
Sementara di tempat lain, Erlan yang tadi buru-buru mengajak sang istri untuk kembali ke rumah keluarga Gilang setelah sarapan bersama keluarga besar istrinya, kecewa setelah mengetahui bahwa tidak ada seorangpun keluarga yang berada di rumah. Dari penjaga rumah Erlan mengetahui bahwa keluarganya tengah pergi berwisata. Pemuda itu lalu menelepon sang adik sepupu.
"Ge, kalian dimana, sih?" tanya Erlan yang nampak sedikit kesal. Pasalnya, dia sudah bela-belain ngajak sang istri cabut pagi-pagi dan meninggalkan keluarga besar Maida yang masih berkumpul bersama, agar mereka berdua bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar sebelum keluarganya itu kembali ke rumah masing-masing.
Setelah mendapatkan jawaban dari Gilang, Erlan segera mengajak sang istri untuk mengusul keluarganya ke tempat wisata. Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai ke tempat tujuan. Pemuda itu nampak tidak sabar, menyalip setiap mobil di depannya hingga membuat sang istri khawatir.
"Bang, jangan ngebut, dong," pintar Maida seraya mencengkeram cukup kuat lengan suaminya.
Erlan lalu mengurangi kecepatan mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang. "Maaf, Dik. Kamu takut, ya?" Pemuda tampan itu menoleh sekilas ke arah sang istri dan Maida menganggukkan kepala.
"Pelan aja, ya. Mereka pasti nungguin kita, kan?"
Erlan mengangguk lalu tersenyum manis. "Siap permaisuriku."
Perkataan Erlan membuat sang istri tersenyum, tersipu malu. "Apaan, sih, Abang. Seneng banget ngegombal."
"Kamu memang permaisuriku, Sayang. Bidadariku," balas Erlan sambil meraih tangan sang istri lalu mengecupnya dengan penuh rasa sayang.
__ADS_1
"Nyandar sini," pinta Erlan seraya menepuk bahu kirinya.
Maida lalu menyandarkan kepalanya di sana. Wanita belia itu lalu mendongak dan berbisik, "Mai bahagia banget menjadi istri Abang."
"Barusan kamu bilang apa, Yang?" tanya Erlan, pura-pura tidak mendengar. "Coba ulangi sekali lagi," pintanya kemudian, membuat Maida cemberut.
"Enggak mau, ah!" tolak Maida karena malu.
"Ayo, dong, Yang. Sekali lagi, aja," desak Erlan, menggoda sang istri.
Maida tetap menggeleng, tidak mau mengatakannya. Namun, tiba-tiba saja wanita muda itu melabuhkan ciuman di pipi sang suami, membuat Erlan tersenyum senang. Tanpa membuang waktu, Erlan yang baru saja menghentikan mobilnya di lampu merah, membalas dengan mencium bibir sang istri.
Erlan yang menyadari bahwa lampu lalu lintas telah menyala hijau, melajukan mobilnya kembali. Mereka berdua sekilas saling pandang dan kemudian tertawa bersama. Tawa lepas setelah menyadari kekonyolan mereka berdua barusan.
"Yang barusan itu, seru ya, Yang. Aku jadi ingin mengulangnya kembali," ucap Erlan setelah tawanya reda, membuat Maida menghadiahi suaminya itu cubitan mesra di lengan.
"Beneran, Yang. Sensasinya benar-benar beda. Deg-degan gimana, gitu." Erlan kembali terkekeh. Sementara Maida mengangguk, membenarkan.
__ADS_1
"Mereka tadi pasti mikirnya kita ini adalah pasangan mesum, deh, Bang," ucap Maida, kemudian.
Percakapan mereka terhenti ketika mobil yang dikendarai Erlan berbelok menuju area parkir tempat wisata. Erlan kemudian segera turun dan berlari kecil mengitari depan mobil untuk membukakan pintu bagi sang istri tercinta. Pemuda tampan itu lalu menggandeng mesra tangan Maida menuju tempat saudara-saudaranya duduk santai di salah satu stand pameran lukisan di Pasar Seni, Ancol.
Ya, Gilang, sang istri dan para orang tua lebih memilih menghabiskan waktu dengan melihat-lihat aneka karya seni dan kerajinan dari berbagai daerah di Nusantara. Selain menikmati keindahan karya dari para seniman, mereka juga berbelanja aneka kerajinan tangan, diantaranya batik dan tenun. Sementara anak-anak memisahkan diri dan mencari kesenangan masing-masing.
"Satria dan adik-adiknya kemana?" tanya Erlan setelah duduk bergabung bersama mereka.
"Lagi di Atlantis Water Adventure, Er. Mau pada ciblon katanya," balas Mbak Gia, sekenanya. Membuat Gilang dan Ailee mengerutkan dahi.
"Ciblon apaan, Mbak?" tanya Gilang.
Mbak Gia yang menyadari bahwa keluarganya banyak yang tidak mengerti bahasa di daerahnya sana, kemudian tertawa. Mbak Tia, Mbak Erna, dan Budhe Ris pun ikut tertawa.
"Kalau main di wahana permainan air, mau ngapain lagi, Ge? Pastinya, main air bukan?" balas Erlan dengan pertanyaan.
"Kecek, gitu maksudnya ya, Bang Er?" sahut Ailee yang membuat Gilang semakin tidak mengerti.
__ADS_1
"Apa lagi itu, Yang? Ciblon? Kecek?" Gilang menggeleng-gelengkan kepala.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕