya untuk memberikan obat tidur pada anaknya sendiri!"


Nelly berusaha untuk membela diri meskipun harus dengan mengorbankan orang lain. Dia sama sekali sudah tidak peduli jika nantinya, polisi mempercayai perkataannya dan kemudian memenjarakan Sindu. Toh, laki-laki yang selama ini selalu sukses membuatnya mengerang nikmat, kini sudah tidak dapat lagi memanjakan Nelly.


Di dalam mobilnya, Aira menggeleng-gelengkan kepala sendiri melihat tingkah Nelly yang digelandang dua orang polisi. Aira tidak habis pikir dengan sikap sang baby sitter yang tiba-tiba tidak peduli dengan suaminya. Padahal kemarin, pengasuh Deka itu merengek meminta agar Sindu mau menikahinya dan bertanggungjawab atas kehamilan Nelly.


"Sekarang kamu bisa lihat, kan, Mas, bahwa dia benar-benar tidak peduli denganmu dan hanya mau sama kamu ketika kamu sehat," gumam Aira seraya menatap Sindu yang berdiri dengan lesu di ambang pintu, dari dalam mobilnya.


Aira segera mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika Sindu memergoki dirinya tengah menatap ayah dari sang putra itu. Fokus Aira kembali kepada Nelly yang masih saja berontak dan tidak mau di bawa ke kantor polisi. Wanita muda itu bahkan menangis penuh drama untuk mencari simpati dari dua orang petugas polisi yang mencengkeram pergelangan tangannya.


"Pandai akting juga rupanya, dia!" cibir Aira.


Tengah serius melihat ke arah Nelly yang hendak dimasukkan ke dalam mobil polisi, Aira dikejutkan dengan suara pintu mobilnya yang ditutup. Ibu satu anak tersebut kaget ketika melihat Sindu sudah duduk di sampingnya. Dia tidak mendengar suara pintu mobil dibuka tadi, saking fokusnya pada Nelly.


"Mas Sindu mau ngapain?" cecar Aira.


"Aku boleh ikut ke rumah sakit ya, Ma? Please ... aku juga ingin melihat keadaan putra kita," mohon Sindu, memelas.


"Mas bisa bawa mobil Mas sendiri, kan?" tanya Aira yang menolak secara halus keberadaan sang suami di mobilnya.

__ADS_1


"Aku tahu Mama pasti sangat membenci papa, tapi demi Deka tidakkah Mama mau memberikan kesempatan pada papa lagi? Papa mohon, Ma. Beri papa kesempatan kedua," mohon Sindu.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2