
Kehadiran saudari kembar Maida dan sang suami, menambah keseruan bulan madu tersebut. Maira dan Yudhistira menyusul karena awalnya dilarang bergabung oleh sang daddy yang khawatir kehadiran sang putri yang sedang hamil akan membuat Ailee menjadi bersedih. Ternyata kekhawatiran tersebut tidak terbukti karena Ailee justru senang dengan kehadiran ibu hamil itu.
Ketiga wanita cantik yang seumuran itu terlihat sangat berbahagia, menikmati liburan indah bersama pasangan tercinta. Mereka menjelajah berbagai tempat di Timur Tengah. Mulai dari tempat bersejarah di Mesir hingga menikmati keindahan tempat wisata di Turki.
Mereka juga menyempatkan diri untuk berendam di laut mati, di Yordania. Waktu dua minggu berwisata di Jazirah Arab itu, terasa begitu cepat. Tahu-tahu, mereka harus segera kembali ke tanah air karena waktu cuti telah habis. Ya, meskipun mereka adalah pemilik perusahaannya sendiri, tetap saja mereka bekerja secara professional.
Kini, mereka tengah menikmati sarapan terakhir di salah satu restoran yang banyak terdapat di sepanjang pantai Laut Mati. Ketiga pasangan yang tengah berbulan madu itu memilih tempat duduk lesehan di lantai atas restauran yang langsung menghadap ke arah pantai. Dari sana, keindahan laut mati terpampang nyata di hadapan.
"Aku belum rela, deh, Mas, kalau kita pulang sekarang," rajuk saudari kembar Maida pada suaminya yang masih sangat muda.
Pemuda yang masih duduk di bangku kuliah itu tersenyum lalu mengacak lembut puncak kepala sang istri. "Tapi kita harus pulang, Yang. Pekerjaanku udah numpuk. Nanti gimana aku beli popok buat si kecil kalau aku enggak kerja," ucapnya, mengundang tawa yang lain.
"Enggak perlu bingung, Yud, Mommy Billa pasti sudah menyiapkan semua," balas Gilang dan Erlan mengangguk, membenarkan.
"Iya, sih, Mas Gilang, Bang Erlan. Tapi kalau bisa, Yudhis penginnya menyiapkan sendiri semua keperluan anak kami." Pemuda berambut gondrong itu lalu mengusap lembut perut sang istri yang mulai membuncit, membuat Maira tersenyum senang.
Maida pun ikut tersenyum. 'Enggak nyangka, cowok berandalan itu ternyata sangat romantis,' pujinya dalam hati.
__ADS_1
Maida sangat bersyukur karena sang kembaran mendapatkan suami yang bertanggungjawab seperti Yudhistira. Meskipun usianya masih sangat muda, tetapi setelah menikah dan Maira mengandung, pemuda yang dulunya suka ngebut di jalanan itu berubah drastis dan kini menjadi suami siaga.
Sementara di tempatnya duduk, Ailee berdoa dalam hati semoga segera hadir di rahimnya, buah cintanya dengan sang suami. 'Aku ingin segera hamil lagi seperti Mela, Ya Rabb. Kabulkan do'a kami.' Ailee menatap perutnya sendiri.
"Jangan bersedih, Sayang. Allah pasti akan segera memberikan kita momongan," bisik Gilang kala menyadari tatapan sang istri tertuju pada perutnya yang masih rata.
Wanita belia itu tersenyum dan kemudian mengaminkan harapan mereka berdua. "Aamiin."
Usai sarapan, mereka segera kembali ke hotel untuk berkemas. Sebab, siang nanti adalah jadwal penerbangan mereka. Ketiga pasangan itu lalu masuk ke kamar masing-masing.
Di dalam kamarnya, Ailee terpekik kecil kala merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang ke udara ketika dia baru saja masuk ke dalam kamar. Rupanya, sang suami langsung membopong tubuh ramping Ailee dan membawanya ke atas pembaringan. "Kenapa enggak bilang-bilang dulu, sih, Mas?"
"Kita belum berkemas, loh," protes Ailee.
"Biar aku sendiri yang nanti mengemasi barang-barang kita, Yang. Sekarang, berikan aku suplemen agar bisa mengemasi barang kita yang banyak itu dengan cepat," tagih Gilang dengan senyuman nakal.
Ailee cemberut. "Lagi?"
__ADS_1
Gilang mengangguk, cepat. "Iya, Sayang. Lagi dan lagi. Habisnya kamu bikin nagih." Gilang lalu melepaskan hijab sang istri dan menghujani istrinya dengan ciuman basah hingga membuat Ailee mendesah.
"Ah ... Mas." Ailee merasa melayang.
Ya, setiap kali sang suami memberikan sentuhan, wanita muda itu selalu merasakan dibawa terbang oleh Gilang. Sentuhan sang suami yang lembut, menuntun dan kemudian menuntut, selalu bisa membuat Ailee merasa terpuaskan.
"Enak, Yang?" bisik Gilang bertanya, di sela-sela cumbuannya dan Ailee membalasnya dengan ******* manja.
"Banget, Mas. Maunya terus dan jangan berhenti."
Gilang tersenyum senang. Dia merasa menjadi suami yang perkasa karena berhasil membuat sang istri meminta lagi dan lagi. "Dengan senang hati aku akan melakukannya, Yang, jika kamu menyukainya."
Kembali, kamar hotel tempat Gilang dan sang istri menginap harus menjadi saksi bisu dari pergumulan panjang keduanya. Pergumulan yang senantiasa diniatkan untuk mengusahakan hadirnya sang buah hati yang akan melengkapi kebahagiaan pernikahan mereka berdua. "Aku harap, dia segera hadir di antara kita," bisik Gilang seraya mengusap peluh di kening sang istri, sisa pergumulan panas mereka berdua dengan ibu jarinya.
Ailee yang nampak kelelahan karena sang suami kembali berhasil membuatnya mengalami pelepasan berkali-kali, hanya tersenyum tipis lalu segera memejamkan mata. Gilang tersenyum menatap wajah lelah istrinya. Pemuda tampan itu lalu mengecup kening sang istri dengan dalam, ciuman yang hangat dan lama.
"Mimpi indah, Sayang," bisik Gilang yang kemudian segera beranjak untuk mengemasi barang-barang.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung... ☕☕☕