Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Aku Harus Pergi


__ADS_3

Aina dan Aira memang sangat dekat. Aina sering menceritakan tentang kekasih barunya kepada sang kakak pertama. Dia juga sering memuji Ringgo di depan Aira hingga membuat kakak kandung Aina itu penasaran, seperti apa Ringgo yang kata Aina begitu manis.


Diam-diam Aira mencari tahu tentang sosok Ringgo. Berada di kampus yang sama, membuat putri pertama di keluarganya Ailee itu tidak kesulitan menemukan pemuda yang merupakan kekasih adiknya tersebut. Apalagi Aira seorang dosen yang memiliki akses khusus jika ingin mengetahui indentitas salah satu mahasiswanya.


Rasa kesepian karena sering ditinggal oleh sang suami yang dinas di luar kota, serta rasa penasaran dengan cerita Aina mengenai Ringgo, membuat ibu satu anak itu nekat berkenalan dengan pemuda yang memiliki libido tinggi tersebut.


"Mas yang bernama Ringgo, bukan?" tanya Aira ketika mereka berdua sama-sama hendak meninggalkan kampus.


Ya, Aira sengaja memarkirkan mobilnya di samping mobil Ringgo.


"Iya, benar. Maaf, dengan siapa, ya?" tanya Ringgo yang mengurungkan niat untuk masuk ke dalam mobil. Pemuda itu memindai tubuh sintal Aira yang terbalut blazer dan rok span di bawah lutut.


Meskipun Aira mengenakan baju sopan, tetapi rupanya ibu dosen itu sengaja membuka kancing blouse bagian atas untuk menarik perhatian pemuda yang dia incar. Benar saja, Ringgo menelan saliva melihat belahan dada milik Aira yang terlihat begitu mulus dan juga padat berisi. Sesuatu milik pemuda tersebut yang tertutup celana jeans, menggeliat melihat pemandangan menggairahkan di hadapan.


"Perkenalkan, aku Aira," ucap Aira seraya mengulurkan tangan.


Ringgo menyambut tangan lembut tersebut dan tanpa Aira duga, pemuda itu mengecup punggung tangannya dan kemudian tersenyum manis.


"Nama yang cantik, persis seperti orangnya," puji Ringgo yang ternyata memang raja gombal dan sudah sering melancarkan rayuan pada banyak wanita, termasuk Aina dan juga Maya, tunangannya.


Pipi putih ibu dosen itu merona, mendapat rayuan dari pemuda yang memang menjadi target untuk menghangatkan ranjangnya yang dingin. "Ah, kamu bisa saja."


"Aku berkata jujur, Aira. Kamu memang sangat cantik dan juga anggun," balas Ringgo, sejujurnya karena memang Aira cantik.


Perkenalan singkat itu, membawa Aira dan Ringgo terlibat skandal. Sama-sama butuh dan sama-sama diuntungkan hingga membuat keduanya sering melakukan hubungan terlarang. Mereka berdua melakukannya di apartemen milik Aira ketika suaminya sedang berdinas ke luar kota.

__ADS_1


Hampir setahun mereka berdua menjalin hubungan, hanya selisih satu bulan dengan hubungan yang terjalin antara Ringgo dan Aina. Selama itu pula, keduanya begitu pandai menutupi hingga tidak ada yang mengetahui hubungan terlarang itu. Baik Aina, tunangan Ringgo, ataupun suami Aira, mereka semua tidak ada yang menaruh curiga.


"Kak, apa yang Kakak lakukan!" teriakan Aina yang kembali bertanya, menyadarkan Aira dan Ringgo bahwa ada orang lain yang melihat olah raga malam mereka berdua.


"Na ...." Ringgo nampak terkejut, tetapi sedetik kemudian pemuda itu kembali santai dan melanjutkan permainannya yang belum selesai, seolah tidak ada orang lain di dalam kamarnya.


Sementara Aira terlihat biasa saja, meskipun sang adik kandung memergoki perbuatannya. Ibu satu anak itu bahkan tetap menikmati penyatuannya bersama sang kekasih gelap, yang hampir mencapai kli*maks. Tubuh Aira terus menggelinjang, seirama dengan tubuh kekar Ringgo yang memompa dengan cepat di atas tubuh polosnya.


Lenguhan panjang keduanya, mengakhiri penyatuan yang menghasilkan peluh kenikmatan yang membanjiri tubuh polos mereka berdua. Bertepatan dengan lemparan botol dari Aina yang tepat mengenai kepala Ringgo. Pemuda itu langsung menjerit karena terkejut sekaligus merasakan sakit di area kepalanya yang berdarah.


"Dasar wanita ja*lang!" umpat Ringgo di antara kesadarannya yang mulai menghilang. Sedetik kemudian, pemuda yang merupakan calon dokter itu pun tidak sadarkan diri.


"Na, apa yang kamu lakukan? Bodoh kamu! Kita bisa berada dalam masalah besar, Na!" Aira nampak panik. Ibu satu anak itu segera beranjak, memunguti bajunya yang tercecer di lantai dan mengenakannya kembali dengan cepat.


"Aku sama sekali enggak nyangka, Kakak tega melakukan ini padaku!" seru Aina yang diliputi amarah. Netranya berkilat menatap tajam pada sang kakak kandung.


"Jangan berpikir macam-macam kata Kakak! Lalu, apa yang aku lihat barusan, Kak!" Aina masih berbicara dengan nada tinggi. Amarah masih menguasai wanita yang tengah hamil muda itu.


"Tadi aku sedang mencoba merayu kekasihmu agar dia mau bertangungjawab dan Ringgo berjanji akan menikahi kamu, Na, asalkan aku mau tidur dengannya! Aku sudah mengorbankan harga diriku, asal kamu bisa menikah dengannya dan anak dalam kandungan kamu itu memiliki ayah, tapi apa yang kamu lakukan sekarang, Na? Kamu malah membuat semuanya menjadi runyam!" Aira memutar balikkan fakta, tidak mau dipersalahkan.


"Kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padanya, kita bisa kena masalah, Na! Cepat, lakukan sesuatu!" titah Aira seraya mencoba menghentikan darah yang terus mengucur dari kepala Ringgo.


Aina dibuat bingung sendiri. Disatu sisi, dia masih sangat marah dengan kekasihnya itu. Namun, di sisi lain, Aina takut jika sesuatu terjadi pada Ringgo dan kemudian menyeretnya ke dalam penjara yang dingin.


"Na! Cepat lakukan sesuatu!" teriakan Aira menyadarkan sang adik dari lamunan.

__ADS_1


Aina menggelengkan kepala. Wanita muda itu teringat dengan tujuan awalnya yang hendak meminta pertanggungjawaban Ringgo. Jika usahanya gagal, Aina bertekad akan menggugurkan janin yang ada dalam kandungannya.


Sekarang, dia melihat fakta lain. Jika Ringgo bisa berselingkuh dengan dirinya dan kemudian berselingkuh juga dengan sang kakak, tidak menutup kemungkinan kekasihnya tersebut juga memiliki selingkuhan lain di luar sana. Hal itu membuat Aina semakin yakin dengan keputusannya.


"Aku tidak peduli lagi dengan dia!" ucap Aina dengan suara tercekat di tenggorokan. Rasa sakit hati dan amarah, bercampur menjadi satu dan membuat Aina ingin menangis. Namun, dia berusaha untuk menahannya.


"Biarkan saja dia mati!" lanjutnya seraya menatap penuh kebencian pada sang kakak yang masih mencoba menghentikan pendarahan di kepala Ringgo dengan selimut. Aina juga menatap sinis pada pemuda yang saat ini tidak berdaya itu.


"Na! Sadar, Na! Kalau dia mati, kita bisa dalam masalah besar!" peringat sang kakak.


"Itu lebih baik! Biar saja dia mati bersama anaknya!" Aina kemudian mengambil beberapa butir obat yang telah dia siapkan dari dalam tas.


Wanita yang tengah mengandung itu menyambar gelas di atas nakas yang berisi air putih separuh dan kemudian segera meminum obat pembersih rahim dalam dosis tinggi. Aina yang melakukan semua itu dengan cepat, membuat Aira tidak dapat mencegah perbuatan bodoh sang adik. Aira hanya dapat menatap bingung ketika Aina mulai merasakan sakit di perutnya.


"Na, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Aira dengan raut wajah khawatir. Kakak pertama Aira itu hendak mendekati sang adik dan memberikan bantuan, tetapi Aina menolak dengan isyarat tangannya.


"Jangan pedulikan aku!" Suara Aina terdengar lemah, tetapi diucapkan dengan penuh penekan dan sangat dingin.


Aina memegangi perutnya yang terasa sangat melilit. Calon dokter itu bahkan sampai berguling di lantai karena tidak tahan dengan rasa nyeri yang dia rasakan. Perutnya seperti diremas-remas dengan kuat oleh tangan-tangan jahat.


Darah segar mulai mengalir membasahi sela-sela kaki jenjang nan putih Aina. Aira dibuat panik melihat pemandangan di hadapan. Ada Ringgo yang tergolek tak berdaya di atas ranjang dengan darah yang masih mengucur di kepala. Sementara di bawah sana, sang adik kesakitan dengan darah yang mengucur pula dari sela-sela kaki Aina.


Aira segera membereskan barang-barangnya dan memastikan tidak ada jejaknya yang tertinggal di sana. Wanita itu bermaksud cuci tangan, begitu melihat wajah sang adik pucat pasi karena pendarahan hebat yang dialami.


"Maafkan aku, Na. Aku harus pergi."

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2