
Makan malam sederhana yang diwarnai canda dan tawa itupun terasa sangat istimewa. Semua merasa puas dan bahagia. Terutama Kukuh dan Reno yang mendapatkan banyak pelajaran baru.
Setelah menghabiskan minuman, mereka pun segera beranjak karena angin malam terasa semakin dingin. Ailee yang meminta pada sang suami untuk segera pulang karena tidak ingin membuat sang oma kedinginan. Padahal kedua keponakannya masih betah berada di sana, menikmati udara malam dengan duduk lesehan di pinggir jalan.
"Yah, Kak. Bentar lagi, napa?" protes Kukuh yang masih enggan untuk beranjak.
"Lain kali kita cari tempat makan seperti ini yang lebih asyik," janji Gilang.
"Benar ya, Om. Jangan ajak Ombu!" pinta Reno.
"Kenapa? Kamu tega ya, ninggalin ombu sendirian?" protes sang oma, cemberut. Wanita tua itu pura-pura merajuk.
"Bukan begitu, Ombu. Justru karena Reno sayang sama Ombu, makanya Reno enggak pengin Ombu ikut. Kalau Ombu sering kena angin malam seperti ini 'kan enggak baik untuk kesehatan Ombu," balas Reno seraya merangkul pundak oma buyutnya.
Sang oma tersenyum bahagia. Merasa sangat senang karena dikelilingi oleh orang-orang yang sayang padanya. Terlebih setelah hadirnya Ailee ke dalam keluarganya, menambah suasana di dalam keluarga menjadi lebih hangat.
"Iya-iya, ombu juga tahu itu, Ren." Sang oma mengusap kepala Reno dengan sayang.
Mereka semua kemudian segera masuk ke dalam mobil. Setelah semua duduk dengan nyaman, Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk kembali ke rumah. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bersuara.
"Gimana kalau besok kita makan di luar lagi? Kita tembak Bang Sat, minta syukuran. Malam ini 'kan, dia mau dikenalin sama saudaranya Kak Mai." Suara Kukuh, mengurai keheningan.
"Baru mau dikenalin, Kuh. Masak sudah dipalak syukuran. Kalau sudah jadian, baru kalian minta traktiran," tutur sang oma yang duduk sambil memejamkan mata.
"Lagian, minta traktiran sama Satria. Paling kalau bukan om yang bayar, ya Om Er yang akan membayarkan," timpal Gilang.
"Ai aja yang traktir kalian, tapi sabtu pagi biar Oma bisa ikutan. Setelah kita jogging, mau enggak?" tawar Ailee, kemudian. Wanita berhijab itu menoleh ke belakang, menatap Kukuh dan Reno bergantian.
"Boleh-boleh," balas Reno, antusias.
"Tapi jangan bubur ayam ya, Kak," pinta Kukuh. "Bosan tahu kalau setiap habis jogging diajakin nyabu atau kalau tidak nyabu, ya nyoto," lanjutnya, protes.
Sang oma yang selalu mengajak cucu-cucunya untuk makan makanan seperti itu, kemudian membuka matanya dan terkekeh. "Yang gampang dan banyak yang jual, kan, menu itu, Kuh," jawabnya.
"Sabtu lusa, Ai akan ajak kalian sarapan yang berbeda," sahut Ailee.
"Memangnya, menu apa, Sayang?" tanya Gilang, penasaran. Pemuda tampan itu menoleh sekilas ke arah sang istri.
"Nasi pecel Madiun, mau enggak? Atau sego pager?" tawar Ailee.
__ADS_1
"Kalau pecel Madiun, Reno sudah pernah makan, sih, sewaktu pulang ke rumah. Tapi kalau sego pager, itu menu apaan, Kak? Reno baru kali ini dengar menu sego pager." Remaja tampan tersebut menatap Ailee seraya mengerutkan dahi.
"Semacam nasi pecel gitu, Ren. Dari kota kecil di Jawa Tengah. Kamu cari saja di internet," balas Ailee.
"Nih, Ren. Kayak gini." Kukuh yang tadi langsung browsing begitu mendengar menu yang asing di telinganya, menunjukkan layar ponselnya kepada Reno.
"Wih, kayaknya mantap, tuh," ucap Reno dengan air liur yang sudah penuh di mulut, melihat tampilan gambar sego pager dengan taburan serundeng dan bumbu kacang yang menggoda. Di tambah mendoan di atasnya yang semakin menggugah selera.
"Coba, ombu mau lihat." Sang oma pun dibuat penasaran, mendengar perkataan Reno barusan.
"Sepertinya memang enak, sehat lagi," tutur sang oma, membenarkan perkataan cucu buyutnya.
"Di dekat taman kota, ada yang jual menu itu dan mendoan dan bakwannya selalu baru, Oma. Jadi masih panas, gitu," terang Ailee, semakin membuat sang oma, Reno serta Kukuh, penasaran dengan rasa sego pager.
"Sebelum ajak mereka, besok kita kesana dulu, ya, Yang," pinta Gilang. Rupanya, suami Ailee itu selalu ingin menjadi yang pertama bagi sang istri.
"Yey, Om Ge curang!" protes Reno dan Kukuh, berbarengan.
Gilang tidak memperdulikan protes dari kedua ponakannya karena fokus suami Ailee saat ini sedang tertuju ke arah mobil yang ada di depannya. "Bang Er dan Satria juga udah pulang, tuh," tunjuk Gilang pada mobil sedan hitam metalik yang baru saja memasuki pintu gerbang.
Mobil Gilang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mobil Erlan pun segera memasuki gerbang yang tinggi menjulang tersebut. Mereka semua kemudian turun, setelah Gilang menghentikan mobilnya tepat di samping mobil sang abang sepupu. Erlan dan Satria yang sudah turun terlebih dahulu mengerutkan dahi, menyimpan tanya.
"Alhamdulillah, lancar Oma," balas Erlan seraya berjalan masuk ke dalam rumah sambil merangkul pundak wanita tua tersebut.
Mereka semua kemudian duduk di ruang keluarga. Belum ada yang hendak langsung beristirahat karena mereka masih ingin bercerita. Erlan duduk tepat di samping sang oma.
"Kalian dari mana barusan?" tanya Erlan setelah mereka semua duduk. Pemuda yang murah senyum itu menatap semuanya bergantian.
"Makan di tempat yang asyik, Om. Nih, lihat." Satria yang duduk di samping Erlan dan sedari datang memasang wajah masam karena dipamerin foto-foto oleh Reno, menunjukkan layar ponselnya.
"Asyik banget, lesehan di pinggir jalan. Pasti seru!" ucap Erlan, antusias menanggapi foto-foto keluarganya itu.
"Seru apaan! Lebih seru juga kita, Om!" sahut Satria yang masih iri karena ketinggalan momen kebersamaan bersama keluarganya tadi.
"Iya-iya. Yang punya gebetan baru, mah, pasti ngomongnya seru," balas Erlan.
"Udah dapat, ya? Siapa namanya, Bang?" kejar Kukuh.
"Jeje, gitu kayaknya. Atau siapa tadi nama panjangnya, Sat?" Erlan menoleh ke arah Satria yang senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Jeje? Kok, kayak nama cowok gitu, ya?" Reno mengerutkan dahi.
"Dia asyik, enggak, Bang?" cecar Kukuh yang menyimpan rasa penasaran dengan cerita sang abang.
"Seru banget! Centil, manja, kadang juga absurd gitu. Pokoknya lucu, deh, dia." Netra Satria nampak berbinar, penuh dengan bintang-bintang.
"Jangan seneng dulu, Sat! Kakaknya 'kan, kayaknya posesif banget sama Jeje," sahut Erlan.
Satria mengangguk. "Nah, tuh dia, Om, yang sedang Satria pikirkan," balas Satria.
"Kamu pasti bisa, Sat, ngambil hati kakaknya. Sesama kang jahil, masak enggak akur," ucap Erlan kemudian.
"Kakak gadis itu, jahil juga kayak Satria?" tanya Gilang.
"Heem. Jahil dan absurd," balas Erlan. "Aku jadi enggak bisa ngebayangin, bagaimana jadinya nanti keluarga kalian. Udah bapaknya absurd, kakaknya absurd, dapat menantu Satria, absurd juga. Benar-benar keluarga absurd," lanjut Erlan, tergelak.
"Ck," decak Satria. "Kenapa jadi Satria, sih, yang jadi topik pembicaraan?" protesnya.
"Om Er 'kan mau nyampein kabar bahagia," imbuh Satria yang kemudian menoleh ke arah omnya yang masih tergelak.
Rupanya, Erlan sedang teringat dengan keluarga salah satu saudara sang kekasih yang terkenal dengan kejahilannya. Keluarga dari gadis yang diincar oleh Satria. Gadis centil, manja, dan juga lucu, versi sang keponakan.
"Kabar bahagia apa, Er?" tanya sang oma, tidak sabar ingin mendengar.
"Om Er lusa mau tunangan, Oma," celetuk Satria sebelum Erlan menyampaikan sendiri kabar yang membahagiakan tersebut kepada sang oma dan keluarganya yang lain.
"Alhamdulillah." Wanita tua itu kemudian memeluk Erlan dengan perasaan yang membuncah bahagia. Sang oma merasa sangat bersyukur karena akhirnya, Erlan yang selama ini sudah setia mendampingi Gilang, akan segera melepas masa lajang.
"Segera kabari orang tuamu, Er, agar mereka segera datang kemari untuk menyiapkan semuanya," suruh sang oma dan Erlan menganggukkan kepala, patuh.
"Ai, besok tolong temani aku beli cincin tunangan, ya," pinta Erlan.
"Kenapa minta tolong istriku? Sama aku aja!" sahut Gilang, cepat.
"Iya-iya. Sama kamu, Ge. Sama Ai dan Oma juga," pungkas Erlan setelah menyadari kecemburuan Gilang.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1