
Kebahagiaan yang saat ini dirasakan oleh Ailee setelah ijab qabul terucap dan resepsi pernikahan digelar meski hanya dengan sederhana, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di kediaman orang tuanya. Aina menangis dan menjerit histeris, ketika sang papa dengan begitu keras menampar pipi putri kesayangannya.
Ya, setelah rencana mereka untuk meminta Gilang agar menikahi Aina gagal. Aina kembali menghubungi Ringgo untuk membujuk kekasihnya tersebut agar mau bertanggungjawab atas kehamilannya dan melupakan sang tunangan. Namun, usaha Aina untuk membujuk sang kekasih tidak membuahkan hasil.
Ringgo tetap menolak karena selama ini, kekasih Aina itu hanya menjadikan dirinya sebagai pemuas nafsu semata. Tidak pernah ada rasa cinta di hati Ringgo, untuk Aina.
Calon dokter itu juga mencoba menghubungi beberapa teman lama yang dulu pernah naksir Aina dan menawarkan imbalan tinggi jika mereka bersedia menikah dengan Aina, tentu dengan tidak menceritakan alasan yang sebenarnya, tetapi tidak satupun dari tiga teman yang dia hubungi mau menikahinya.
"Sakit, Pa!" seru Aina sambil memegangi pipinya yang memerah, akibat tamparan keras barusan.
Laki-laki paruh baya berwajah sangar itu menampar sang putri karena Aina tidak dapat menemukan seorang pemuda pun yang mau menikahinya, untuk menutupi aib keluarga.
Aira yang baru saja berganti pakaian dengan gaun rumahan setelah semua tamu membubarkan diri tadi, dibuat terkejut mendengar teriakan sang adik dan kakak sulung Ailee tersebut langsung menghampiri papa dan adiknya di ruang keluarga.
"Anak kurang ajar dan tidak tahu diuntung seperti kamu itu harusnya mati saja, Na!" geram sang papa dengan mata berkilat, penuh amarah.
"Ampun, Pa. Aina ngaku salah." Calon dokter itu bersimpuh di kaki sang papa, sambil menangis tersedu. Tidak ada lagi keceriaan dan kesombongan di wajah ayunya.
"Pa. Sabar, Pa. Bukan dengan cara seperti ini menghadapi masalah Aina," ucap Aira sambil mendekati sang adik dan kemudian merengkuh adiknya yang tengah hamil muda.
Perlahan, Aira mendudukkan Aina di sofa. "Usap air matamu! Jangan menangis karena itu tidak akan menyelesaikan masalah! Hadapi saja, akibat dari perbuatan yang sudah kamu lakukan selama ini!"
__ADS_1
Dosen di salah satu Perguruan Tinggi ternama itu kemudian mendekati papanya dan berkata dengan lembut. "Papa duduk dulu, yuk! Kita bicarakan ini dengan kepala dingin," bujuknya.
Sang papa yang tadi begitu terbawa emosi, menurut dan laki-laki paruh baya tersebut kemudian mendudukkan diri tepat di hadapan Aina yang terus menundukkan kepala.
"Lantas, harus dengan cara bagaimana, Ra? Adikmu itu sudah berbuat tidak senonoh sampai hamil di luar nikah! Kekasihnya tidak mau bertanggungjawab. Apa kata orang-orang jika sampai berita ini menyebar? Papa akan sangat malu, Ra!" Laki-laki bertubuh tambun itu mendengkus kesal.
Sorot kemarahan masih terlihat dengan jelas dari caranya menatap sang putri kedua. Hal itu membuat Aina semakin tidak memiliki nyali untuk menatap papanya. Dokter muda tersebut terus menundukkan kepala, menyesali semua perbuatannya.
Selama ini, Aina begitu menikmati dan terbuai dengan hubungan terlarangnya dengan Ringgo. Mereka bahkan melakukan tanpa pengaman dan sama sekali tidak memiliki kekhawatiran, bagaimana nanti jika sesuatu yang tidak diinginkan seperti sekarang, terjadi.
Aina begitu yakin bahwa kekasih yang dia anggap sangat mencintai dan memuja dirinya itu pasti akan menikahinya dan mau bertanggungjawab, jika dia mengandung buah cinta mereka berdua.
Nyatanya, anggapan Aina salah besar, Ringgo memilih cuci tangan dan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah menabur benih di rahim Aina.
"Gilang seorang bos perusahaan besar, Pa. Pasti dengan mudah dia dapat membujuk salah satu karyawan, agar mau menikahi Aina dan menutupi aib ini," lanjutnya seraya menatap sang papa dan adiknya, bergantian.
Aina menggeleng. "Kak, enggak perlu meminta-minta sama mereka, Kak. Aina sudah malu sama mereka berdua," tolak Aina yang kembali menangis.
Aina merasa sangat malu sekarang, harga dirinya hancur sudah. Ditolak oleh sang kekasih, ditolak juga dengan mentah-mentah oleh sang adik yang awalnya dikira bodoh dan dapat dipengaruhi, agar merelakan Gilang untuk Aina.
Kakak kandung Ailee itu bahkan rela merendahkan diri di hadapan para pemuda yang dulu begitu memujanya, tetapi dia abaikan. Sekarang, mereka yang mengabaikan permintaan Aina.
__ADS_1
Bahkan, salah satu dari ketiga teman lama yang tadi Aina hubungi, ada yang meledek dan mengata-ngatai Aina sebagai perempuan yang tidak laku, hingga dia harus membayar seseorang agar mau menikahinya.
"Lalu, jika tidak meminta bantuan mereka, mau minta bantuan siapa lagi?" tanya sang papa, dengan nada meninggi. Lagi-lagi, berhasil membuat Aina, ciut nyali.
"Aina akan gugurkan saja kandungan ini, Pa," ucap Aina, lirih. Dia sangat takut jika sang papa sampai kembali murka, mendengar niatnya yang tidak terpuji dan dapat membahayakan nyawa.
"Na ...." Sang kakak menggeleng, tidak setuju dengan keinginan Aina.
"Itu sangat beresiko, Na. Bisa menyebabkan kematian," lanjut Aira.
"Enggak apa-apa jika Aina harus mati, Kak. Daripada hidup harus menanggung malu seperti ini dan dimarahi sama Papa," balas Aina, terisak.
"Na. Iya kalau benar kamu langsung mati, kamu memang enggak akan merasakan apa-apa lagi. Enggak perlu malu pada orang-orang karena kamu tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan tentang kematian kamu, tetapi kami, Na ... kami yang akan menanggung malu!" Aira menatap sang adik dengan tatapan tajam.
"Apesnya, kalau kamu tidak langsung mati, tetapi terjadi komplikasi dari aborsi yang kamu lakukan yang bisa saja merusak rahim kamu, maka seumur hidup kamu akan menyesal, Na! Kamu tidak akan dapat memiliki keturunan!" lanjutnya, geram.
Aira tidak habis pikir terhadap sang adik yang selama ini bergelut di dunia medis. Di mana para ahli medis berlomba untuk menyelamatkan sebuah nyawa, tetapi Aina justru malah berpikiran sempit dengan akan melakukan tindakan aborsi yang dapat menghilangkan nyawa sang janin yang tidak berdosa, bahkan tindakan tersebut juga dapat mengancam jiwa Aina.
"Biar saja, Mbak! Aina akan tanggung sendiri segala resikonya!" tegas Aina yang sudah membulatkan tekad, ingin membuang saja benih milik Ringgo yang telah tumbuh menjadi janin di dalam kandungannya.
Terdengar sang papa menggebrak meja begitu keras, hingga membuat Aina yang sempat berapi-api, kembali tidak memiliki nyali.
__ADS_1
"Kalau kamu masih ingin dianggap anak di rumah ini, maka ikuti saran kami! Kami akan tetap meminta bantuan Gilang, agar mencarikan suami untuk menutupi aibmu, meski laki-laki itu hanya buruh rendahan di perusahaan Gilang!" pungkas sang papa yang tidak ingin lagi mendengar bantahan.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕