Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Pinjam Suami Kamu Sebentar


__ADS_3

Di sinilah saat ini mereka berada. Di ballroom sebuah hotel mewah yang ternyata adalah milik Gilang. Mereka berempat datang untuk memenuhi undangan dari Aleena dalam rangka grand opening butik milik mantan kekasih Erlan.


Ya, meskipun awalnya Gilang melarang sang istri untuk ikut dan dia pun tidak akan pergi karena acaranya diadakan malam hari, Gilang kemudian mengizinkan sang istri karena Ailee kekeuh ingin bertemu dan penasaran dengan wanita yang bernama Aleena. Mantan kekasih Erlan yang sempat membuat Ailee salah sangka pada sang suami dan menyebabkan dia jatuh pingsan kala itu. Mereka lalu duduk di bangku yang telah disediakan khusus untuk tamu-tamu istimewa.


"Mai, orangnya yang mana?" bisik Ailee, bertanya ketika suami-suami mereka sibuk menyapa teman-teman lamanya. Kedatangan mereka yang sedikit terlambat, membuat sang empunya hajat tidak menyambut karena Aleena sudah disibukkan dengan tamu-tamu yang kebanyakan adalah teman-teman lama.


Aleena memang sengaja mengundang teman-teman semasa kuliahnya dulu. Hampir mereka semua yang berdomisili di Jakarta hadir karena selain memenuhi undangan tersebut, sekaligus untuk melepas rindu bersama teman-teman yang sudah lama tidak saling bersua. Kesibukan masing-masing yang membuat mereka tidak dapat berjumpa meskipun masih berada di kota yang sama.


"Itu, yang mengenakan gaun kurang bahan berwarna merah cabe," balas Maida seraya menunjuk ke arah seorang wanita dengan dandanan ala model papan atas.


Nampak wajah Aleena begitu ceria. Wanita itu bercengkrama dengan teman-teman lamanya dengan senyuman yang penuh kebahagiaan. Tentu saja dia berbahagia karena malam ini adalah malam yang sudah lama dia nanti-nantikan. Pembukaan butik yang sudah lama dia impikan.


Maida dan Ailee yang sudah duduk di salah satu meja bundar, terus memperhatikan wanita itu. Wanita yang sesekali mencuri-curi pandang pada Erlan meskipun dia tahu bahwa sang mantan telah memiliki pasangan. Aleena seolah tidak peduli dengan status baru Erlan.


Ailee mengerutkan dahi. "Selera Bang Er gitu amat, ya," gumamnya, membuat Maida menghadiahi cubitan gemas di pipi bumil tersebut.


"Maksud kamu, suamiku aneh, gitu?" Maida cemberut.

__ADS_1


"Emang iya, Mai. Tapi dulu, sebelum Bang Er sadar," balas Ailee, seraya terkekeh kecil.


Mau tak mau, Maida pun ikut tertawa. Dia kembali mengamati penampilan Aleena yang menurutnya over. "Benar apa yang kamu bilang barusan, Ai. Suamiku memang aneh kalau mencintai ondel-ondel macam dia," timpalnya kemudian.


"Apa maksudmu, Yang? Siapa yang aneh?" tanya Erlan yang rupanya telah memperhatikan sang istri dan istri sepupunya, sejak beberapa saat yang lalu. Erlan kemudian duduk di samping istrinya.


"Abang, lah. Siapa lagi?" balas Maida masih sambil terkikik, geli sendiri.


"Bang Er dulu doyannya sama wanita yang kayak ondel-ondel gitu, ya?" timpal Ailee bertanya, dengan sejujurnya.


Sementara Erlan terdengar berdecak kesal karena Gilang yang tahu penampilan Aleena dulu seperti apa, ikut-ikutan. "Dia dulu enggak seperti itu, kok, penampilannya," ralat Erlan yang tersirat pembelaan diri.


Memang benar, Aleena dulu adalah sosok yang sederhana, tapi tetap modis. Dia juga wanita yang supel dan banyak disenangi teman-temannya. Sebab itulah, Erlan menyukai Aleena yang merupakan adik tingkatnya. Mantan kekasih Erlan itu satu angkatan dengan Gilang.


Erlan kemudian sedikit menceritakan tentang Aleena. Dia juga mengatakan bahwa sejak mantannya itu wisuda tujuh tahun lalu, hubungan mereka berdua telah benar-benar berakhir. Erlan tidak ingin sang istri atupun istri Gilang salah paham jika dia ngobrol dengan Aleena. "Hubungan kami sudah selesai. Tidak ada yang tersisa!" tegasnya.


"Iya, Abang, Mai tahu kalau dia itu hanya masa lalu. Abang juga udah pernah cerita sebelumnya. Hanya saja, dia kayaknya enggak menganggap Abang sebagai masa lalunya, deh," ucap Maida seraya menunjuk Aleena yang tengah memperhatikan Erlan dari kejauhan, dengan dagunya.

__ADS_1


Gilang dan sang istri reflek melihat ke arah yang ditunjuk Maida. Sementara Erlan nampak tidak peduli. Dia malah sengaja mengelus lembut pipi istrinya. "Biarin aja, lah, Yang. Yang penting 'kan, bagaimana aku," ucap Erlan menatap dalam netra indah sang istri.


"Jangan pedulikan orang lain karena jika aku sudah menutup hati untuk dia, seribu cara yang Aleena lakukan tidak akan mampu membuka hatiku. Beda jika aku yang membuka peluang, meskipun dia tidak mengejarku kembali, mungkin akunya yang malah mengejar Aleena," imbuhnya dan Maida mengangguk, membenarkan.


"Terima kasih karena Abang sudah menjadikan Mai sebagai satu-satunya," ucap Maida seraya menggenggam erat tangan sang suami.


"Udah, ah! Kita ngobrolin yang lain aja!" Erlan lalu membetulkan duduknya, meraih botol air mineral dan menenggaknya hingga habis separuh.


Mereka berempat kemudian melanjutkan obrolan. Membahas apa saja yang menurut mereka lucu dan menyenangkan. Mereka bahkan tidak memperhatikan ketika acara inti dimulai dan Aleena maju ke depan.


Kedua saudara sepupu dan istri masing-masing, masih asyik bersenda gurau. Mereka mengabaikan ajakan MC yang menyuruh mereka untuk turun melantai. Baik Erlan maupun Gilang tidak ada yang berniat untuk turun membawa istri meskipun suara musik telah mengalun merdu semenjak beberapa saat yang lalu. Mengundang orang-orang untuk turun berdansa.


Ya, setelah acara inti, Aleena memang sengaja membuat konsep ada acara dansa di pesta grand opening butiknya. Hampir sebagian besar temannya turun melantai. Yang membawa pasangan, tentu turun dengan pasangannya. Sementara yang datang sendirian, mencari pasangan baru di tempat itu.


Kehadiran Aleena di meja mereka berempat, menghentikan obrolan hangat tersebut. Wanita berpakaian seksi itu lalu menarik tangan Erlan dengan tidak sopan. "Mai, aku pinjam suami kamu sebentar ya. Kami mau berdansa mengenang masa lalu."


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2