Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
No Protes, No Debat


__ADS_3

Kukuh dan Reno protes, mendengar perkataan omnya. Begitu pula dengan Satria. Mbak Gia dan Mbak Tia juga membantu anak-anaknya hingga membuat Gilang menyerah. Apalagi ketika sang istri merajuk, meminta agar mereka semua boleh ikut.


Akhirnya, usai sarapan dan menunggu Kukuh serta Reno selesai mandi, mereka semua kemudian berangkat ke tempat wisata yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sang oma pun turut serta, setelah dibujuk oleh kedua kakak Gilang. Begitu pula dengan Mama Irna yang tidak bisa menolak permintaan sang menantu bungsu, Ailee.


Iring-iringan mobil tersebut melaju menuju ke pantai di utara Jakarta. Di mobil yang dikendarai Gilang, selain sang oma dan Mama Irna, Satria dan kedua adiknya juga ikut di dalam mobil mewah tersebut.


Mobil yang berkapasitas tujuh penumpang tersebut melaju dengan kecepatan sedang karena Gilang tidak mau sesuatu hal buruk menimpa mereka di jalan raya. Dia membawa orang-orang tercinta sehingga harus ekstra hati-hati dalam berkendara. Celoteh ketiga keponakan di bangku paling belakang yang meledek bahwa mobil mewahnya tidak dapat melaju kencang, tidak Gilang hiraukan.


"Om, ternyata mobil om yang seharga hampir dua milyar ini kalah ya, sama larinya siput," ledek Satria sembari tertawa.


Gilang hanya bisa menghela napas panjang.


"Kalah juga, dong, sama mobil yang biasa di pakai sopir untuk antar jemput kita. Ya 'kan, Bang Kuh?" sahut Reno seraya menatap abang sepupunya.

__ADS_1


Kukuh mengangguk, setuju. "Tau, tuh, si Om. Mobil enggak kuat lari kayak gini, dibeli!"


"Bukan enggak bisa cepat, Kuh, Ren. Tapi Om Ge memang hati-hati bawa mobilnya." Bijak, sang oma mengakhiri ledekan mereka bertiga.


"Karena ada Kak Lili, pasti. Makanya Om Ge hati-hati. Sebab, Om Ge tidak mau terjadi sesuatu pada istri tercinta. Om Ge 'kan sekarang bukan lagi beruang kutub kayak kata Kak Lili waktu itu. Om Ge sekarang dah bucin akut. Betul begitu 'kan, Om?"


Celotehan Kukuh di bangku belakang, membuat Ailee tersenyum lalu menoleh ke arah sang suami. Wanita belia itu kemudian menyandarkan kepala di bahu kokoh suaminya. "Benarkah apa yang dikatakan Kukuh, Mas? Kalau boleh tahu, sebesar apa cinta Mas Ge pada Ai?" tanya Ailee tanpa memelankan suara sehingga yang duduk di bangku belakang pun dapat mendengar.


Gilang mencium sekilas puncak kepala sang istri. "Aku tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata, Sayang. Dari cerita mereka tentang aku, tentu kamu sudah dapat menilai sebesar apa rasa sayang dan cintaku kepadamu."


Sang oma dan Mama Irna yang melihat kemanjaan Ailee pada sang suami dan keromantisan Gilang tersenyum senang. Beliau berdua merasa sangat bahagia, melihat kebahagiaan pemuda yang dulu selalu menutup diri pada setiap wanita. Sementara para keponakan di bangku belakang, bercuit-cuit ria, menggoda omnya.


Sejenak keheningan tercipta di kabin mewah mobil tersebut. Tidak ada yang mengeluarkan suara, termasuk ketiga keponakan yang duduk di bangku belakang. Rupanya, Satria dan kedua adiknya tengah sibuk dengan ponsel di tangan masing-masing.

__ADS_1


"Kalau tiap weekend kita liburan dengan pergi piknik kayak gini, pasti seru, ya." celoteh Kukuh mengurai keheningan.


"Om rencananya seperti itu, Kuh," sahut Gilang.


"Wah, yang benar, Om?" tanya mereka bertiga, kompak.


"Iya, tapi kami hanya akan pergi berempat saja dan berwisata tanpa kalian," balas Gilang seraya tertawa dalam hati, sengaja menggoda keponakan-keponakanya. Hal itu membuat ketiga keponakan Gilang menjadi keki.


"Oma setuju, Ge. Kalau ada mereka, suka aneh-aneh yang dibicarakan," timpal sang oma. "Sudah begitu, mereka jajannya juga banyak," imbuhnya sambil tertawa.


Satria nampak ingin melancarkan protes, tapi urung karena sang om sudah memarkirkan mobil di area parkir tempat wisata yang mereka tuju. Gilang lalu menoleh ke belakang dan berkata pada ketiga keponakannya, "no protes, no debat. Ayo, turun!"


Satria dan kedua adiknya hanya bisa menghela napas, pasrah.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2