Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Ibadah Terpanjang


__ADS_3

Acara rujakan yang sangat meriah karena diwarnai canda dan tawa dari para remaja itupun terpaksa disudahi karena waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Mereka semua segera membubarkan diri untuk melaksanakan sholat asyar dan kemudian bersiap ke acara pertunangan Erlan. Gilang menuntun sang istri untuk kembali ke villa dan langsung menuju kamar.


Untuk menghemat waktu, sepasang suami-istri yang tengah berbahagia itupun mandi bersama. "Hanya mandi ya, Mas. Nanti kita terlambat kalau Mas minta aneh-aneh," ucap Ailee, mengingatkan ketika mereka berdua baru saja masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya, Sayang. Tapi nanti malam, boleh, ya, minta jatah," balas dan pinta Gilang seraya tersenyum lebar.


Ailee hanya menganggukkan kepala. Pemuda tampan itu lalu sigap membantu sang istri melepaskan gaunnya. Mereka berdua kemudian mandi di bawah shower dengan saling menggosokkan punggung.


Tidak butuh waktu lama, mandi yang sebenar-benarnya mandi itupun selesai. Sebenarnya, Gilang ingin melakukan lebih di dalam sana. Namun, mengingat terbatasnya waktu, dia harus menahan keinginan.


Setelah memakaikan handuk kimono pada sang istri, Gilang pun melilitkan handuk sebatas pinggang. Mereka lalu berjalan keluar dari kamar mandi dengan beriringan. Mereka berganti pakaian dengan cepat karena harus segera menunaikan kewajiban untuk sholat asyar.


Usai sholat dan berdo'a, Gilang dan Ailee segera bersiap. Mereka berdua mengenakan busana couple batik mewah. Sang wanita terlihat sangat cantik dan sang pria semakin menawan.


"Istriku makin cantik aja," puji Gilang dengan tulus, sebelum mereka berdua bergabung bersama keluarga besar.


Ailee tersenyum dan kemudian berjinjit untuk mencium pipi sang suami. "Terima kasih atas pujiannya suamiku yang tampan rupawan," balasnya kemudian.


Gilang tersenyum lebar. Senyum yang menampakkan deretan giginya yang putih bersih. "Makin pinter melambungkan hatiku kamu, Sayang. Bukan hanya di ranjang tetapi juga dari sikap dan perkataan," ucap Gilang seraya memeluk perut sang istri dari belakang.


Sejenak, keduanya terdiam. Mereka hanya saling pandang melalui pantulan cermin besar di hadapan. Sedetik kemudian, keduanya sama-sama mengulas senyum kebahagiaan.


"Yuk, keluar," ajak Gilang kemudian seraya melerai pelukan. Mereka berdua segera meninggalkan kamar untuk bergabung bersama keluarga yang lain.

__ADS_1


Di ruang tengah, nampak keluarga besar sudah berkumpul di sana. Hanya Erlan yang belum kelihatan. Gilang mengedarkan pandangan, mencari sosok yang selalu ada untuknya itu.


"Apa Bang Er, masih di kamar, Budhe?" tanya Gilang pada Budhe Ris.


"Iya, Ge. Samperin sana!" titah budhenya kemudian.


Gilang memberikan isyarat pada sang istri dan kemudian segera berlalu menuju kamar sang abang sepupu yang sekaligus asistennya tersebut. Tanpa mengetuk pintu, pemuda tampan itu langsung masuk. Membuat Erlan yang sedang menatap dirinya di pantulan cermin, terkejut.


"Ngagetin aja, kamu!" protes Erlan.


"Udah siap, belum?" tanya Gilang seraya memindai penampilan sang asisten pribadi.


"Menurut kamu. Bagaimana, Ge?" tanya Erlan, meminta pendapat.


"Lumayan," balas Gilang seraya terkekeh.


"Kalian berdua, kenapa? Yang satu cemberut, yang satu tertawa?" tanya sang oma dengan dahi berkerut.


"Ge, tuh, Oma. Dimintai pendapat tentang penampilan Er, jawabnya malah asal," balas Erlan seraya mengambil sapu tangan dari kantong celana dan kemudian mengelap keringat yang mulai membasahi keningnya. Rupanya, pemuda tampan itu sedikit merasa grogi di hari yang sudah lama dia nantikan ini.


"Santai aja, Om Er, kayak di pantai," ledek Satria seraya memainkan kedua alisnya.


"Benar, Om, biar enggak ngerasa gerah karena angin di pantai 'kan, sepoi-sepoi," timpal Kukuh seraya terkekeh.

__ADS_1


"Kalau masih gerah aja dan keringatnya berlebihan, pakai kanebo aja, Om," timpal Reno yang jadi ikut-ikutan tidak jelas, gara-gara tadi bercanda kelamaan bersama abangnya Jelita.


Yang lain ikut tertawa. Sementara Erlan hanya bisa menghela napas panjang, mendapat ledekan dari para keponakan. Sang papa lalu mengisyaratkan agar mereka segera menuju tempat acara pertunangan.


Erlan lalu berjalan menuju hall yang sudah didekorasi dengan indah, dengan didampingi oleh Gilang dan sang istri. Wajah abang sepupu Gilang tersebut terlihat berseri-seri. Senyuman kebahagiaan juga senantiasa menghias di bibir.


Keluarga besar mengiringi langkah mereka bertiga, juga dengan tersenyum bahagia. Nenek Amira yang sudah menganggap Erlan seperti cucu sendiri, juga nampak sangat bahagia. Terlebih sang mama dan sang papa yang sudah lama menginginkan Erlan untuk segera menikah, mereka berdua pun sangat bahagia.


Kedatangan Erlan dan keluarga besar di hall, disambut hangat oleh para tetua di keluarga sang calon tunangan. Mereka langsung mempersilakan dengan ramah agar Erlan dan keluarga duduk di tempat yang telah disediakan. Tidak lama setelah mereka semua duduk, calon tunangan Erlan dan saudari kembarnya muncul dengan diiringi sang mommy.


Erlan terpana melihat kecantikan sang calon tunangan dari kejauhan. "Om. Memangnya, Om Er bisa bedain yang mana Kak Mai dan yang mana saudarinya?" bisik Satria yang duduk di bangku belakang, sambil menepuk pundak omnya.


"Wajah mereka mirip gitu, pasti susah 'kan, Om, untuk bedainnya? Hati-hati lho, Om! Jangan sampai ketukar pas malam pertama nanti. Bisa-bisa, bakalan ada drama keluarga dengan judul, istri yang tertukar kembaran," lanjutnya berceloteh.


Gilang yang dapat ikut mendengar, terkekeh kecil. Sementara Erlan mendengkus kesal. Namun, dia memilih diam karena tidak ada gunanya meladeni keponakannya yang tidak jelas itu, saat ini.


Setelah sang calon tunangan duduk di hadapan Erlan bersama kedua orang tuanya serta saudari kembar Maida, acara pun segera dimulai. pemuda matang itu nampak khusyuk mendengarkan dan mengikuti prosesi acara, sambil sesekali netranya melirik ke arah sang kekasih hati. Gayung bersambut karena ternyata kekasih Erlan itu juga suka-suka curi pendang ke arahnya.


Acara demi acara berlangsung dengan lancar dan khidmat. Termasuk ketika tiba giliran Erlan untuk mengungkapkan sendiri keinginannya untuk meminang Maida. Pemuda tersebut mengatakan dengan tegas dan sungguh-sungguh.


"Dik Mai, kita sudah saling mengenal dan menjalin hubungan serius selama kurang lebih satu tahun. Waktu yang singkat tersebut belum cukup bagiku bisa mengenalmu dengan baik. Oleh karena itu, ijinkan aku untuk belajar mengenalmu lebih dekat dan tanpa adanya sekat sehingga aku bisa mengerti apa mau dan keinginanmu agar aku dapat mengusahakan untuk mewujudkan keinginanmu dan membahagiakan kamu sebagai bentuk ibadah," pinta Erlan, panjang lebar.


Gadis cantik yang duduk di hadapan, membalas dengan anggukan kepala dengan netra berkaca-kaca. Maida sudah mengerti bahwa sejatinya hidup berumah tangga adalah bersatunya dua orang asing yang berkomitmen untuk belajar saling mengenal dan bersama-sama melakukan ibadah terpanjang dalam sebuah ikatan yang sah. Maida merasa sudah sangat siap untuk menjalani ibadah terpanjang tersebut bersama pemuda dewasa yang merupakan kekasihnya.

__ADS_1


Erlan bernapas dengan lega melihat jawaban sang kekasih hati.


🌹🌹🌹 bersambung ... 🌹🌹🌹


__ADS_2