Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Merebut Dia dari Istrinya


__ADS_3

"Kapan kamu balik ke Indonesia, Len?" tanya Gilang setelah meyakini bahwa wanita di hadapan adalah teman semasa kuliah dulu.


"Baru seminggu yang lalu, Lang," balas wanita yang memiliki postur tubuh tinggi semampai itu seraya tersenyum manis pada Gilang lalu tatapannya tertuju pada kantong kresek yang dibawa oleh pemuda tampan tersebut. Aleena kemudian mengerutkan dahi. "Lang, sejak kapan kamu suka makan seblak?" tanyanya penuh keheranan.


Ya, mereka adalah teman lama dan berteman dekat sekitar lima tahun. Wajar, jika Aleena banyak mengetahui tentang kebiasaan Gilang. Aleena bahkan tahu banyak hal tentang pemuda di hadapan dari Erlan, mantan kekasihnya.


"Sejak saat ini," balas Gilang, santai. "Tepatnya, sejak istriku memesannya tadi," lanjut Gilang yang semakin membuat wanita berkulit putih di hadapannya, terheran-heran.


"Istri? Seorang Gilang memiliki istri?" tanya Aleena dengan tatapan menuntut jawab dan Gilang menganggukkan kepala, membenarkan.


"Benar, Len. Kenapa, ada yang salah?" Gilang balik bertanya dan wanita yang memiliki wajah oriental tersebut menggeleng.


"Tidak ada yang salah, Lang. Hanya aneh saja aku mendengarnya. Pasalnya, dulu kamu 'kan susah sekali untuk didekati. Bahkan, banyak dari teman-teman kita yang patah hati gara-gara kamu cuekin." Aleena lalu terkekeh, mengingat masa kuliah dulu.


Gilang pun ikut tersenyum. "Setiap orang bisa saja berubah 'kan, Len?"


Aleena mengangguk, membenarkan. "Hanya aku yang tidak berubah, Lang. Aku masih saja menyesali perbuatanku yang dulu dan masih berharap Erlan mau memaafkan aku." Aleena menghela napas panjang.

__ADS_1


"Duduk dulu, yuk, Lang. Ada yang mau aku bicarakan," ajak Aleena seraya menarik tangan Gilang.


Mau tidak mau, Gilang mengikuti permintaan Aleena. Pemuda itu lalu duduk di hadapan teman lamanya tersebut. Teman yang sudah hampir tujuh tahun tidak pernah bertemu karena Aleena harus ikut orang tuanya yang ditugaskan ke luar negeri.


Sejenak keheningan menyapa. Ada rasa canggung yang nampak terlihat dari wajah Aleena. Mungkin, itu karena rasa bersalahnya pada abang sepupu Gilang.


Sementara Gilang juga nampak gelisah. Terbayang wajah sang istri yang pasti sudah menanti kedatangannya yang membawakan pesanan kesukaan. Namun, Gilang juga merasa tidak enak jika harus menolak keinginan Aleena yang ingin berbicara.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, Len?" tanya Gilang kemudian, seraya melihat jam mewah di pergelangan tangan kanannya.


"Kabar Erlan bagaimana, Lang?" Aleena menjawab pertanyaan Gilang dengan sebuah pertanyaan yang sudah dapat diduga oleh Gilang.


Aleena mengangguk. "Benar, Lang. Aku memang masih sering mengirimi dia pesan, menanyakan kabar dan juga bagaimana perasaannya padaku. Tapi ya, gitu."


"Maksudnya?" Gilang menatap Aleena, menuntut penjelasan.


"Dia hanya sepintas lalu membalas setiap pesan yang aku kirimkan, Lang. Erlan tidak pernah mau serius menanggapi setiap permintaan maafku, penyesalanku, dan juga pertanyaanku mengenai perasaannya padaku sekarang. Bahkan, setahun terakhir dia hanya membaca pesanku saja, tanpa memberikan balasan," terang Aleena panjang lebar. Wanita itu menghela napas berat kemudian.

__ADS_1


"Sejujurnya, aku masih sangat mencintainya, Lang. Aku berencana untuk menemui Erlan minggu depan, sambil menunggu grand opening butikku dan memberikan undangan padanya. Dan aku berharap, aku masih memiliki kesempatan untuk bisa mendapatkan hati Erlan kembali," lanjutnya penuh semangat.


Gilang menggeleng cepat. Hal itu membuat Aleena bertanya, "kenapa Lang?"


"Bang Er sekarang sudah bahagia bersama istrinya, Len. Aku harap, kamu tidak mengganggu kehidupan rumah tangga mereka!" tegas Gilang yang kemudian beranjak.


"Aku tidak percaya, Lang! Aku tidak percaya Erlan benar-benar bisa melupakan aku dan menikah dengan wanita lain!" Aleena ikut beranjak.


"Tentu saja bisa, Len. Beberapa bulan setelah kamu tinggalkan, Bang Er langsung menggandeng seorang wanita. Bahkan, Bang Er sempat berganti-ganti kekasih sebelum dia menemukan istrinya yang sekarang," terang Gilang dan Aleena menggelengkan kepala.


"Wanita-wanita itu hanya pelarian Erlan saja, Lang! Aku yakin itu!" ucap Aleena, penuh percaya diri.


"Kamu kepedean, Len! Bang Er sudah melupakan kamu! Dengan mantan-mantan kekasihnya itu mungkin Bang Er memang tidak serius karena hanya penjajakan saja, tapi dengan yang terakhir Bang Er benar-benar serius dan sangat mencintai istrinya itu!" tegas Gilang.


"Sudahlah, Len. Kamu sudah membuang-buang waktuku yang berharga. Istriku pasti sudah menunggu di rumah, aku harus segera pulang," pamit Gilang, tanpa menoleh lagi ke belakang.


Membiarkan Aleena yang mematung, seorang diri. Wanita bermata sipit itu nampak masih syok dengan penjelasan Gilang bahwa Erlan sudah melupakannya dan kini sudah menikah. Aleena juga syok mendengar penjelasan Gilang bahwa laki-laki yang masih sangat dicintainya itu, sangat mencintai istrinya.

__ADS_1


'Apa aku masih memiliki kesempatan untuk merebut dia dari istrinya yang beruntung itu?' bisik hati Aleena.


☕☕☕ bersambung... ☕☕☕


__ADS_2